Susi Andriani, serukan spirit berusaha kepada segenap anggota IWAPI

Jakarta, innews.co.id – Pengakuan  dunia internasional akan kesuksesannya telah tersematkan lewat pemberian penghargaan ASEAN Women Entrepreneur (AWEN) 2018 di Bangkok, Thailand, (10/5) lalu. 

Namanya mencuat melihat keberhasilannya bukan saja mampu membangun bisnis yang mumpuni, tapi juga mengimplementasikan karya-karya nyatanya bagi wanita lain untuk membantu perekonomian keluarga dan pemerintah.

Sosok Hj. Susi Andrianis, S.Sos., S.Psi., MM., dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki berbagai jaringan usaha. Di tengah kesibukannya, Wakil Ketua Umum II Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (DPP IWAPI) ini sedia berbagi pemikiran dan pengalaman dengan innews lewat pesan pendeknya, Selasa, (22/5).

Dalam pandangan Susi, saat ini semakin banyak wanita di Indonesia yang menjadi wiraswasta.

“Ini sinyal yang bagus dan relevan. Di satu sisi, artinya, wanita sekarang telah mengikuti perkembangan zaman, juga dapat membantu perekonomian keluarga. Hal lainnya, para wanita mengikis, bahkan menghilangkan image bahwa kaum perempuan hanya memiliki ketergantungan terhadap kaum pria,” jelas Susi.

Tak heran, kata Susi, banyak pria sekarang yang lebih suka memilih pasangan hidupnya yang sama-sama memiliki karya.

Meski demikian, lanjut dia, kaum wanita tetap harus menjunjung tinggi adab sebagai seorang perempuan. “Tidak boleh ada kata ‘saling’, karena sesungguhnya kesombongan dapat meruntuhkan para wanita itu sendiri. Apa yang menjadi tanggung jawab sebagai seorang perempuan, istri dan ibu dari anak tetap harus dijalankan,” ujar Susi lugas.

Naluri berbisnis

Susi meyakini bahwa sejak dulu kaum wanita telah diperlengkapi dengan naluri berbisnis.

Dia mencontohkan istri Nabi Muhammad SAW yakni Siti Khodijah. “Beliau adalah seorang wanita pengusaha sukses dan mendapatkan jodoh Nabi Muhammad SAW yang juga adalah seorang pengusaha. Bersatunya mereka membawa kesuksesan dalam membangun kesejahteraan umat,” terang Susi.

Bahkan menurut Susi, sosok Siti Khodijah, kalau dalam konteks Indonesia seperti Kartini yang namanya terukir indah dan menjadi teladan oleh generasi setelahnya.

Namun begitu, para wanita—khususnya yang Muslim—harus juga belajar dari Fatimah Az Zahra mengenai kesolehan dan ketaatannya.

Sebagai makhluk sosial, tentu orang tidak bisa hidup sendiri. Pun kian kentara di zaman now, di mana dalam berbisnis ada baiknya para wanita pun bisa bergabung dalam wadah perempuan yang bergerak di dunia bisnis, seperti IWAPI.

Menurut Susi, dengan adanya organisasi wanita pebisnis, tentu akan semakin banyak peluang yang didapat. Tidak hanya bicara bisnis, bagaimana mengelola rumah tangga juga bisa saling berbagi pengalaman. 

Dia mencontohkan dalam mendidik generasi penerus, dibutuhkan seorang ibu yang produktif dan kreatif sehingga dalam membimbing anak-anak tidak bersifat monoton atau ngotot saja. Namun bisa dilakukan dengan penuh kearifan dan kesantunan.

Selain itu, dengan aktifnya para wanita berorganisasi dapat membuka wawasan usaha hingga bisa memperluas jaringan dan mempermudah akses informasi.

Kembali Susi mengingatkan, keluarga tetap nomor satu, harus didahulukan. Untuk hal ini, Susi sudah memiliki pengalaman tersendiri sehingga terbentuk kombinasi yang sehat antara pribadi, keluarga, serta urusan bisnis. 

Karena itu, bagi Susi, penting seorang wanita menjaga keseimbangan dan bersikap proporsional serta melakukan semua dengan profesional.

Selain itu dapat berpijak secara bijak sehingga dapat melahirkan keputusan-keputusan yang bijaksana.

Dirinya juga mengkritisi masih banyak perempuan yang takut berbisnis. Menurutnya mungkin hanya karena kurang percaya diri saja.

Karenanya, kepada para wanita di Indonesia, Susi menyarankan untuk tetap berkarya nyata dan siap serta berani menjalani proses menuju kesuksesan. (RN)