Jakarta, innews.co.id – Tidak ada pemimpin yang tidak ditentukan oleh Tuhan. Karena itu, jangan berani-berani menghina pemimpin.

Penegasan itu disampaikan tokoh sosial politik nasional Dr. John N. Palinggi, MBA., dalam sebuah kesempatan jelang Pemilu Serentak 2019 di ruang kerjanya, Rabu (10/4/2019).

Menurutnya, kampanye terbuka dan tertutup sudah dijalankan oleh kedua pasangan calon presiden-wakil presiden. “Apa pun yang terjadi, kita sedang belajar berdemokrasi. Sebetulnya ada hal-hal yang keliru dan tidak pantas dilakukan para pendukung atau tim sukses dimana saling menghina. Padahal, para capres-cawapres sendiri tidak demikian,” kata John.

Penghinaan telah menciderai proses demokrasi yang berjalan. Harusnya, kita bisa saling menghormati dengan pilihan yang berbeda.

“Tidak mungkin sebuah calon bisa meraih kekuasaan tanpa bantuan dari pihak yang kalah. Jadi, kalau sudah selesai pemilihan, maka baik yang menang maupun kalah kembali bersatu untuk membangun negeri ini,” ujarnya.

Harus disadari, tidak harus menghina, apalagi yang bersifat pribadi.

Dikatakannya, kalau nanti sudah ditetapkan KPU siapa pemenangnya, maka secara otomatis pasangan pemenang sudah dilindungi Undang-Undang. Jadi, siapa nanti yang masih menghina-hina pemenang, maka akan berhadapan dengan UU dan hukumannya pidana.

“Tidak akan cukup waktu untuk memikirkan kesalahan orang lain. Tapi bagaimana kita memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain, bangsa, dan negara,” tandasnya.

Menurutnya, tidak ada yang sempurna di negara ini. KPU dan Bawaslu bukan malaikat.

“Masyarakat harus dididik supaya jangan hidup dalam penghinaan kepada orang lain. Itu sama sekali tidak baik. Tidak menjadi berkah dalam hidup,” imbuhnya.

Kalau masih ada hinaan-hinaan kepada orang lain, tandanya para penghina sedang mengumpulkan saham untuk membuat perusahaan yang bernama akar kepahitan hidup.

“Berdosa kalau kita menghina-hina orang lain. Orang-orang semacam itu secara tidak langsung membuang masa depannya,” tutur John seraya berkeyakinan Pemilu akan berjalan dengan baik dan lancar.

Anak bangsa harus belajar memiliki kepercayaan diri. Tidak harus takut dan khawatir. Kalau kberbuat salah baru kita takut. Yang harus dipahami adalah bagaimana kita menyebarkan kasih sayang, kepedulian kepada orang lain.

“Kalai kita mau hidup baik, maka sayangi bangsa ini dan semua warga negara yang ada di dalamnya sebagai sesama ciptaan Tuhan,” tukasnya. (RN)