Nenden Esty Nurhayati, SH., salah satu inisiator Insan Hukum Peduli Bangsa (IHPB) dalam perbincangan, Kamis (18/12/2019)

Jakarta, innews.co.id – Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember 2019 menjadi momentum penting bagi para ibu dan perempuan Indonesia dimanapun berada. Tidak saja sebatas seremonial, melainkan memiliki makna penghayatan yang dalam, baik secara pribadi maupun peran sertanya dalam membangun keluarga, menghasilkan generasi unggul, dan memberi sumbangsih bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Hal ini diutarakan Nenden Esty Nurhayati, SH., salah satu inisiator Insan Hukum Peduli Bangsa (IHPB) dalam perbincangan dengan innews, Kamis (18/12/2019). Nenden mengatakan, “Hari Ibu mengingatkan kita pada momen istimewa yang menandai kebangkitan perempuan atas perannya di bangsa ini.

“Kongres Perempuan 22-25 Desember 1928, menjadi langkah berani kaum perempuan dalam mendobrak tradisi di masa itu. Karena itu, kita harus meneruskan perjuangan para pendahulu yang bertanggung jawab terhadap kualitas generasi penerus,” urai istri tercinta Prof Hikmahanto Juwana ini.

Nenden Esty Nurhayati, SH., salah satu inisiator Insan Hukum Peduli Bangsa (IHPB) bersama sang suami Prof Hikmahanto Juwana

Dikatakannya, generasi unggul akan lahir dari perempuan-perempuan yang berkualitas. Karenanya perempuan sebagai pedidik utama dan pertama anak harus pintar, berkemauan terus belajar dan mengikuti perkembangan ilmu agar mampu menciptakan SDM-SDM yang berkualitas yang mampu menjaga bangsa dan negara ini tetap berdiri tegak dengan jati dirinya.

Secara sederhana, Nenden mentradisikan di Hari Ibu mengirimkan bunga/makanan dengan ucapan terima kasih yang bermakna kepada Ibundanya sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa beliau.

Wanita cantik yang kini mencalonkan diri sebagai Ketua Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Kabupaten Bogor ini meyakini bahwa pada dasarnya setiap perempuan sesuai dengan kodratnya memiliki potensi multitasking. Lewat potensinya tersebut, kata Nenden, perempuan mampu menggali, mengembangkan dan menggunakan potensinya tersebut sebagai pencetak generasi berkualitas. “Banyak wanita sederhana yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Kita harus mau belajar dari para ibu-ibu hebat tersebut,” jelasnya.

Lebih jauh Nenden menguraikan, Dewi Sartika, pernah mendirikan sekolah keutamaan istri, yang melatih perempuan-perempuan untuk siap menjadi istri dan ibu yang mendidik anak keturunannya. Sayangnya sekolah semacam itu saat ini menjadi tidak populer.

“Untuk menjadi seorang ibu harus memiliki bekal yang cukup agar bisa menciptakan generasi berkualitas. Termasuk penguasaan Ilmu Parenting (mendengar, mengamati, memahami, dan melayani anak sesuai dengan kebutuhan si anak),” urai Nenden.

Terkait dengan kemajuan zaman sekarang ini, bagi Nenden, mau tidak mau kita hadapi, bahkan masuk di dalamnya. “Dengan teknologi saat ini kita dengan mudah mengakses dan memanfaatkan berbagai informasi secara positif. Termasuk memanfaatkan akses untuk menguasai Ilmu Parenting, Digital Marketing, dan Ilmu lainnya,” jelasnya.

Tidak itu saja, sambung Nenden, kita juga harus mengetahui dampak negatif dari teknologi informasi, agar tidak terjebak dalam kesia-siaan. Kita harus mampu menguasi teknologi gadget terlebih dahulu sebelum kita memberikan gadget kepada anak.

Disinggung soal perempuan sebagai pemimpin, Nenden meyakini, perempuan dianugerahi penampang perasaan yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Perempuan lebih peka dan penuh kasih sayang. Perempuan mampu mendengarkan dan memahami lebih detail dibandingkan laki-laki. Perempuan dengan multitasking nya juga mampu melihat dan menyelesaikan persoalan dari berbagai segi.

Nenden kurang setuju bila dikatakan perempuan lebih memainkan perasaan daripada logika. Faktanya, perempuan juga memiliki kemampuan untuk bersikap tegas dan mengambil keputusan yang tepat. “Kelebihan seorang pemimpin perempuan adalah mampu menyatukan hati dan logika dalam kepemimpinannya,” tukas Nenden.

Kepada para perempuan Indonesia, Nenden mengajak untuk terus meningkatkan pengetahuan dan wawasan. “Perlu ‘ilmu’ yang cukup guna mencetak generasi unggul. Meningkatkan pengetahuan terus menerus menjadi keharusan. Kebetukan saat ini informasi semakin mudah didapat,” tegasnya.

Selain itu, para ibu dan perempuan Indonesia harus mampu merealisasikan ilmu itu secara tepat. Sebagai pendidik, ibu harus mampu menjadi panutan, contoh, dan teladan yang baik,” pungkas Nenden. (RN)