Menkop dan UKM Teten Masduki menerima General Manager Koperasi Kredit Obor Mas, Kabupaten Sikka, Maumere NTT, Leonardus Frediyanto di Jakarta, Jum'at (15/11/2019)

Jakarta, innews.co.id – Presentase subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro diminta ditambah lantaran tingginya biaya operasional petugas di lapangan, karena memakai sistem jemput bola ke nasabah. Selain itu, koperasi juga harus memberikan pendidikan literasi keuangan pada calon penerima KUR mikro, terkait dengan manajemen keuangan.

Hal ini disampaikan General Manager Koperasi Kredit Obor Mas, Kabupaten Sikka, Maumere NTT, Leonardus Frediyanto, usai menghadap Menkop dan UKM Teten Masduki di Jakarta, Jum’at (15/11/2019). Menurut Yanto, sapaan akrab Leonardus Frediyanto, pihaknya menyambut baik penurunan suku bunga KUR menjadi 6 persen pada 2020 dari sebelumnya 7 persen, dan plafon KUR Mikro dinaikkan menjadi Rp 50 juta, dari sebelumnya Rp 25 juta, namun ia juga mengajukan usulan berdasarkan kenyataan di lapangan.

Yanto menjelaskan, pada dasarnya penerima KUR di NTT tidak banyak yang ngemplang kredit, terbukti setelah tiga tahun berjalan menjadi penyalur KUR, kredit bermasalah (NPL) KUR di Kopdit Obor Mas kurang 3 persen saja.

Pertemuan Menkop dan UKM Teten Masduki dengan General Manager Koperasi Kredit Obor Mas, Kabupaten Sikka, Maumere NTT, Leonardus Frediyanto di Jakarta, Jum’at (15/11/2019)

Selain meminta presentase subsidi bunga KUR Mikro ditambah, Yanto juga meminta keringanan masa pembayaran IJP (Imbal Jasa Penjaminan) yang dalam aturan harus dibayarkan sekaligus misalnya tiga tahun sesuai kredit kepada penerima KUR, menjadi dibayar perbulan. “Pasalnya jika dibayar sekaligus, likuiditas kami bisa jadi akan terganggu,” jelasnya.

Ia juga mengusulkan adanya KUR pendidikan bagi anggota dan keluarganya. Pasalnya ketika anak-anak anggota KSP ini mau kuliah, membutuhkan biaya cukup besar.

KSP Kopdit Obor Mas adalah satu dari tiga koperasi penyalur KUR. Dua lainnya adalah Kospin Jasa Pekalongan dan KSP Guna Dana Prima, Kab Badung Bali.

Kopdit Obor Mas kini memiliki aset Rp732 milyar dengan jumlah anggota 90 ribu orang dan memiliki 16 cabang. Tahun 2019 ini Kopdit Obor Mas mendapat plafon penyaluran KUR sebesar Rp150 milyar, namun karena permasalahan-permasalahan diatas, penyaluran sampai triwulan III 2019 baru mencapai Rp4 milyar. Kopdit ini memiliki fasilitas Anjungan Tunai  Mandiri (ATM) dan jaringan server data anggota tersambung ke Bank Indonesia serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kopdit Obor Mas juga menjalani audit keuangan secara rutin setiap tahun.

Sementara itu Deputi Bidang Kelembagan Luhur Pradjarto mengatakan usulan dari KSP Obor Mas selaku penyalur KUR alan jadi masukan berharga bagi pemerintah untuk dibahas bagaimana solusinya.

“Yang jelas usulan pertama agar plafon KUR Mikro dinaikkan jadi Rp50 juta sudah dikabulkan dan akan berlaku pada 2020. Yang lainnya akan dibahas di komite kebijakan sistem keuangan,” kata Luhur.

Luhur menambahkan, Kemenkop dan UKM memberikan apresiasi tinggi pada KSP Obor Mas yang telah melakukan spin off dan kini membentuk PT untuk bergerak di sektor produksi. “Ini hal yang bagus, karena KSP juga harus mulai melirik sektor produksi sebagai usaha lainnya,” tambah Luhur. (IN)