Js. Liem Liliany Lontoh, SE., M.Ag., tengah memberikan pandangan yang mecerahkan

Jakarta, innews.co.id – Kelompok-kelompok radikalisme dan intoleran terus berupaya menggoyang negara ini. Mengganti Pancasila sebagai dasar negara menjadi gol yang ingin dicapai. Menjadi pertanyaan besar sejauh ini, masih saktikah Pancasila?

Hal itu dikupas tuntas dalam dialog kebangsaan lintas generasi yang diadakan oleh Harakatuna bersama Satu Nusa di Ballroom Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (6/10/2019). Sejumlah pembicara memberikan pemikiran strategis untuk melihat sejauhmana kesaktian Pancasila yakni, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., CBE., (Guru Besar UIN Jakarta), Romo Muji Sutrisno, SJ., (Tokoh Katolik) Faizi (Wakil Ketua sindikasi Media Islam), Freddy Numberi (Tokoh Papua), Sunanto (Ketum Pemuda Muhammadiyah), Arie Kriting, Js. Liem Liliany Lontoh, SE., M.Ag., (Tokoh Khonghucu dan Ketua Matakin Provinsi DKI Jakarta), Jack Manuputty (Anggota Utusan Khusus Presiden Untuk dialog dan Kerjasama Lintas Iman dan Peradaban), Dewi Praswida (Hijaber Milenial), dan Michael S. Prihartono (Founder Satu Nusa).

Dialog kebangsaan di Gedung YTKI berlangsung semarak

Dalam kesempatan tersebut, Liem Liliany Lontoh, secara tegas mengatakan bahwa Pancasila masih sakti. “Selama 74 tahun Pancasila sudah terbukti dapat melewati berbagai cobaan. Ketika ideologi Pancasila dicoba digoyang oleh segelintir orang maupun ormas, banyak pula ormas-ormas seperti Gusdurian, Satu Nusa, Harakatuna, dan lainnya yang siap untuk menjaganya,” ujar Liliany.

Bagi umat Khonghucu sendiri, lanjut Liliany, prinsip hidup yang harus dijalani adalah sesuai dengan sabda Nabi Kongzi agar tercapai damai di dunia adalah harus dapat meneliti hakikat tiap perkara, sehingga cukuplah pengetahuan. Dengan pengetahuan yang cukup akan dapatlah mengimankan tekad, dengan tekad yang beriman akan dapatlah meluruskan hati. Dengan hati yang lurus akan dapatlah membina diri; dengan diri yang terbina akan dapatlah membereskan rumah tangga; dengan rumah tangga yang beres akan dapatlah mengatur negeri; dan dengan negeri yang teratur akan dapat dicapai damai di dunia.

Para peserta tampak khusuk mendengarkan uraian para pembicara

“Karena itu, semua orang mempunyai kewajiban yang sama yaitu, mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok. Dengan demikian paham radikalisme-terorisme yang ada di Indonesia dapat ditangkal oleh sebagian besar masyarakat yang menginginkan keutuhan NKRI,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebagai rakyat yang mencintai negara Indonesia harus bersama menjaga dan merawat nilai-nilai Pancasila, bukan hanya sebagai hafalan belaka, tetapi harus dipraktekkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana diskusi kebangsaan lintas generasi

Mengutip Kitab Mengzi Jilid I B:15.3, “Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi. Tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi. Bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi.”

Liliany menandaskan, di empat penjuru lautan kita semua bersaudara. Indonesia adalah rumah kita bersama, mari kita semua saling menghormati, toleransi dan saling menjaga agar tercapai kehidupan yang damai tentram di bumi pertiwi yang kita cintai.

“Apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain. Dengan demikian di dalam negeri tidak disesali, di dalam keluargapun tidak disesali,” tukas Liliany yang juga dipercaya sebagai selain sebagai pengurus di MATAKIN, Forum Kerukunan Umat Beragama, Forum Kemitraan Religi Kamtibmas juga sebagai pengurus inti di Gerakan Pembumian Pancasila yang kesemuanya saling menjaga agar nilai2 Pancasila senantiasa terawat dan terjaga dengan baik.

Liem Liliany Lontoh (kanan) bersama Me Hoa Ketua DPRD Bangka Belitung dan Dewi Praswida

Dikatakannya, setiap insan harus sesering mungkin mengadakan silaturahmi, baik dengan masyarakat tokoh lintas agama dalam rangka membangun kerukunan dan keharmonisan sehingga secara tidak langsung membantu pemerintah dalam hal kerukunan.

Sementara itu, jhusus untuk Gerakan Pembumian Pancasila yang baru di deklarasikan tanggal 01 Juni 2019 di Tugu Proklamasi, Liliany berharap menjadi wadah untuk menggali strategi dan pendekatan yang efektif bagi semua elemen bangsa dalam mempraktekkan kehidupan ber-Pancasila. (RN)