When I was sad, she gave me a warm hug
When I was happy, she also joined in interest
Maybe I am naughty, she softly reminded me
Even when I made a mistake, she did not hesitate to forgive

That is My Mom

(Saat saya sedih, ia memberi pelukan yang hangat
Ketika saya senang, ia pun ikut berbunga-bunga
Mungkin saya nakal, dengan lemah lembut ia mengingatkan
Bahkan saat saya berbuat salah, ia tak segan memaafkan

Itulah Ibu saya)

Jakarta, innews.co.id – Goresan di atas merupakan ungkapan hati dari Windy dan Wawan. Keduanya adalah buah cinta dari Bram Soebagyo SE., MSi., dan Otty Hari Chandra Ubayani, SH., Sp.N., MH.

Betapa keduanya mengagumi sosok ibundanya tentu menjadi cermin karibnya hubungan antara ibu dan anak.

Kenangan semasa anak-anak masih kecil masih membekas dalam sanubari Otty

“Pekerjaan memang cukup menyita waktu, namun setiap ada waktu selalu saya spent untuk keluarga–terutama anak-anak. Quality time begitu penting bagi kami. Biasanya sebelum pergi ke suatu tempat kita bicarakan sama-sama. Sampai-sampai harus voting segala untuk menentukan destinasi jalan-jalan kita,” ujar Otty mengisahkan kehidupan keluarganya saat ditemui di kantornya yang nyaman di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mungkin ada saat Otty harus pergi ke suatu daerah, namun waktu untuk keluarga itu selalu digantikan saat ia kembali. “Bagi saya, menjadi seorang Ibu adalah sesuatu banget, tidak tergantikan oleh hal apapun,” aku Otty.

Otty Ubayani, rajin berbagi

Ia pun disiplin mengatur waktu, termasuk menghadiri undangan-undangan yang banyak ia terima. “Sebisa mungkin setiap pukul 19.00 WIB saya sudah di rumah,” terang Otty.

Demikian juga soal keterbukaan dengan anak menjadi kunci kedekatan Otty. Bahkan terkadang tugas anak-anaknya pun menjadi ‘tugas’ Otty. Namun, ia bagian dari kebahagiaan menjadi seorang ibu.

Salah satu kunci ketenangan hidupnya ada dengan berbagi untuk sesama

Diakuinya memang berbeda anak-anak dulu dengan sekarang. “Kalau dulu, semua urusan sekolah saya harus tanggulangi sendiri. Tapi kalau sekarang, anak-anak sukanya ‘ngadu’. Namun, Otty justru merasa menikmati hal itu sebagai bagian dari perannya sebagai seorang ibu.

Bunda untuk semua

Sosok dan peran ibu pun sangat dibutuhkan dalam mengelola sebuah organisasi. Bukan tanpa kelemahan, namun perempuan itu cenderung lebih detail.

“Pimpinan organisasi bukan seorang bos, tapi hanya mengatur tata laksana dalam sebuah organisasi. Lebih dari itu, bila dipimpin perempuan, maka kenyamanan akan didapat oleh para anggota. Kecenderungan perempuan kan mendengar keluh-kesah orang. Itu menjadi pintu masuk untuk memberi solusi bagi sebuah permasalahan,” urai Otty.

Otty Hari Chandra Ubayani bersama salah satu diva Indonesia Krisdayanti

Seorang pemimpin perempuan kerap disebut Bunda untuk semua. Tentu berbeda pola kepemimpinan perempuan dan laki-laki. Namun, bila ditelisik lebih dalam, rasanya perempuan akan lebih memakai sense of human-nya ketimbang laki-laki.

Selain itu, kemampuan perempuan mengatur di dalam keluarga pun bisa diaplikasikan dalam berorganisasi. Perempuan cenderung lebih bisa menempatkan the right man on the right place.

Bagi Otty, perempuan juga harus mampu berjejer dengan laki-laki, punya spirit dan kemampuan lebih

Hal positif lainnya, kaum perempuan lebih mampu mengendalikan emosinya. Untuk melakukan sesuatu benar-benar dipikirkan masak-masak. Pun tidak bersifat egosentris, melainkan lebih mengedepankan kebersamaan.

Pun pemimpin perempuan akan lebih memikirkan kepentingan yang lebih luas. Misal, ketika ada pelatihan dalam sebuah organisasi, maka kalau pemimpinnya perempuan tidak akan tega meminta anggotanya untuk bayar mahal. Tapi akan berpikir bagaimana menekan budget, sehingga semuanya bisa ikut.

Otty bersama Kapolri Jend. (Pol) Tito Karnavian

“Jadi, pemimpin perempuan itu bekerja dengan hati,” ungkap Otty seraya mengatakan anggota dalam organisasi adalah ‘anak-anak’ kita yang harus ikut dibesarkan, bukan malah digencet, apalagi dimatikan.

Bagi Otty, organisasi tidak perlu kaya, tapi bagaimana kita dorong para anggota supaya lebih sejahtera dan mapan. “Buat apa organisasi kaya, tapi anggotanya tidak happy,” tandas Otty kritis.

Wanita harus diberi ruang untuk berkarya dan mengapresiasi diri

Begitu juga kalaupun ada iuran bulanan harus jelas feedback-nya bagi anggota. Intinya, kata Otty, harus ada kemanfaatan bagi segenap anggota.

Jadi jelas, konsep pengaturan di keluarga juga bisa dibawa di lingkup organisasi. Bila ada orang yang biasanya hidup sendiri, cenderung dalam organisasi pun bersikap egois dan enggan berbagi.

Otty H.C. Ubayani, perempuan harus terus memperkaya wawasan

Otty mengaku sejak kecil sudah diajar untuk memberi, bukan malah mengambil bagian orang lain.

“Di agama pun kita diajar untuk rajin memberi. Saya yakin bisa sehat dan selamat dalam menjalani keseharian karena sejak dulu setiap hari Jum’at saya pakai waktu untuk menyantuni anak-anak yatim,” imbuh Otty.

Bagi Otty, menjadi perempuan adalah anugerah besar dari Sang Pencipta

Pun demikian di organisasi, lanjut Otty, harus dipakai sebagai wadah berbagi untuk sesama, bukan malah mencari keuntungan diri sendiri atau kelompok. (RN)