Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum KOWANI

Jakarta, innews.co.id – Prostitusi online bukan barang baru di negeri ini. Sayangnya, pengungkapan kasus ini selalu mengorbankan kaum perempuan. Padahal, tidak mungkin ada supply kalau tidak ada demand. Diskriminasi gaya baru.

Hal ini dengan tegas dikatakan Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), dalam perbincangan di Jakarta, Senin (7/1/2019).

Menurutnya, tidak adil hanya perempuan yang disuruh ngaku di depan media sembari dikelilingi aparat kepolisian, sementara pemakai (lelaki hidung belang) malah dilindungi.

“Kasihan perempuan, disuruh mengaku dan meminta maaf depan media. Perasaan kita sebagai bagaimana melihat perempuan mengaku di depan media sambil dikelilingi aparat penegak hukum,” ujar Giwo yang juga Vice President International Council of Women (ICW) ini.

“Kowani mengecam keras prostitusi online. Ini harus dihapus dari bumi Pertiwi. Namun, aparat juga harus bersikap adil dengan menindak tegas pelaku, pemesan, serta mucikarinya,” ujar Giwo lantang.

Ditambahkannya, tidak mungkin ada supply kalau tidak ada demand. Karena itu, penanganannya pun harus berimbang.

Lebih jauh Giwo mengatakan, “Kita juga tidak boleh melindungi salah satu pihak, tapi harus berimbang dong. Tindak laki-laki dan perempuan, baik sebagai pelaku, pemesan, maupun mucikarinya. Jangan perempuan dijadikan objek penderita, sementara laki-lakinya dilindungi. Padahal, dia juga sudah berkhianat dengan keluarganya. Demikian juga mucikari harus ditindak tegas”.

Menurut Giwo, sekarang bangsa kita sudah darurat prostitusi online. Dibutuhkan penanganan yang masif dan komprehensif agar masalah ini bisa tuntas.

Kasus prostitusi online yang melibatkan selebritis Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila telah membuka tabir munculnya diskriminasi gaya baru bagi kaum perempuan. (RN)