Duduk lesehan

Jakarta, innews.co.id – Rasa kekecewaan dari sejumlah Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) terhadap proses pemilihan yang terjadi di Kongres ke-7 Ikatan PPAT di Makassar, beberapa waktu lalu, kian membuncah.

“Saya gak habis pikir melihat ruwet dan buruknya pelaksanaan Kongres ke-7 IPPAT di Makassar,” ujar Vonny Purwaka, SH., M.Kn., saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan, Rabu (19/9) malam.

Menurutnya, panitia tidak siap melayani ribuan PPAT yang datang ke acara kongres. “Katanya pakai event organizer, tapi gak jelas juga kerjanya karena goodybag sampai kurang banyak, demikian juga untuk makan, kami harus antri panjang yang membuat kami malas dan lebih memilih makan di luar. Padahal, kami sudah bayar,” jelas Vonny berapi-api.

Ditambahkannya, apalagi melihat proses pemilihan pimpinan IPPAT sangat memalukan. “Pemilih yang jumlahnya ribuan hanya masuk melalui satu pintu. Akibatnya, pada berdesak-desakkan dan banyak yang kekurangan oksigen sampai pingsan,” jelas Vonny.

Vonny Pawaka, SH., M.Kn

Selain itu, ada banyak PPAT yang memilih kembali ke hotel dari pada ikut pemilihan dengan model seperti itu. “Sangat disayangkan kerja panitia yang sangat jauh dari professional,” tandas Vonny.

Hal senada dikatakan juga Nyoman Kamajaya, SH., SpN., “Panitia tidak siap, baik lokal maupun pengurus pusat. Itu nampak dari absensi dengan barcode, kehadiran, jumlah peserta yang berubah-ubah, dan sebagainya”.

Nyoman memprediksi, ada tiga hal yang bisa terjadi, panitia benar-benar tidak siap, ada pembiaran atau ada unsur kesengajaan mengkondisikan demikian.

Ditanya soal rencana menggugat, Nyoman mengatakan, itu menjadi hak dari setiap anggota PPAT. “Silahkan saja,” ujarnya datar. Demikian juga bila ada yang menghendaki Kongres Luar Biasa (KLB).

“Kalau kedapatan cacat hukum, bisa diadakan KLB atau digugat. Itu semua kembali ke anggota saja,” tandas Nyoman. (RN)