Bandung, innews.co.id – Saat ini ada dua hal penting yang harus miliki seseorang wirausahawan berkaitan dengan packaging dan e-commerce. Hal ini tentunya berbeda dengan era-era sebelumnya, yang lebih mengutamakan produk.

Hal itu disampaikan Plt Deputi Bidang Pemberdayaan Manusia Rully Nuryanto saat memberikan sambutan di acara bertajuk Pelatihan Vocational Keterampilan Teknis Bagi SDM KUMKM di Hotel Prime Park, Cikutra, Bandung, Jumat (21/9).

“Ini berlaku di semua bidang usaha, contohnya, tahukan warung upnormal. Itukan hanya warung indomie biasa ya, tapi kenapa dia bisa berkembang sedemikian rupa,” kata Rully.

Pelatihan yang diprakarsai Kementerian Koperasi dan UKM, bekerjasama dengan Saung Angklung Udjo ini akan berlangsung selama tiga hari, 21-23 September. Peserta pelatihan 60 wirausahawan muda asal Cimenyan, Bandung dan Padasuka, Bandung.

Selain Plt Deputi Bidang Pemberdayaan Manusia Rully Nuryanto, ikut hadir dalam kegiatan pelatihan hari pertama Pimpinan Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat Udjo, Kabid Bidang UKM Dinas Koperasi dan UKM Pemprov Jabar Ruddy Billah dan tentunya Ketua Panitia Ibu Mas Ayu Nilawati yang juga menjabat sebagai Kabid Pengembangan Peran Organisasi Kemasyarakat pada Asisten Deputi Bidang Peran Serta Masyarakat, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Rully menerangkan, kenapa warung upnormal yang hanya jual mie bisa begitu jaya, kuncinya karena pemiliknya pandai bermain dengan packaging, pemiliknya mengetahui kaum milenial sekarang menilai tempat nongkrong, jaringan wifi dan spot-spot foto menjadi hal utama dalam sebuah usaha, rasa jenis dagangan nomor sekian.

“Pedagang mie kekinian itu, saat ini tidak hanya dilakukan oleh warung upnormal tetapi juga oleh what’s up cafe. Hasilnya kedua warung itu, sama-sama dijadikan tempat kumpul kaum milenial yang akan nongkrong,” terangnya.

Ini menjadi bukti, kaum milenial sekarang tidak terlalu menomor satukan rasa tetapi lebih hal-hal lain diluar rasa, seperti eye catching-nya suatu produk.

“Bicara cemilan, ini juga berpengaruh, ada kemasan bagus tetapi kemasannya sudah dibuka. Akhirnya cemilan tersebut tidak laku, sebab pembeli malas beli,” jelasnya.

Rully juga mengatakan selain packaging, e-commerce juga patut diperhatikan seorang pelaku wirausaha. Pengaruh e-commerce juga sangat penting, untuk meningkatkan pemasaran.

“Jaman dulu, wirausaha harus punya lapak, toko atau outlet sebelum usaha, datang ke toko juga sudah harus rapi atau wangi. Wirausahawan sekarang tidak lagi, bangun tidur sudah bisa dagang,” katanya.

Pimpinan Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat Udjo mengatakan pelatihan vokational ini luar biasa, sayang jatah pesertanya hanya 60. Mereka berasal dari Desa Cimenyan dan Desa Padasuka.

Ide lahirnya pelatihan ini, menurut Taufik juga tidak datang begitu saja, tetapi lewat pertemuan intensif antara dirinya dengan Menteri Koperasi AAGN Puspayoga. “Pertemuannya juga tidak hanya berlangsung satu kali, tetapi sampai tiga kali,” jelas Taufik.

“Peristiwa ini luar biasa, dan kami merasa dihormati. Peristiwa itu bukan tiba-tiba, tapi wujud dari sebuah perhatian yang luar biasa dari bapak Menteri. Awalnya beliau mendatangi tempat kami sampai 3 kali, berbicara santai, bukan sebagai seorang pejabat,” kisahnya. (RN)