Puti Guntur Soekarno Anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi PDI-Perjuangan bicara soal makna kepahlawanan

Jakarta, innews.co.id – Ternyata, nilai kepahlawanan begitu sederhana bagi Puti Guntur Soekarno. Dalam pesan singkatnya kepada innews, Rabu (6/11/2019), Puti menuturkan, “Pahlawan adalah mereka yang berbuat, mewariskan tindakan yang pada generasi setelahnya tindakan itu menjadi berkah bagi semua”.

Dengan wise, Anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi PDI-Perjuangan ini mengingatkan para generasi muda agar tidak meninggalkan sejarah. Sebab, dari sejarahlah kita belajar dan maju. “Berkaryalah untuk bangsamu sesuai peran dan keahlianmu, tak perlu berpikir dan menghitung-hitung atau berharap menjadi pahlawan masa kini atau masa mendatang,” imbuhnya.

Disinggung soal Hari Pahlawan 2019 yang mengusung tema “Aku Pahlawan Masa Kini”, Puti yang sudah 3 periode menjadi anggota dewan ini menjabarkan, itu bisa bermakna kolektif sebagai bangsa, bisa juga bermakna pribadi sebagai individu.

Suasana perjuangan masa lalu merebut kemerdekaan

“Dalam konteks makna kolektif sebagai bangsa, tentu harus kita kaitkan dengan apa cita-cita besar para pahlawan dan pendiri negara ini. Dari situ bisa digali dan diambil makna kolektifnya apa. Misal, dalam cita-cita Indonesia menjadi negara merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Nah,cita-cita itu sudah terpenuhi apa belum dalam praktek bernegara? Kalau belum dan masih harus diperjuangkan lagi, maka ‘Pahlawan Masa Kini’ itu ya yang mempraktekkan perjuangan cita-cita pahlawan dan pendiri negara di era saat ini. Masing-masing bisa berperan sesuai bidang masing-masing. Selagi disitu bermanfaat sosial buat kepentingan lebih besar atau ada efek sosial, maka bisa dibilang seseorang menjadi pahlawan masa kini,” papar Puti.

Dia menambahkan, kan ada istilah: “Hai Bangsa Indonesia, revolusimu belum selesai”. Revolusi apa, bukan revolusi amuk-amukan dan jangan alergi dengan istilah revolusi. Cita-cita revolusi kita Revolusi 17 Agustus 1945 ada dalam Pembukaan UUD 1945 termasuk mewujudkan Pancasila dalam praktek bernegara dan bermasyarakat.

Para pahlawan bangsa

“Revolusi pasti ada musuh revolusi, siapa itu? Karena revolusi kita revolusi Pancasila, maka musuh revolusinya pasti anti Pancasila. Hari ini masih ada nggak? Kalau masih ada, ya berarti makna kolektif Bangsa Indonesia kalau mau jadi Pahlawan Masa Kini ya berjuanglah wujudkan itu, cita-cita yang belum selesai,” seru Puti.

Sementara itu, dalam konteks pribadi, masing-masing individu, warga negara bisa mengambil peran kunci, berbuat untuk kepentingan dan manfaat yang lebih besar (rakyat banyak) atau lingkungan hidup dan kemanusiaan atau bangsa dan negara.

“Kuncinya ada social benefit yang dihasilkan. Kalau hasilnya buat kepentingan pribadi, ya bukan pahlawan dong. Ukurannya kan universal, berdasar perikemanusiaan (mankind). Misalnya, penerima Hadiah Nobel, atau penerima penghargaan Lingkungan, pejuang budaya, pejuang seni, dan sebagainya,” tukas Puti. (RN)