Bali, innews.co.id – Julius Purnawan mengapresiasi pelaksanaan Konferensi Wilayah (Konferwil) Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT). Baginya, ini adalah bentuk kontinuitas dalam berorganisasi.

“Tidak perlu ada kekuatiran atau keraguan dalam melaksanakan konferwil. Sekaligus menjadi penanda bahwa Kongres VII IPPAT telah berjalan dengan baik, tidak ada kecurangan, mark up, atau hal-hal yang sifatnya melanggar aturan dan tidak ada tata kaidah yang dilewati,” jelas Julius Purnawan, SH., MSi., Ketua Umum PP IPPAT usai pembukaan Konferwil IPPAT Bali, di Gran Inna BaliBeach Hotel, Sanur, Bali, Senin(19/11).

Menurut Julius, gugatan itu lebih sifatnya pribadi yang belum bisa menerima hasil kongres di Makassar.

Lebih jauh Julius menjelaskan, beberapa waktu lalu diadakan rapat koordinasi yang dihadiri para ketua pengwil se-Indonesia. Dan, kata Julius, pada kesempatan itu para ketua pengwil, baik yang hadir atau yang tidak sepakat tidak mempermasalahkan hal-hal yang terjadi pada Kongres VII IPPAT di Makassar.

“Para Ketua Pengwil sepakat menerima hasil-hasil Kongres VII IPPAT di Makassar dan mendukung kepengurusan yang telah terbentuk. Keputusan Kongres VII IPPAT yang dibacakan oleh presidium sudah benar, tidak ada manipulasi,” tambah Julius.

Semua pengurus pengwil, ujarnya, sepakat mempertahankan keputusan Kongres VII IPPAT seterusnya. Sifatnya sah dan mengikat.

Ditegaskan pula oleh Julius, bahwa dalam tata tertib pemilihan tidak ada keharusan tanda tangan, baik dari seluruh presidium, maupun dari saksi paracaketum. Demikian juga soal pemenang telah disepakati bahwa berdasarkan aturan peraih suara terbanyak, bukan 50 persen + 1.

“Begitu juga tidak ada penambahan suara secara global karena sudah diawasi jumlah suara yang tercetak, jumlah daftar pemilih tetap, dan jumlah suara yang dipergunakan. Semua tidak ada yang terlewati. Surat suara yang tidak dipakai sudah disegel,” urainya.

Ditanyan soal pelantikan MKP, Julius mengatakan itu berkaitan dengan AD/ART, bukan tata tertib pemilihan.

Bicara soal reaksi PP IPPAT menanggapi gugatan di PN, menurut Julius, pihaknya tidak ada reaksional. Lebih memilih pasif.

“Kami ingin menciptakan suasana yang aman dan damai serta guyub. Kami tidak ingin membuat orang takut dan kuatir berorganisasi di IPPAT. Kita harus ciptakan organisasi yang kompak, saling menghormati, toleran, dan sebagainya. Jangan sampai organisasi tercemar dengan pemikiran-pemikiran pribadi,” tukas Julius. (RN)