Diskusi Keluarga Besar Wirawati Catur Panca yang menghadirkan narasumber (ka-ki), Nia Dinata, Anggiasari, Nafa Urbach, dan moderator Okky Asokawati di Financial Club, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jumat (27/9/2019)

Jakarta, innews.co.id – Upaya mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal positif terus diupayakan Keluarga Besar Wirawati Catur Panca (KB WCP). Ini menjadi bagian dari semboyan ‘Wirawati Bakti Negeri’.

Salah satu upayanya adalah dengan berperan sebagai Ibu Bangsa yang punya tanggung jawab mencetak generasi muda Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme tinggi, cinta tanah air, dan memiliki kesadaran tinggi akan kebangsaannya.

Pia Megananda Ketua Umum Keluarga Besar Wirawati Catur Panca tengah memberikan sambutan pada Gelar Bincang 3 Dunia, di Financial Club, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jumat (27/9/2019)

Sebagai bentuk tanggung jawab, secara khusus KB-WCP bekerja sama dengan Batik Dharma Pusaka mengadakan Gelar Bincang bertajuk ‘Apa Arti dan Cara Mengisi Kemerdekaan di Mata Artis, Difabel, dan Milenial’ yang diadakan di Financial Club, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jum’at (27/9/2019).

Tampil sebagai pembicara Nia Dinata, Anggiasari, dan Nafa Urbach, dan berperan sebagai moderator Okky Asokawati yang juga Ketua Harian Pengurus Pusat KB-WCP. Juga turut hadir perwakilan dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Ir. Nita Yudhi Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi).

Para pengurus Keluarga Besar Wirawati Catur Panca

Nia dalam paparannya mengatakan, generasi milenial diperhadapkan pada tantangan kemajuan zaman yang begitu cepat. Itu harus diimbangi dengan pola pengontrolan sehingga tidak kebablasan. Nia yang dikenal sebagai film maker perempuan yang aktif memperjuangkan isu-isu mengenai kesetaraan gender ini berharap, perempuan Indonesia dapat menjadi pelopor lahirnya generasi yang unggul.

Sementara itu, Anggiasari aktifis difabel perempuan mengatakan, selama ini masyarakat banyak mencibir dan memandang sebelah mata akan keberadaan difabel. “Kami memang memiliki keterbatasan, namun bukan berarti kami tidak bisa berperan aktif bagi bangsa ini,” ujar Anggiasari yang pernah ikut mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI ini.

Di sisi lain, Nafa Urbach menjabarkan tentang bagaimana kaum perempuan bisa berperan aktif dalam menghentikan tindakan-tindakan bullying pada anak. Baginya, setiap anak punya potensi berbeda-beda yang bisa digali.

Para pembicara bersama moderator dan Pia Megananda Ketua Umum Keluarga Besar Wirawati Catur Panca

Usai diskusi, acara dilanjutkan dengan peragaan busana yang menampilkan batik-batik unggulan dari Batik Dharma Pusaka.

Ditemui sebelum acara, Pia Megananda, Ketua Umum KB-WCP menjelaskan, acara ini merupakan sumbangsih KB-WCP untuk terus memupuk jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri para perempuan sebagai Ibu Bangsa untuk mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.

Pagelaran Busana dari Batik Dharma Pusaka

Tidak itu saja, kata Pia, KB-WCP juga memiliki serangkaian kegiatan langsung ke masyarakat. Salah satu yang dikerjakan adalah bagaimana mensosialisasikan masalah stunting kepada para perempuan Indonesia, terutama di daerah-daerah. “Kami turun langsung membekali para perempuan agar mereka juga merasa punya peran bangsa di tengah bangsa ini,” kata Pia.

KB-WCP merupakan organisasi wanita yang dulunya adalah kumpulan para pejuang eks Kelasykaran Wanita, terbentuk Juni 1976 dan disahkan oleh Ibu Negara Alm Tien Soeharto.

Para pembicara dari 3 dunia bersama moderator Okky Asokawati

WCP memiliki arti, Prajurit Wanita Empat Lima. Awalnya, organisasi ini merupakan wadah bagi para pejuang perempuan yang turut merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (RN)