Jakarta, innews.co.id – Saat ini, bisnis waralaba (franchise) tumbuh bak jamur di musim hujan. Meski begitu, faktanya banyak juga yang harus berakhir dengan ironis. Untuk lebih jelasnya, innews mewawancarai Levita G. Supit., SH., MH., Ketua Umum Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Ita, sapaan akrab Levita Supit, kebanyakan bisnis waralaba yang tutup adalah bisnis yang belum berjalan lama, lalu ‘dijual’ dengan menamakan franchise. Biasanya itu business opportunity (BO).

Oleh karena itu, kata Ita, perlu disosialisasikan lagi ke masyarakat tentang bisnis waralaba, sehingga masyarakat kalau ingin membuka franchise, banyak hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, pertama, bisnis tersebut paling tidak sudah berjalan minimal lima tahun sehingga sudah terbilang balik modal dan menguntungkan.

Kedua, bisnis tersebut sudah memiliki beberapa cabang. Ketiga, dilihat bagaimana pelatihan dan sistemnya serta pola marketingnya. “Bisnis yang sudah franchise biasanya sudah punya jam terbang tinggi dengan sistem dan tim yang sudah ready,” terang Ita.

Bergeser

Diakui Ita bahwa sekarang ini telah terjadi pergeseran dari bisnis offline ke online. “Semua mengarah ke digitalisasi karena itu lebih mempermudah costumer,” kata Ita. Tidak mau ketinggalan, WALI juga mensosialisasikan digitalisasi untuk mempersiapkan para pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya secara digital.

“Sekarang sudah banyak pelaku usaha franschise mulai menerapkan sistem digital sehingga tidak ketinggalan jaman dan berdampak baik bagi usahanya,” imbuh Ita.

Dirinya meyakini waralaba yang menggunakan teknologi akan mempermudah pelaku usaha dalam menjalankan usahanya dan tentu hasilnya bisa lebih maksimal. “Namun, semua tentu harus didukung sumber daya manusia (SDM) yang mampu merealisasikan teknologi tersebut,” seru dia.

Lebih jauh Ita menerangkan, suatu waralaba dikatakan sehat apabila semua sistem waralaba dijalankan secara baik dengan hasil yang baik pula. Juga penting inovasi dan kreativitas, sehingga bisnisnya bisa berkembang serta on the track.

Perbaiki aturan

Bicara soal tantangan waralaba, Ita yang juga dikenal sebagai pengusaha dan lawyer ini mengatakan, bisnis tersebut harus benar-benar memenuhi persyaratan waralaba yang ada di Indonesia.

Sementara tantangan bisnisnya adalah mensupport franchise upaya dapat maju dan berkembang. “Kemajuan franchise menjadi kesuksesan franchisor. “Solusinya adalah mau belajar dan mengikuti pelatihan secara rutin,” saran Ita.

Kepada pemerintah, sebagai Ketua Umum WALI Ita mengharapkan pemerintah dapat memperbaiki peraturan mengenai waralaba. Kabarnya, saat ini tengah digodok antara pemerintah dengan WALI. Revisi peraturan ini nantinya akan lebih mensupport bisnis waralaba di Indonesia. (RN)