Oleh: Catur Susanto

Menurut Meyskens (2010), keunggulan bersaing adalah kemampuan suatu perusahaan untuk meraih keuntungan ekonomis di atas laba yang mampu diraih oleh pesaing di pasar dalam industri yang sama. Menurut Dobele & Pietere (2015), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keunggulan bersaing, yaitu: (i) nilai atau value yaitu, suatu perusahaan harus tahu tentang apa nilai atau value yang diinginkan atau diharapkan oleh calon pembeli, sesuai atau tidak dengan harapan mereka, atau sesuai atau tidak dengan apa yang didapatkan oleh mereka dari produk perusahaan tersebut; (ii) kemampuan untuk menyerahkan produk, yang mencakup kecepatan, penyerahan produk dan sensitivitas terhadap pelanggan; (iii) pantas atau tidaknya harga yang ditetapkan oleh perusahaan terhadap produknya di mata konsumen atau pembeli produk tersebut; (iv) loyalitas konsumen yaitu, terciptanya sekelompok pembeli dalam pasar (segmen) yang akan mengabaikan prodak pengganti dari pesaing, dengan kata lain adanya loyal customer atau pelanggan yang loyal (customer loyalty). Semakin banyaknya perusahaan yang mengkonsentrasikan diri pada bidang usaha dan pasar, berarti mereka memiliki keunggulan yang besar.

Eniola & Ektebang (2015) mengemukakan dua tipe dasar keunggulan kompetitif yang dapat dimiliki perusahaan, yaitu biaya rendah atau diferensiasi. Dua jenis keunggulan kompetitif yang dikombinasikan dengan ruang lingkup kegiatan yang ingin dicapai perusahaan, menghasilkan tiga strategi generik untuk mencapai kinerja rata-rata di suatu industri, yaitu kepemimpinan biaya, diferensiasi, dan fokus. Strategi fokus memiliki dua varian, fokus biaya dan fokus diferensiasi, yaitu: (i) kepemimpinan biaya, yaitu, dalam sebuah perusahaan menetapkan untuk menjadi produsen dengan biaya rendah di industrinya; (ii) diferensiasi, yaitu, sebuah perusahaan berusaha menjadi unik di industrinya sepanjang beberapa dimensi yang dihargai secara luas oleh pembeli; (iii) fokus, yaitu, strategi fokus memiliki dua varian, diantaranya fokus biaya, perusahaan mencari keuntungan biaya di segmen sasarannya dan diferensiasi fokus, perusahaan mencari diferensiasi di segmen sasarannya.

Li et al, (2006), mengemukakan bahwa keunggulan bersaing dapat diukur dengan menggunakan indikator harga, kualitas, delivery dependability, dan time to market. Pertama, harga, sejauh mana perusahaan mampu bersaing dengan pesaing utamanya (Rondeau et al., 2000). Harga adalah salah satu atribut yang harus dievaluasi oleh konsumen sehingga manajer perusahaan perlu benar-benar memahami tentang betapa pentingnya harga untuk mempengaruhi sikap konsumen. Kedua, kualitas, yaitu sejauh mana perusahaan mampu menawarkan kualitas produk dan kinerja yang menciptakan nilai yang lebih tinggi untuk pelanggan (Rondeau et al., 2000). Kualitas produk adalah kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar atau konsumen (Deming, 1982). Perusahaan memiliki keunggulan bersaing dalam aspek kualitas jika mampu menawarkan produk yang berkualitas dan memiliki performa yang baik dan dapat memberikan nilai tambah terhadap pelanggan yang lebih jika dibandingkan dengan pesaingnya (Koufteros (dalam Thatte, 2007) dan Li et al., 2006). Ketiga, delivery depend ability, kemampuan suatu perusahaan dimana dapat memberikan produk secara tepat waktu, dan dengan jenis dan volume yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan (Li et al., 2006). Keempat, time to market, sejauhmana perusahaan mampu memperkenalkan produk baru lebih cepat dari pesaing lainnya (Li, et al., 2006). Li et al. (2006) mengungkapkan bahwa perusahaan harus mampu memperkenalkan produk barunya ke pasar lebih cepat dari pesaingnya. Persaingan dalam dunia bisnis menjadi semakin kompetitif dan menunjukan perubahan yang sangat cepat terjadi dewasa ini, mulai dari kemajuan teknologi sistem perdagangan globalisasi dan stabilitas ekonomi politik dunia (Handfield, 2002).

Persaingan yang semakin ketat mendorong perusahaan untuk lebih mampu memahami perubahan struktur dan memilih strategi yang efektif demi mempertahankan posisi bersaingnya dalam menghadapi kompetitor. Perusahaan dituntut untuk terus bergerak mengikuti perubahaan yang ada serta mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang dinamis dan semakin modern. Perusahaan harus memiliki strategi yang efektif dan efisien agar mampu bertahan dalam persaingan serta mampu mencapai keunggulan bersaing.

Menjawab kompetisi bisnis, suatu keniscayaan terdapat pergeseran perspektif dan paradigma yang digunakan untuk menciptakan kerangka bisnis yang tepat. Dalam paradigma konvensional, keberhasilan bisnis hanya sebatas diukur dari performa finansial saja seperti: tingkat laba, Return on Investment (ROI). Return on Asset (ROA), Return On Equity (ROE) dan rasio kinerja keuangan lainnya. Ironisnya, model bisnis dengan hanya mengandalkan kekuatan finansial terbukti tidak dapat bertahan menghadapi perubahan yang semakin cepat saat ini. Dalam lingkup era modern, bisnis sudah tidak mengenal batasan, baik wilayah, customer, kepuasan, bahkan produk yang dihasilkan. Realitas
tersebut, memaksa Indonesia harus menjalankan kegiatan perekonomian secara terbuka, yakni melalui aktivitas ekspor dan impor barang. Berfokus pada kegiatan ekspor, tidak sedikit badan usaha di Indonesia yang berlomba-lomba merumuskan model bisnis yang paling tepat untuk menyokong bisnisnya agar mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Atas dasar inilah, semakin banyak lini bisnis yang mengadopsi suatu model bisnis yang disebut Global Value Chain (GVC).

Menurut Yuhua (2014), intergrasi UKM dalam Global Value Chains akan memberikan manfaat mikro dan makro. Dilevel mikro, manfaat yang akan didapatkan oleh UKM adalah meningkatkan kapasitas teknis UKM, meningkatkan utilisasi kapasitas operasional dan efisiensi produksi, membangun prestise dan kredibilitas bagi UKM, dan memberikan kesempatan bagi UKM untuk mengakses pasar global. Sedangkan dalam tataran level makro yaitu UKM dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan nilai ekspor, dan membangun cadangan devisa.

Model bisnis Global Value Chain (GVC) yang sedang berkembang saat ini menawarkan keunggulan kompetitif yakni efisiensi kegiatan perusahaan. Hal tersebut diwujudkan dengan spesialisasi dan pembagian risiko antara para pemilik modal. Apabila pemodal bersedia mengambil risiko yang tinggi, perusahaan juga dapat meningkatkan tingkat produksinya (Gereffi dan Luo, 2014).

Berdasarkan tren analisis Data Bank Indonesia, hingga tahun 2009 partisipasi Indonesia dalam Global Value Chain masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Hal tersebut disebabkan oleh masih tertinggalnya Indonesia dalam tiga aspek penentu tingkat partisipasi negara dalam GVC, yaitu: sistem logistik, keterbukaan ekonomi, serta keandalan teknologi informasi dan komunikasi.

Menyinggung permasalahan diatas, salah satu kunci untuk meningkatkan besarnya pencapaian GVC di Indonesia ialah dengan mengembangkan UKM sebagai pelaku ekonomi di Indonesia. GVC juga sangat berpengaruh bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk meningkatkan kualitas produk dan mengembangkan kapasitas usaha. Dengan bergabungnya UMKM ke dalam proses GVC, UKM dituntut untuk memiliki standarisasi kualitas yang tinggi, baik dalam teknologi maupun produksi, sehingga bisnis dapat berjalan dengan lebih efisien. Selain itu, keterlibatan ini juga akan mendorong UKM untuk memperbaiki model bisnis mereka dengan perbaikan akses informasi, seperti akses untuk sumber dana dari pihak luar. GVC juga dapat menjadi sarana UKM untuk lebih berkontribusi lagi pada pertumbuhan ekonomi nasional. UKM akan semakin giat dalam mengembangkan bisnis sehingga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang lebih besar. Dengan demikian, daya saing UKM Indonesia semakin meningkat dan dapat bertarung di pasar domestik maupun internasional.

Di tengah kondisi lingkungan bisnis yang semakin kompetitif dan penuh turbulensi, entitas bisnis dituntut untuk memiliki kemampuan dalam merespon setiap perubahan dengan cepat. Hal tersebut dapat dilakukan jika perusahaan memiliki kerangka bisnis yang tepat untuk menciptakan dan mengelola perubahan tersebut. Global Value Chain menawarkan keunggulan kompetitif yang dapat memacu tingkat efisiensi sehingga perusahaan dapat menghasilkan produk (barang dan jasa) yang berkualitas serta bernilai tambah bagi customer. Akan tetapi, tingkat partisipasi Indonesia dalam Global Value Chain ini masih tergolong rendah. Pengembangan UKM sebagai salah satu pelaku ekonomi di Indonesia dapat menjadi solusi dalam meningkatkan pencapaian GVC di Indonesia.

Kontribusi dari UKM harus lebih diperjelas, utamanya dalam aspek produktivitas serta perolehan profit. Hal ini akan menjadi jalan keluar (way out) yang efektif untuk menciptakan nilai produk yang berkualitas sehingga proses ekspor dapat semakin meningkat, spesialisasi produk dapat tercapai, dan linkage antar-negara terjalin. Dengan demikian, proses GVC dapat tercapai secara maksimal. (*)

* Penulis adalah Aktivis dan Penggiat Ekonomi Kerakyatan