Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara)--sebuah wadah relawan pendukung Paslon 01 pada Pilpres 2019 lalu

Jakarta, innews.co.id – Selain terus membina kerukunan antar-umat beragama, tugas lain dari Menteri Agama yang disampaikan Presiden Joko Widodo adalah ikut memberantas radikalisme. Ini tentu bertolak belakang dengan wacana pemulangan 600 anggota ISIS asal Indonesia.

Penegasan ini disampaikan Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara)–sebuah wadah relawan pendukung Paslon 01 pada Pilpres 2019 lalu saat ditanya soal sejatinya tugas Menteri Agama, di Jakarta, Sabtu (8/2/2020).

Menurutnya, sudah banyak korban jiwa rakyat Indonesia akibat ulah teroris, belum lagi kerugian lain. Jadi, rasanya sangat tifak bijak bila ada niatan memulangkan mantan anggota ISIS, karena kepergian mereka pun atas niat sendiri, dan mereka sudah belajar banyak tentang teroris disana. Ini sangat membahayakan.

“Saya sebagai seorang Ibu sangat sedih sekali melihat anak-anak bangsa yang tidak berdosa mereka brain wash sedemikian rupa menjadi monster-monster hidup yang kejam luar biasa. Tetapi semuanya itu merupakan pilihan mereka sendiri, kita jangan menoleh kebelakang,” ujar Putri.

Diingatkan kembali bahwa beberapa waktu lalu, ada ancaman yang mengerikan dari anggota ISIS asal Indonesia yang ditujukan kepada Kepala Negara dan bangsa. “Ini yang harus diselamatkan yakni, keamanan dan kepentingan bangsa yang lebih besar,” tegasnya.

Dengan lugas Putri menuturkan, tanpa disadari ancaman itu sudah dilaksanakan antara lain melalui ideologi yang berlawanan dengan Pancasila serta mental bangsa kita yang sudah dirasuk oleh radikalisme akut. “Saya merasa ‘peperangan’ sudah berjalan, mungkin tidak tampak secara kasat mata, namun medannya melalui mindset mereka yang bisa dipengaruhi,” paparnya.

Diyakini, bila pemulangan itu terjadi, dampaknya sangat mengerikan. Bagi Putri, rakyat sudah lelah karena selama ini dilibatkan pertikaian politik dan kami merasa dipecah belah antara saudara sebangsa dan setanah air Indonesia.

Daripada mengurus 600 orang yang sudah terpapar paham radikalisme, menurut Putri, jauh lebih baik Menag mengurus persoalan agama-agama di Indonesia. “Saya ingat dengan jelas Menag Fachrul Razi melalui pidatonya mengatakan, bahwa dirinya bukan hanya menteri bagi salah satu agama saja, melainkan menteri bagi semua agama di Indonesia. Kami berharap Pak Menteri konsisten atas commitment beliau yang hebat itu,” ucapnya.

Lebih dari itu, Menag bisa fokus dengan apa yang diharapkan oleh Presiden RI, dimana Menag bisa aktif memberantas radikalisme. “Agama adalah alat untuk membuat karakter serta pribadi bangsa kita menjadi suatu bangsa dengan karakter unggul. Disinilah Menag seharusnya berperan, juga menciptakan dan menjembatani kerukunan antar-agama,” urainya.

Ditambahkannya, agama itu indah. Apapun agamanya pasti mengajarkan yang baik, menajamkan hati nurani manusia terhadap kemanusiaan, memperhatikan kepentingan orang lain, saling menyayangi antara satu dengan yang lain.

Menurutnya, jikalau Kemenag membutuhkan bantuan dalam hal hubungan antar-umat beragama, pimpinan umat pasti dengan senang hati mengajarkan sebaik mungkin demi masa depan bangsa mencapai karakter unggul.

Putri menyadari keputusan akhir soal pemulangan gerombolan ISIS tersebut ada di tangan Presiden Jokowi. “Kami percaya akan kebijakan beliau dalam memutuskan sesuatu. Saya berharap kepada rasa cinta akan bangsa dan negara, serta solidaritas bela bangsa yang dimiliki oleh para pimpinan negara. Rasa nasionalis pemimpin bangsa tentu tidak diragukan lagi,” pungkasnya.

Meski begitu, Putri meyakini bahwa sebagian besar rakyat Indonesia akan mendukung keputusan menolak kepulangan mantan ISIS. (RN)