Jakarta, innews.co.id – Pengawasan kinerja dan operasional koperasi dinilai sangat penting. Pengawasan itu diantaranya terkait dengan kepatuhan terhadap legal, keuangan, transaksi, perijinan, badan hukum, organisasi, dan sebagainya.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno kepada wartawan di Jakarta, Rabu (6/2/2019).

“Untuk KSP atau koperasi yang memiliki unit simpan pinjam, diantaranya terkait penghimpunan dana anggota, hingga mengontrol penyaluran dana koperasi,” kata Suparno.

Untuk itu, Suparno akan terus mengembangkan Satgas Pengawas Koperasi sebagai lokomotif terdepan dalam pengawasan koperasi di seluruh Indonesia. “Hingga saat ini, kita terus perjuangkan status dari tenaga Satgas ini menjadi jabatan fungsional,” tambahnya.

Suparno menjelaskan, dari total 142.142 unit koperasi di seluruh Indonesia, 99,64 persen di antaranya adalah kewenangan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, untuk melakukan pengawasan, pemeriksaan, dan penilaian kesehatan sesuai dengan UU 23/2004 tentang Pemda. “Sudah ada sebanyak 1.712 orang PNS di setiap provinsi lima orang dan kabupaten/kota tiga orang untuk meningkatkan koordinasi serta pengawasan koperasi,” urainya.

Namun, lanjut Suparno, yang harus menjadi perhatian adalah meskipun tugas pengawasan, pemeriksaan serta penilaian kesehatan koperasi merupakan kewajiban pemda, masih ada pemda yang belum atau kurang mengalokasikan anggaran dan SDM yang kompeten untuk melaksanakan tugas tersebut. “Bahkan, masih bisa dihitung dengan jari jumlah koperasi di wilayah kabupaten/kota yang belum melaporkan keuangannya sebagai satu kewajiban,” ungkap Suparno.

Sementara untuk 516 koperasi berskala nasional yang menjadi tugas Kemenkop, 288 koperasi di antaranya telah dilakukan pemeriksaan.

“Hasilnya, ditemukan permasalahan. Pertama, masalah kelembagaan koperasi yaitu izin usaha simpan pinjam, izin pembukaan kantor cabang, perubahan anggaran dasar, koperasi tidak melaksanakan RAT, belum memiliki peraturan khusus, SOM, hingga SOP”, kata Suparno.

Kedua, jelas Suparno, ditemukan koperasi yang dipailitkan oleh anggota atau pihak ketiga. Sudah ada tujuh koperasi di Jakarta, Jatim, Makassar, dan sebagainya, yang tengah berproses pailit di Pengadilan Negeri. Ketiga, ditemukan masih terbatasnya jumlah Dewan Pengawas Syariah untuk KSP berbasis syariah. (RN)