Jakarta, innews.co.id – Di lingkungan lembaga pemerintah, bisa dikatakan tidak banyak koperasi karyawan yang terbilang berhasil. Justru di lembaga swasta lebih banyak menunjukkan keberhasilan. Salah satu penyebabnya adalah jumlah karyawan di lembaga pemerintah yang tidak banyak.

Namun, berbeda ketika bicara Koperasi Pegawai Bappenas. Koperasi ini mampu berkembang pesat, di tandai dengan berbagai unit bisnis yang dikelolanya.

Koperasi yang pengurusnya digawangi oleh Reghi Perdana ini memiliki aset hingga Rp 26,3 miliar pada 2017. Ada lima unit usaha yang dikelola, yakni unit simpan pinjam, toko, kantin, travel, unit usaha otonom penyelenggara tes potensi akademik (UUO-PT). Pengelolaan seluruh unit usaha berkembang baik terutama travel dan UUO-PT yang menjadi mesin pendulang omzet bagi koperasi.

Menurut Reghi Perdana di Jakarta, Kamis (5/7), pencapaian itu didapatkan karena menyerahkan pengelolaan koperasi sehari-hari pada manajemen profesional. “Jika mengandalkan kami sebagai pegawai Bappenas untuk menjalankan koperasi tidak mungkin. Selain harus mengutamakan pekerjaan sebagai PNS, birokrat sulit berbisnis, usahanya akan tersendat. Karena itu, koperasi harus dikelola tenaga profesional,” kata Reghi.

Dalam hal ini pengurus koperasi membuat struktur organisasi pengelola yang terdiri dari Corporate Secretary dan dibantu oleh dua manajer serta sejumlah karyawan yang direkrut dari luar instansi Bappenas. Mereka yang bertanggung jawab menjalankan operasional koperasi sehari-hari. Pram Priya Nugraha, seorang profesional dari swasta didapuk sebagai Corporate Secretary menjadi pilot yang dituntut untuk kreatif memperluas bidang usaha koperasi.

Pram mengatakan koperasi karyawan/pegawai sesungguhnya wadah usaha yang sangat potensial karena sudah tersedinya captive market. Potensi pasar ini yang menurutnya perlu digarap secara benar sehingga memberikan berbagai manfaat bagi anggotanya. Dicontohkan, PNS banyak melakukan perjalanan dinas, merupakan peluang yang sangat besar bagi unit usaha travel dari koperasi. “Jika koperasi dapat menawarkan harga tiket yang bersaing dengan harga travel lainnya, pasti akan beli di koperasi. Lagi pula, keuntungan pembelian tiket akan kembali ke anggota,” kata Pram.

Begitu juga juga kantin dan usaha rental mobil, yang pasti sangat dibutuhkan. Namun, menjalankan semua unit usaha ini kuncinya adalah koperasi harus mampu memberikan layanan berkualitas dan mengikuti aturan.

Meski di lingkungan Bappenas, Pram menegaskan koperasi tidak mendapat keistimewaan untuk menjalankan usahanya. Koperasi harus benar-benar bersaing termasuk jika ingin ikut tender apapun di lingkungan Bappenas.

Usaha lain yang memberikan benefit besar bagi koperasi adalah unit usaha otonom penyelenggara tes potensi akademik (UUO-PT). Uni usaha ini mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp6 miliar. Memang unit usaha koperasi ini cukup dikenal masyarakat, bahkan sudah melakukan kerja sama dengan ITB dan UGM dalam menyelenggarakan tes masuk pasca sarjana. Selain itu, UUO-PT juga menyelenggarakan tes promosi maupun rotasi, tes penerimaan pegawai baru di lingkungan pemerintahan, swasta dan BUMN.

Saat ini jumlah anggota Koperasi Pegawai Bappenas mencapai 871 orang, sekitar 70% dari seluruh pegawai Bappenas. Menjadi anggota koperasi cukup memberikan manfaat, namun anggota juga harus aktif melakukan pembelanjaan atau transaksi di koperasi akan mendapatkan poin. Selanjutnya poin kemudian diperhitungkan saat pembagian SHU. “Untuk tahun buku 2017, koperasi membagikan SHU hingga Rp 1,3 miliar,” kata Pram. (RN)