Denpasar, innews.co.id – Seiring dengan semakin banyaknya kelompok masyarakat yang mendirikan koperasi, membuat posisi Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) menjadi strategis untuk dikelola secara lebih baik lagi. Apalagi, jumlah PPKL juga terus bertambah setiap tahunnya.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Untung Tri Basuki pada acara Bimtek Peningkatan Kapasitas PPKL, di Denpasar, Bali, Jumat (29/6).

Menurutnya, untuk meningkatkan kinerja PPKL yang sampai dengan 2017 telah mencapai 1.035 PPKL yang tersebar di 33 Provinsi dan 273 Kabupaten/Kota, maka pada 2018 ini dilakukan kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas PPKL di 31 Provinsi.

Bahkan, lanjut Untung, dengan tidak adanya rekrutmen PPKL pada tahun ini akan dimanfaatkan untuk menata PPKL dan menyempurnakan mekanisme kerja PPKL agar seluruh aktivitasnya di lapangan lebih efektif dan efisien. Salah satu yang telah dibangun untuk menata PPKL tersebut adalah dengan membangun website PPKL yang menjadi database profil PPKL dan menjadi wadah pelaporan serta referensi tentang Perkoperasian.

“Jadi, para PPKL ini nantinya akan membawa brand sebagai Aktivator Koperasi (Cooperative Cyber Activator). Ini juga dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman tentang manajemen perkoperasian secara umum,” imbuh Untung.

Ditambahkannya, seorang aktivator koperasi bukan hanya bertugas sebagai pendata koperasi yang lebih bersifat administratif dan juga bukan hanya memotret kondisi koperasi pada saat PPKL bertugas di lapangan.

“Seorang aktivator akan mendata koperasi yang dibinanya ke dalam suatu system database, sehingga profil koperasi diperoleh dan secara berkesinambungan pembinaan akan didasarkan pada rekan jejak koperasi tersebut,” tandas Untung.

Di samping itu, kata Untung, dalam pertemuan tatap muka dengan koperasi, aktivator koperasi juga akan berperan sebagai penyemangat (motivator) bagi para pengurus, pengawas dan pengelola koperasi.

“Pada saat yang bersamaan, PPKL sebagai aktivator koperasi juga akan bekerja sebagai pendamping (mentor) dan sebagai penghubung (kolaborator) antara koperasi dengan stakeholder lainnya,” ujar Untung.

Lebih dari itu, Untung berharap sebagai media komunikasi dengan koperasi, para PPKL ini akan memanfaatkan media digital sebagai media sharing pengetahuan perkoperasian dan branding koperasi yang menjadi binaannya.

“Pelaku koperasi akan diajak untuk mengelola informasi (knowledge management) di antara koperasi dan stakeholder lainnya,” tegas Untung lagi.

Untung menambahkan, dengan adanya transformasi PPKL menjadi Aktivator Koperasi, diharapkan kinerja PPKL dalam melaksanakan tugasnya memasyarakatkan koperasi dan penyuluhan koperasi dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap citra koperasi di masyarakat yang semakin baik dan terhadap kualitas pengelolaan usaha koperasi.

“Fokus dari Kementerian Koperasi dan UKM terhadap kualitas koperasi diharapkan didukung dengan hadirnya PPKL sebagai aktivator koperasi, karena koperasi akan diajak untuk secara aktif melihat potensi yang dimiliki dan peluang yang dapat dimanfaatkan atas keberadaannya di tengah-tengah masyarakat,” papar Untung. (RN)