Jakarta, innews.co.id – Tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pemerintah dalam hal memberantas narkoba di Indonesia. Semua pihak haruslah terlibat dalam upaya memerangi narkoba, termasuk di dalamnya para perusahaan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Penegasan ini disampaikan Jefry Tambayong, SH., Ketua Umum Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (Fokan) sekaligus Ketua Umum Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM), sebuah lembaga yang secara eksis memperjuangkan gerakan anti-narkoba di Indonesia, saat ditemui di Sekretariat Nasional GMDM di Jakarta, Rabu (17/7/2019) siang.

Menurut Jefry, saat ini pemerintah begitu konsisten dalam memerangi narkoba. Ini terbukti dengan ditangkap sejumlah bandar besar, sekaligus mengungkap jaringan-jaringan pengedar narkoba sampai ke pelosok-pelosok negeri.

“BNN dan Kepolisian sudah bekerja keras menangani masalah peredaran narkoba ini,” ujar Jefry.

Namun demikian, memang dirasa perlu penanganan dari hulu ke hilir. Jefry mencontohkan soal regulasi. Dengan begitu, tambahnya, gerakan di tingkat atas dan bawah bisa selaras. Selain itu, pergerakan harus simultan.

Lebih jauh Jefry mengatakan, untuk 2019 ini, Hari Anti Narkoba Indonesia (HANI) mengusung tema “Milenial Bersinar Menuju Indonesia Emas”.

“Tema ini harus di break down dalam bentuk aplikatif dan mengena pada masyarakat. Kita tidak butuh lagi jargon-jargon semata, melainkan aksi nyata,” imbuh Jefry.

Ditambahkannya, harus lebih detail dan membumi. “Presiden Jokowi sudah menyatakan ‘Indonesia Darurat Narkoba’, itu sudah baik. Demikian juga sudah mengeluarkan Inpres No. 6 Tahun 2018 tentang P4GN. Tinggal diikuti oleh pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Dia mencontohkan, semua sudah sepakat bahwa pecandu narkoba itu korban dan harus menjalani rehabilitasi. Jadi, semangatnya rehab, bukan memenjarakan. Demikian juga bandar narkoba harus segera dieksekusi, tidak perlu berlama-lama lagi.

Menyikapi tema Hari Anti Narkoba Indonesia 2019, Jefry mengatakan, langkah-langkah edukasi dan mentoring kepada para generasi muda sudah dijalankan oleh GMDM.

Bicara IPWL, Jefry menilai dari sisi jumlah masih kurang. Demikian juga pendanaan, dimana selama ini masih digunakan dana pribadi, sementara bantuan dari pemerintah sifatnya hanya stimulus saja. “Kalau seandainya pemerintah bisa bantu total, tentu dapat semakin menjangkau banyak pihak,” tandasnya.

Jefry mengajak perusahaan-perusahaan untuk juga mau terlibat, menyelamatkan Indonesia dari bahaya narkoba. “Selama ini keterlibatan perusahaan-perusahaan–swasta utamanya– masih sangat kurang. Hanya sebatas event-event saja.

Dalam hal ini, bisa saja pemerintah mengeluarkan regulasi agar dana-dana CSR perusahaan bisa diberikan untuk memerangi penyebaran narkoba di Indonesia. “Bisa saja dana CSR dialokasikan sebesar 5 persen untuk keperluan meminimalkan penyebaran narkoba dan menyelamatkan generasi muda,” imbuhnya.

Jefry berharap, semua pihak bisa bahu-membahu guna memerangi narkoba. “Narkoba itu musuh tanpa wajah. Namun dengan bersatu, saya yakin kita akan sanggup melawan peredaran narkoba di Indonesia,” tukasnya. (RN)