Jakarta, innews.co.id – Kongres Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) ke-7 yang akan diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan, selambatnya Agustus 2018 ini menjadi momentum penting bagi masa depan organisasi ini ke depannya. Hal ini disadari oleh segenap anggota IPPAT. Karena itu, dalam memilih calon ketua umum IPPAT—yang menjadi salah satu agenda penting kongres—tentu harus benar-benar dilakukan dengan kesungguhan hati nurani, bukan karena paksaan atau hal lainnya.

Abdul Samad Sultan, SH

Bagaimana sebenarnya sosok caketum yang bisa dijadikan pertimbangan nanti? Menurut Abdul Samad Sultan SH., PPAT Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, caketum haruslah orang yang amanah, terbuka, transparan, berani membela anggota yang terkena masalah tanpa pilih kasih, mandiri, punya kemampuan atau tidak membebani kas organisasi untuk kepentinan pribadi, serta punya link ke semua instansi/lembaga negara yang ada hubuganannya dengan tugas PPAT.

Hal senada dikatakan Heri, PPAT yang bertugas di Lampung. Menurut dia, seorang caketum yang cocok adalah orang yang lugas, tegas dan mau membantu permasalahan organisasi dan anggotanya.

Heri berharap, ketum yang terpilih nantinya bisa memudahkan jalannya organisasi, sehingga tidak membebankan anggota. Ia mencontohkan soal biaya kongres dan kartu tanda anggota (KTA), anggota bisa dikenakan biaya yang murah.

Lebih jauh Samad menuturkan, dirinya rindu ketum terpilih nantinya bisa mengembalikan marwah IPPAT dan menjadi kebanggaan bagi segenap anggotanya. Selain itu, bisa terwujud organisasi yang beretika dan bermartabat sesuai AD/ART IPPAT. Tentu ini menjadi tugas yang tidak mudah bagi ketum terpilih nantinya.

Ditanya soal harapannya, Samad menegaskan, sangat berharap kongres ke-7 dapat berlangsung sesuai AD/ART dengan baik, sukses, jujur, dan adil serta keputusan yang dihasilkan dapat diterima oleh semua pihak.

Heri harapkan Kongres IPPAT Sukses

Sedang Heri mengatakan, “Dihadiri lebih kurang 3.000-an orang, kongres menjadi pesta demokrasi terbesar dalam organisasi IPPAT yang harus jadi ajang pemilihan yang bebas dan meriah. “Semoga pemilihan bisa berjalan baik dan lancar,” ujarnya. Ia mengusulkan pemilihan ketua bisa dilaksanakan sebelum pukul 22.00 WITA, karena jika lewat dari jam itu akan membebani anggota.

Ketika coba ditelisik lebih jauh mengenai siapa calon yang bakal diusung, entah kenapa keduanya memiliki ‘jagoan’ yang sama, yakni Otty H.C. Ubayani, SH., Sp.N., PPAT senior yang digadang-gadang untuk maju menjadi caketum. Kenapa menjagokan Otty?

Bagi Samad, bila benar Otty benar-benar maju sebagai caketum, maka ini sosok yang baru, karena caketum yang lainnya pernah muncul pada Kongres ke-6 di Surabaya. “Semua calon baik dan punya kemampuan serta kapasitas yang mumpuni. Tapi khusus Ibu Otty, saya memberi apresiasi lebih karena keberaniannya untuk maju. Sebagai wanita, beliau dikenal lembut, tapi tegas, bertangan dingin serta penuh perhatian,” jelas dia.

Sikap Otty yang demikian membuat para anggota IPPAT dari Aceh sampai Papua merasa nyaman dan tenang. “Saya punya keyakinan, beliau bisa membangun IPPAT jauh lebih baik lagi ke depannya. Beliau akan sanggup membuat IPPAT menjadi rumah besar bersama. Beliau akan mampu memajukan IPPAT menjadi organisasi yang bermartabat, beretika, dan menjadi kebanggaan bagi anggota IPPAT,” tukasnya.

Sementara Heri dengan gamblang mengatakan, “Sosok Mbak Otty tepat memimpin IPPAT di masa sekarang ini. Lantaran Mbak Otty sudah menyatakan siap meluangkan waktu dan tenaganya untuk organisasi dan siap membantu anggota dalam segala hal. Mbak Otty selalu menganggap IPPAT adalah bagian dari dirinya jadi harus dijaga dan diurus dengan baik dan benar”. (RN)