Chandra Setiawan bersama istri dan anak bungsunya saat wisuda Bryna Meivitawanli di Wuhan University of Technology

Jakarta, innews.co.id – Memiliki anak yang cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia menjadi impian setiap orangtua. Namun, semua tidak terjadi instan. Ada sebuah proses panjang dan berliku yang harus dilalui, sampai kemudian impian itu bisa diraih.

Seperti yang dijalani Dr. Drs. Chandra Setiawan, MM., Ph.D., ayahanda dari Bryna Meivitawanli, SE.,B.Sc., MBA., Ph.D., yang beberapa waktu lalu meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai peraih gelar doktor dan cumlade termuda.


Chandra dan istri bersama Bryna dalam wisuda Cahyani Fortunitawanli, S.K.H., lulusan dokter hewan cumlaude dari IPB

“Tentu perasaan saya dan mamanya bangga dan bersyukur akan apa yang dicapai Bryna. Tidak hanya Bryna, kakaknya, Ayu Okvitawanli, BCogSc., M.Sc., Ph.D., juga menjadi salah satu lulusan termuda dan kuliahnya mendapat beasiswa. Demikian juga adiknya, Cahyani Fortunitawanli, S.K.H., merupakan lulusan dokter hewan cumlaude dari IPB,” terang Chandra yang juga Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI ini.

Ternyata IQ ketiga putrinya diatas rata-rata, mencapai 140. “Dari mulai kandungan, istri saya benar-benar menjaga dengan memberikan asupan gizi yang baik, pengontrolan yang rutin, juga rajin memperdengarkan musik klasik,” kisah Chandra yang dipercaya sebagai Secretary of Supervisory Board di President University Board ini.

Chandra Setiawan dan istri saat menghadiri pemberian pengharaan MURI kepada Bryna

Diterangkannya, sejak kecil tidak pernah Chandra dan istrinya memaksa ketiga putrinya belajar. “Kami coba memaksimalkan otak kanannya agar tercipta keseimbangan. Salah satunya dengan melibatkan pada kegiatan-kegiatan seni. Ternyata ini sangat membantu sekali,” ujar Anggota Dewan Pendiri Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA) Jakarta ini.

Soal belajar, kata Chandra, ia memberikan kebebasan. Juga tidak pernah ada target bahwa harus meraih juara. “Kami mau anak-anak enjoy dengan dunia belajarnya. Tugas kami hanya memotivasi mereka. Memberi arahan dan memfasilitasi, namun tidak memaksa,” tuturnya.

Chandra dan istri juga menanamkan budaya suka membaca pada anak-anaknya. “Biasanya saya ajak mereka ke toko buku. Juga kami biasakan memberi hadiah buku,” kenang Anggota Dewan Pendiri Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) ini.

Tidak itu saja, Chandra dan istri juga bisa menempatkan diri sebagai teman dan sahabat bagi anak-anaknya. “Mereka bebas curhat apa saja, bertanya hal apa saja. Dan, kami pasti upayakan memberi jawaban. Kalau ada pelajaran yang susah, saat mereka bertanya, tidak pernah saya langsung suruh cari di google. Tapi saya upayakan cari dahulu, baru bila ada yang kurang, mereka tinggal melengkapi. Kami (orangtua) selalu terbuka berkonsultasi dengan anak-anak,” urai Wakil Ketua International Confucian Association (ICA) ini.

Dr. Drs. Chandra Setiawan, MM., Ph.D., berbagi kunci sukses mendidik anak-anak di ruang kerjanya, Senin (2/3/2020) siang

Sebagai orangtua, Chandra juga menekankan nilai-nilai religius kepada anak-anak, dalam hal ini ajaran Confucian sebagai dasar dari agama Khonghucu. “Di dalam Khonghucu ditekankan bahwa sebagai anak punya kewajiban sebagai bagian dari laku bakti (berbakti). Menjaga laku bakti adalah awal dari kebaikan. Ujung laku bakti adalah meninggalkan nama baik. Dalam arti, setiap orang harus berkarya dalam hidupnya,” urai Chandra.

Demikian juga selalu dikatakan bahwa di dalam belajar seolah tidak dapat mengejar dan takut akan kehilangan pula. Itu artinya, belajar merupakan proses yang harus dilakukan berulang, agar tidak lupa.

Di akhir perbincangan, Chandra memberi tips kepada para orangtua agar berupaya memaksimalkan otak kiri dan kanan anak-anak. Selain itu, orangtua harus siap menjafi fasilitator bagi anak-anak. “Buat anak-anak bisa belajar dengan hati, bukan karena paksaan. Buat belajar menjadi menyenangkan, bukan menyebalkan. Anak yang belajar dengan hati akan lebih mudah berprestasi,” tukasnya.

Hal lainnya, orangtua harus menjadi teman dan sahabat. Siap mendengarkan keluhan anak-anak dan rajin bertanya tentang bagaimana di sekolah atau dalam pergaulan. “Anak-anak harus merasa bahwa orangtua adalah fasilitator handal baginya,” pungkasnya. (RN)