Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)

Oleh : Xs. Budi S. Tanuwibowo*

Ada yang mengatakan, virus Corona atau tepatnya Covid -19 adalah kutukan Tuhan pada sebuah bangsa. Kalau benar demikian, faktanya hampir semua bangsa di dunia terkena, termasuk Indonesia. Bahkan di pusat-pusat lahirnya agama-agama juga tak luput terimbas wabah ini. Jadi pernyataan tersebut keliru, karena tak ada yang luput.

Kemudian muncul pernyataan lanjutan, Tuhan sedang menghukum umat manusia seperti yang dikisahkan atau terjadi di masa silam. Wah, kalau sudah begini yang bisa menjawab hanyalah Tuhan sendiri, tak bisa diwakilkan atau diklaim oleh siapapun mewakili atau atas nama Beliau. Yang jelas, menurut keyakinan penulis, jika pun itu benar dari Tuhan, niscaya bisa dihindari atau diatasi, karena bukankah kita meyakini bahwa Tuhan Maha Kasih dan Penyayang?

Dalam Kitab Mengzi IV A.8.4-5. Kong Zi, Confucius berkata, “…orang tentu sudah menghinakan diri sendiri, baharu orang lain menghinakannya. Suatu keluarga niscaya telah dirusak sendiri, baharu kemudian orang lain merusakkannya. Suatu negara niscaya telah diserang (dari dalam) sendiri, baharu kemudian orang lain menyerangnya.

Selanjutnya ditegaskan, “Bahaya yang datang oleh ujian Tian, Tuhan Yang Maha Esa dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat (oleh kebodohan manusia) sendiri tidak dapat dihindari…”

Dari paparan tersebut jelas ditegaskan bahwa apapun (jika ada) ujian atau hukuman yang datang dari Tuhan dan atau alam niscaya bisa dicegah dan diatasi. Namun jika manusia yang seharusnya mampu menggunakan nalar budinya tidak mau sadar dan meneliti hakikat setiap perkara, bahkan kemudian terjebak dalam bongkahan egonya, maka bencana yang terjadi akan berlipat ganda. Tuhan tidak menguji manusia melebihi batas kekuatannya. Namun si manusia sendiri yang pongah sehingga akibat yang ditimbulkan justru semakin besar, melebar karena menyepelekan, terlambat, atau saling bertikai atau berebut sendiri.

Sekarang wabah itu datang. Namanya virus corona (Covid -19). Tidak menyebabkan kematian besar seperti deman berdarah misalnya. Tapi daya tular atau sebarnya sangat dahsyat. Sudah merebak ke seluruh dunia. Konon sudah menimpa 181 negara.

Surut di Tiongkok, tapi terus menghantam Eropa, terutama Italia. Ada kisah sukses, ada kisah duka. Semua tergantung bagaimana respon dan disiplin pemerintah dan warganya. Inilah yang diingatkan dalam Kitab Mengzi di atas. Manusia sendiri dituntut perannya. Mau menjadi bagian dari solusi atau malah menambah berat dan rumit persoalan? Bagaimana dengan kita sendiri, Indonesia?

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, dengan keanekaragaman adat-istiadat, suku, etnis, budaya, dan agama yang demikian beragam, tentu tidak mudah ketika harus memutuskan sesuatu yang mendasar, drastis, dan menyangkut kepentingan orang banyak. Belum lagi kenyataannya, masih banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, hidup pas-pasan atau harus bekerja setiap hari kalau ingin dapurnya tetap berasap. Ini kendala.

Namun menghadapi virus Covid -19 yang demikian cepat ini tak ada pilihan lain, selain harus bertindak cepat, tepat, dan mengikat dengan segala biaya dan risikonya. Untuk itu, saya share disini dua nasihat Kong Zi, yaitu perlunya persatuan dan prioritas.

Dalam Kitab Mengzi IIB. 1.1. dikatakan, “Kesempatan tak sebanding dengan keuntungan (keunggulan) tempat (geografis). Keuntungan keadaan tempat tak sebanding dengan persatuan orangnya”.

Dalam menghadapi dampak virus yang juga sangat membahayakan secara ekonomi, bisnis, sosial, dan politik ini, kokohnya persatuan, terutama elit politik dan tokoh bangsa sangatlah mutlak diperlukan.

Saatnya Presiden Jokowi mengajak khusus para mantan presiden dan wakil presiden serta bila perlu ditambah tokoh-tokoh lain untuk duduk satu meja mencari solusi terbaik bagi bangsa. Lupakan sejenak perbedaan yang mungkin ada. Sisihkan sejenak persaingan dalam menghadapi kontestasi politik. Ibaratnya rumah bersama sedang terbakar. Padamkan dulu. Jangan dulu kita berebut mau tidur di kamar mana? Kalau rumahnya habis terbakar, tak seorangpun yang akan memperoleh kamar.

Bicara soal prioritas, Kitab Lun Yu IX.19. Kong Zi berkata, “Seumpama membangun gunung-gunungan, bila keadaan memaksa menghentikannya, akan kuhentikan. Seumpama meratakan tanah yang berlubang, meski keadaan memaksa berhenti, aku akan terus melaksanakannya.

Yang dimaksud dengan gunung-gunungan adalah pekerjaan, cita-cita atau proyek baru yang belum menjadi kebutuhan atau kenikmatan orang. Sedang tanah adalah sesuatu yang sudah jadi, menjadi pijakan, dinikmati, menjadi milik banyak orang. Inilah prioritas yang harus dilakukan kala keadaan memaksa atau krisis atau ada kejadian luar biasa seperti saat ini.

Mengacu nasihat di atas, setelah bisa mengajak segenap potensi nasional, hendaknya segera diambil langkah-langkah baru yang selaras dan senafas dengan keadaan memaksa yang kini terjadi. Prioritas dasar yang perlu diambil adalah yang selaras dan senafas pula dengan Mukadimah UUD 1945, yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Di luar apa yang disebutkan dalam pembukaan UUD NRI 1945, apalagi yang tidak mendesak, jangka panjang, masih menimbulkan polemik di masyarakat, didanai dari pinjaman dan atau menyita investasi yang besar dan atau berisiko besar, mutlak ditunda, direvisi atau bahkan dibatalkan. Kondisi Indonesia belum sekuat negara lain–katakanlah Tiongkok atau Jepang yang mempunyai dana berlebihan. Apalagi banyak kebutuhan dasar kita yang masih tergantung impor dari luar negeri. Lagipula, situasi ekonomi dunia niscaya akan berubah pasca Covid-19 ini.

Sementara untuk mengatasi persoalan Covid-19 sendiri kita harus menyiapkan rencana berlapis segera untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi, sampai kondisi terburuk sekalipun. Prioritas paling mendasar yang terkait dengan urusan keselamatan warga, urusan perut, menyangkut ketersediaan bahan pangan, distribusi dan bantuan orang miskin, termasuk mereka yang mendadak menjadi miskin karena berhenti bekerja.

Selain itu tentu masalah kesehatan, terkait ketersediaan obat-obatan, rumah sakit, tenaga medik dan kaitannya. Yang tak kalah penting adalah terjaminnya keamanan dan ketertiban masyarakat dan tentunya pendidikan. Pendeknya perlu disusun rencana dan skenario berlapis menyangkut semua aspek kehidupan, dengan fokus masalah kebutuhan dasar, kesehatan, keamanan, dan pendidikan.

Bila semua rencana berlapis ini bisa disusun atas masukan para tokoh bangsa, saatnya menggalang solidaritas nasional baik dari kalangan bisnis, profesional dan lainnya. Semua harus bisa membantu bahu-membahu. Ini bukan persoalan pemerintah saja, tapi persoalan kita semua. Kalau tidak bisa membantu jangan mengganggu. Rumah kita sudah mulai terbakar. Indikasinya keresahan meningkat, suplai barang terganggu, bisnis melambat drastis, penghasilan menurun, daya beli anjlok, masyarakat miskin bertambah, kurs Rupiah melemah, harga saham jatuh, dan sebagainya. Ambil langkah bersama, koreksi rencana sebelumnya, selamatkan apa yang masih bisa diselamatkan, bersatu. Bersatu!

* Penulis adalah Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)