Jakarta, innews.co.id – Saat ini dunia, baik secara makro maupun mikro tengah menghadapi tantangan kapitalisme yang tinggi. Hal ini juga sejatinya disadari oleh para pelaku usaha koperasi di Indonesia. Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain kecuali berbenah diri dan mempersiapkan segala sesuatunya agar mampu bersaing.

Hal ini dikatakan H. M. Andy Arslan Djunaid, SE., Ketua Umum Kospin JASA dalam wawancara tertulisnya beberapa waktu lalu. Menurut Andy, tidak mungkin kita menolak kapitalisme. “Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan daya juang dan daya jual koperasi kita,” serunya.

Salah satu contoh yang mengemuka adalah bank-bank besar yang telah merambah masuk ke pasar terbawah sekalipun yang harusnya menjadi pangsa pasar koperasi. Ini jelas menjadi hambatan bagi pertumbuhan koperasi itu sendiri. Bagi Andy, kalau kita melihat itu sebagai hambatan ya pasti demikian. “Tapi kita harus melihat itu sebagai tantangan yang harus dijawab dengan kerja keras dan inovasi yang tiada henti,” ujar Ketua Umum Pengurus Yayasan Pendidikan Ma’had Islam Pekalongan ini.

Ketika ditanya tantangan apa saja yang dihadapi banyak koperasi di Indonesia, dengan lugas Andy berujar, manajemen dan sistem yang bagus, sumber daya manusia (SDM) yang harus selalu ditingkatkan, memperluas jaringan, selalu mengikuti perkembangan teknologi dan informatika seta memiliki anggota yang loyal. “Itu tantangan sekaligus upaya pembenahan yang harus dilakukan secara terus menerus,” tandas Ketua Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al-Qur’an Buaran Pekalongan ini.

Tentunya dalam hal ini dukungan dari pemerintah penting untuk memperkuat eksistensi koperasi di Indonesia. Karena itu, Andy mengharapkan pemerintah dalam menerbitkan peraturan-peraturan baru bagi koperasi, sebaiknya bisa mendiskusikan terlebih dahulu dengan gerakan koperasi. Ini penting agar dibangun kesepahaman.

Tidak itu saja, Andy berharap dalam perlakuan perpajakan kepada koperasi agar tidak disamakan dengan badan usaha lain atau kalangan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

Sementara itu, Andy dengan tegas meminta spin off antara koperasi simpan pinjam (KSP) konvensional dan syariah yang diatur dalam Keputusan Menteri Koperasi dapat ditinjau kembali lantaran golnya belum jelas.

Menurut Andy, bagi koperasi wacana spin off memerlukan kajian-kajian yang matang dengan konsekuensi plus-minusnya pasca spin off. “Kalau plusnya tidak banyak, kenapa harus dipaksakan? Sementara effort-nya besar sekali untuk spin off. Apalagi hanya karena latah karena yang lain sudah menerapkan spin off,” tuturnya.

Dia menambahkan, “Selama ini Kemenkop belum bisa menjelaskan apa manfaat yang diperoleh setelah spin off tersebut. Koperasi berbeda dengan perseroan terbatas (PT). Jika koperasi spin off, sejatinya dia akan menjadi koperasi yang baru”. (RN)