Jakarta, innews.co.id – Sejak 2014 hingga 2018, setiap kali Perayaan Imlek Nasional tidak pernah dihadiri oleh Presiden RI. Padahal, sejak tahun 2000, Perayaan Imlek selalu dihadiri oleh Presiden RI, mulai dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak heran, kerinduan umat Khonghucu untuk dikunjungi Presiden H. Ir. Joko Widodo bak telah memuncak.

Rencananya Perayaan Imlek Nasional 2019 akan diadakan di Theater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, 10 Februari 2019 mendatang dan akan dihadiri lebih dari 1.500 umat Khonghucu dari seluruh Indonesia.

Hal ini disampaikan Budi S. Tanuwibowo Ketua Umum Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) di Sekretariat Matakin, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (24/1/2019) lalu.

Kong Miao, Tempat Ibadah umat Khonghucu di TMII

Budi menerangkan, pada perayaan kali ini akan ada 5 kegiatan yakni bazar rakyat, sembahyang besar di Kong Miao, TMII, peneguhan rohaniwan baru sebanyak 6 orang terdiri dari 1 orang Xueshi, 3 orang Wensi, dan 2 orang Jiao Sheng. Salah satunya Budi Tanuwibowo yang akan dikukuhkan menjadi Xueshi.

Selanjutnya, pelantikan pengurus yang kira-kira berjumlah 80 orang. Terakhir, ada Perayaan Imlek Nasional yang diharapkan bisa dihadiri Presiden Joko Widodo.

Menurut Budi, dalam Matakin akan dibentuk Dewan Mantan-mantan Ketua Umum. Dari tahun 2000 hingga kini, tercatat sudah ada 4 orang yang duduk sebagai Ketua Umum Matakin.

Tema yang diangkat, Tersebarnya Kekayaan Rakyat Akan Memperkokoh Persatuan. “Kami coba memberi gambaran bahwa dalam kehidupan intinya adalah keadilan. Tidak berarti harus sama, namun ada kesempatan dan akses kepada semua pihak untuk mengembangkan dirinya,” kata Budi.

Pesan yang ingin disampaikan, kata Budi, adalah bagaimana kita memperkecil jurang perbedaan antara yang kaya dan miskin. Sehingga yang miskin juga bisa sejahtera.

Sebagai bentuk netralitas dalam Pemilu 2019, Matakin tidak hanya mengundang Paslon 01, tapi Paslon 02 pun diundang untuk hadir. Pun diundang para mantan Presiden.

“Kami ingin berdiri di atas semua kepentingan. Tidak ada yang diistimewakan,” tandas Budi. (RN)