Oleh: Catur Susanto*

Perkembangan demografi Indonesia mengindikasikan bahwa pada rentang 2030-2040, Indonesia akan mengalami masa bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif (berusia dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diperkirakan sekitar 297-an juta jiwa.

Isu demografi menjadi pedang bermata dua, dapat menjadi bonus sebagai momentum untuk melaksanakan akselerasi pembangunan dan melakukan loncatan ekonomi bagi Indonesia atau justru menjadi bencana yaitu, meluasnya pengangguran dengan berbagai implikasinya seperti, kemiskinan, kriminalitas, dan ketegangan sosial politik.

Mempertimbangkan isu ini maka perlu segera dikembangkan strategi dan peta jalan untuk menyambut bonus demografi. Sejalan hal tersebut diatas, tantangan besar khususnya, masyarakat koperasi apabila tidak segera melakukan upaya dan langkah antisipatif sejak saat ini adalah krisis generasi penerus atau kader koperasi.

“Fakta empiris, sinyalemen dalam masyarakat banyak pengurus, pengawas dan bahkan manajemen sebagai pengelola koperasi dan sering muncul stigma serta identik di masyarakat pelaku koperasi banyak didominasi oleh golongan tua (generasi X), bahkan generasi ‘baby boomers’. Pelaku gerakan koperasi dan pemangku kepentingan koperasi harus mulai menyusun ‘grand design’ pengembangan koperasi melalui pola regenerasi dan kaderisasi secara simultan dan berkelanjutan. Ia menambahkan, koperasi memiliki potensi yang sangat besar untuk melakukan penguatan dan pemberdayaan kalangan pelajar, mahasiswa dan pemuda untuk membentuk wadah aktualisasi diri yang positif”.

Satu wadah dan entitas yang tepat adalah melalui koperasi yang berbasis pelajar, mahasiswa maupun pemuda sebagai sarana aktualisasi tersebut. Merancang strategi pembangunan koperasi nasional harus mempertimbangkan pembangunan berkelanjutan mulai dari hulu sampai dengan hilir.

Merujuk visi nasional SDM Unggul, Indonesia Maju serta telah dijabarkan dalam RPJMN 2020 – 2024, maka salah satu faktor determinan dan dominan yang menjadi kata kunci peningkatan daya saing Koperasi dan UMKM adalah Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. Kualitas Sumber Daya Manusia Koperasi merupakan faktor penting mendorong dinamika lingkungan koperasi dalam menghadapi situasi dan kondisi lingkungan yang sangat dinamis. Membangun kaderisasi menjadi keniscayaan bagi keberlangsungan suatu badan usaha. Koperasi Pemuda dan Koperasi Mahasiswa dinilai potensial menjadi wadah kaderisasi koperasi bagi generasi milenial. Kaderisasi dalam dunia koperasi penting dan mendesak di tengah Indonesia yang dianggap mulai mengalami krisis generasi penerus koperasi, jika tidak segera mengambil langkah antisipasi untuk melakukan kaderisasi.

Berdasarkan Data Online Data System (ODS) Koperasi hingga 30 September 2019, jumlah Koperasi Pemuda (Kopeda) sebanyak 301 unit dan Koperasi Mahasiswa (Kopma) sebanyak 255 unit. “Gerakan memasyarakatkan koperasi dikalangan pemuda dan mahasiswa serta mengkoperasikan masyarakat pemuda dan mahasiswa” dengan isu sentral generasi milenial khususnya pada kalangan pelajar dan lingkup civitas akademika sangat potensial dan strategis sebagai target group. Momentum kebangkitan ini salah satunya adalah Proses Aktivasi Koperasi Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang (KOPMA UB) pada era tahun 80-90an sangat berkibar dan eksis, namun hampir 1 dekade terakhir mengalami fase dormansi. Diharapkan momentum kebangkitan KOPMA UB (Kopma UB Reborn), rencananya akan di launching pada tanggal 28 Oktober 2019 sekaligus bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ini mampu memberikan ruang ispirasi dan sekaligus momentum kebangkitan, khususnya gerakan koperasi dikalangan pemuda dan mahasiswa lainnya dalam level nasional.

Fenomena dewasa ini, semakin derasnya arus teknologi dan informasi dengan dalih modernisasi yang masuk ke seluruh lapisan masyarakat khususnya kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda juga memberikan pengaruh sangat signifikan dan cenderung membuat luntur sikap mental, karakter dan jati diri pelajar, mahasiswa dan kalangan pemuda. Berkaitan hal tersebut, peran koperasi mahasiswa dan koperasi pemuda sebagai salah satu solusi alternatif dalam membendung arus modernisasi dan transformasi budaya luar yang saat ini cenderung sangat cepat.

Oleh karena itu, ia mengatakan sebagai koperasi kader, maka Pemuda Koperasi dan Koperasi Pemuda serta koperasi mahasiswa harus mampu menjadi kreator, aktivator, dinamisator dan energizer.
Harus diakui bersama bahwa masa depan gerakan koperasi tergantung dari upaya sistematis membangun kultur dan nilai koperasi di kalangan pemuda. Kultur dan nilai ini dapat kita tanamkan melalui pendidikan bersifat learning by doing, sehingga generasi milenial tidak sekadar mendengar teori-teori koperasi, yang cenderung usang soal model diseminasinya bagi generasi muda. Koperasi harus memberikan pengalaman berharga bagi generasi milenial sejak dini, dengan pengalaman tersebut mereka mampu menjiwai nilai koperasi dalam praktik sehari-hari. Koperasi harus mampu menghadirkan ruang inspirasi bagi keberlangsungan dan eksistensi masa depan generasi muda. Dengan demikian, maka koperasi tidak lagi sekadar menjadi cerita klasik di kalangan generasi milenial, tetapi benar-benar mampu hadir sebagai solusi masa depan pemuda di Indonesia.

Di era digital ini, sebetulnya tidak ada alasan untuk mengatakan koperasi belum populer secara menyeluruh di kalangan generasi milenial. Memasuki era keberlimpahan kemewahan informasi, penyebarannya informasi sangat begitu cepat, mampu menembus hingga pelosok negeri. Fakta dan realitas bahwa generasi milenial adalah generasi yang sangat akrab dengan gadget, yang setiap hari menghabiskan waktu untuk bermain di dunia maya melalui gadget yang dimilikinya.

Diharapkan, koperasi mampu popular di kalangan generasi milenial. Kampanye Koperasi (cooperative campaign) harus dilakukan secara tersetruktur, sistemik, masif dan signifikan, sehingga pemerintah dan elemen/kelompok gerakan koperasi pemuda mampu sinergis dalam melakukan upaya penyadaran koperasi terhadap generasi milenial. Bahkan kecenderungan pada elemen/kelompok justru saling cross section dalam melakukan branding koperasi di kalangan generasi milenial.

Koperasi secara konsepsi dan filosofi hakiki merupakan upaya atas kesadaran menggabungkan diri dalam satu ruang kebersamaan sebagai upaya menyatukan kreativitas dengan harapan dapat meningkatkan performance diri kita setelah berhimpun di dalamnya. Koperasi dapat di kelola menjadi ruang inovasi bersifat produktif guna mengembangkan bisnis bagi generasi milenials dengan memposisikan koperasi sebagai pusat manajemen dari berbagai macam kreativitasnya. Koperasi dapat menunjang bisnis anggotanya melalui layanan konsultasi pengembangan produk, pembangunan jejaring pasar, hingga menunjang legalitas bisnis tersebut. Istilah populernya dapat disebut sebagai provider bisnis bagi generasi milenials. Melalui konsepsi demikian, saya yakin dan optimis akan melahirkan banyak wirakoperasi-wirakoperasi baru (cooperativpreneur) di kalangan generasi milenials sehingga koperasi akan banyak diminati, sebab kehadirannya betul-betul memberikan kontribusi positif bagi masa depan pemuda koperasi dan koperasi pemuda di tanah air.

* Kepala Bagian Data Kementerian Koperasi dan UKM dan Pegiat Koperasi