Suasana Kongres XXIII INI di Makassar, Sulsel

Jakarta, innews.co.id – Minimnya sosialisasi sistem e-voting menjadi alasan kuat Tim Caketum Otty tidak menandatangani berita acara pemilihan (BAP). Tim menilai ruang kecurangan terbuka.

Hal itu disampaikan I Nyoman Kamajaya, saksi dari Kubu Otty saat dimintai komentarnya mengenai proses pemilihan Ketua Umum Ikatan Notaris Indonesia (INI) dalam Kongres XXIII INI yang diadakan di Hotel Claro, Makassar, Sulsel, Selasa (30/4/2019).

“Kami akan koordinasi kembai untuk menentukan sikap selanjutnya. Tapi yang jelas saksi-saksi dari caketum Otty tidak menandatangani BAP,” aku Nyoman.

Alasannya, seperti dikemukakan Nyoman, karena ini adalah pemilihan pertama secara e-voting, dan minim sosialisiasi. Harusnya jauh-jauh hari dan melibatkan tim IT dari masing-masing caketum untuk melakukan uji fungsi alat yang digunakan untuk e-vote tersebut.

Lanjut Nyoman mengatakan, secara efisien waktu, kami memberikan apresiasi dengan sistem e-voting tersebut. Tetapi mengenai hasilnya kami tidak bisa pastikan kebenarannya karena belum dilakukan uji fungsi baik server, jaringan, program, dan keamanan.

Pemilihan dilakukan dengan tablet yang disediakan oleh panitia sebanyak 30 buah untuk memilih Ketum dan DKP.

Tetap masuk bilik suara dan memilih dengan mengikuti petunjuk. “Memang simple dan cepat, tapi kembali lagi, kebenaran hasilnya. Karena semua Tim Pemilih merupakan orang-orangnya incumbent, dan sistem elektronik sangat mungkin indikasi adanya kecurangannya, dibandingkan sistem manual,” tegasnya.

Apakah ada indikasi mark-up suara? Nyoman mengatakan, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan yang memilih masih oke.

“Tapi kami notaris tidak paham tentang IT. Dan saksi IT dari mbak Otty oleh Timlih (Tim Pemilih) memang diperkenankan melihat dan meminta keterangan dari vendor, tetapi itu tidak maksimal, karena harusnya jauh-jauh hari untuk menguji alat tersebut,” tukasnya. (RN)