Bekasi, innews.co.id – Jatuh bangun dalam merintis usaha pernah ia alami. Namun, keinginannya yang kuat untuk merubah jalan hidup membuatnya kokoh berdiri hingga hari ini.

Dulu, kehidupan serba wah pernah ia kecap lantaran sang ayah dengan bisnis kontraktornya mengalami kejayaan. Namun, sejak kebangkrutan usaha, tahun 2005, semuanya jadi berubah drastis. Sang ayah pun menghadap Sang Khalik dua tahun setelahnya.

Morat-marit kehidupan pun ia jalani bersama Sang Ibu Yetti Sofwan dan kakak semata wayangnya. Sampai-sampai perabotan rumah pun harus dijual untuk membeli beras. Tamat SMA, Danu Sofwan Founder dan CEO PT Randol Visi Utama pun coba mencari cara agar kehidupannya bisa berubah.

“Pertama yang saya lakukan adalah merubah pola pikir (mind-set) bahwa kalau bukan kita yang merubah nasib sendiri, siapa lagi,” demikian ucapnya dalam hati.

Mulailah Danu meniti kehidupan dengan menjadi reseller. “Produk apa saja saya jual. Sebenarnya saya ingin kuliah, tapi tidak ada biaya. Makan saja susah, boro-boro mikir kuliah,” ujar suami dari Nunu Elhasbu dan ayah dari Razan Aryan Sofwan ini.

Tahun 2013, tercetus di benaknya untuk membuat sebuah brand yang unik dan bisa selalu diingat orang. Ia mengamati jarang sekali ada produk asli Indonesia di tempat-tempat kumpul anak-anak muda zaman sekarang. “Pangsa pasar Indonesia telah terintimidasi oleh berbagai produk luar,” ujar Danu.

Setelah coba ‘berselancar’ di dunia maya, mulailah terbersit di benak Danu untuk mengembangkan dan memodernisasi produk cendol sebagai jajanan asli Indonesia. “Faktanya, cendol masuk 50 besar minuman terlezat di dunia. Saya sempat kaget membacanya,” kata Danu.

Akhirnya, ia putuskan jualan cendol. Tapi yang sudah-sudah, cendol tuh cuma begitu aja, tidak ada menarik-menariknya. Mulailah Danu mengembangkan kreatifitasnya dengan memodifikasi cendol menjadi minuman yang modern. Jadilah ia membrand nama raja cendol (randol).

“Randol adalah penggabungan dua unsur, tradisional dan modern,” kata Danu. Guna memastikan soal ketersediaan bahan baku, Danu harus backpacker menyusuri lima kota di jalur pantura.

Awalnya, Danu berjualan di pinggir jalan bermodalkan gerobak dan tenda di bilangan Pondok Kelapa, Jakarta. Waktu itu, Danu harus menyiapkan modal awal Rp6 juta. “Uang saya kala itu tidak sampai Rp500 ribu,” aku Danu. Kembali dia putar otak. Sampai akhirnya ketemu jalan ia harus mengamen dan menjadi supir untuk temannya. Total satu tahun ia mencari modal membangun randol dan membuat sistem.

Dari situ berkembang pesat dan merambah ke berbagai tempat. Meski begitu, Danu mengaku tidak memiliki dapur pengolahan sendiri. “Kita kerja sama dengan pengrajin cendol yang ada karena memang visi kami, bagaimana kita bisa maju bareng-bareng. Akan tetapi, resep utamanya tetap dari saya,” ungkap pria kelahiran Tasik, 20 Agustus 1987 ini.

Dikatakannya, sekarang ini ada negara tetangga yang mau klaim bahwa cendol adalah produk asli negaranya. Padahal, itu adalah minuman khas Indonesia. “Karena itu saya mengajak para generasi muda untuk mau mempertahankan cendol sebagai minuman asli Indonesia,” seru Danu.

Sejak lama randol sudah difranchisekan. Dengan modal Rp12 juta sudah bisa membuka randol di tempat Anda. Tidak itu saja, Anda akan mendapat lebih dari 45 item barang untuk berjualan mulai dari gerobak, pisau, centong, dan sebagainya.

Danu juga mengatakan, randol adalah pelopor cendol susu inovatif di Indonesia. “Kalau sebelumnya cendol hanya memakai santan, maka kita modifikasi dengan mencampur dengan susu,” terangnya.

Untuk menarik perhatian market, Danu pun memberi nama produknya dengan berbagai nama yang unik. Seperti Kejendol (Keju and cendol), Sundelbolong (Tiramisu Pake Cendol Boleh Dong), Alpundol (Alpukat Cendol), Sibundol (Si Bulat Oreo Cendol), dan sebagainya. Penamaan seperti ini terbukti cukup efektif menarik perhatian masyarakat. Hingga ini tercatat ada 23 produk yang bisa dibuat di Randol.

Penyebaran Randol di Indonesia bisa dikatakan fantastik karena sudah mencapai 780 outlet di seluruh Indonesia, sekitar 80 persen mitranya adalah generasi milenial. “Visi kita salah satunya ingin mencetak pelaku usaha baru di Indonesia, khususnya dari generasi muda. Karena itu, biaya franchise kita juga terbilang terjangkau,” buka Danu. (RN)