Ruteng, innews.co.id – Koperasi dipercaya dapat menjadi solusi pemberdayaan ekonomi masyarakat, karena Koperasi membuka seluas-luasnya ide-ide yang inovatif dari anggota untuk dituangkan dalam rencana bisnis yang disepakati bersama.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Pengawasan Kemenkop dan UKM, Suparno, saat memberikan sambutan pada upacara Peringatan HUT Koperasi Tingkat Provinsi NTT ke-71 di Kantor Bupati Mangarai, Ruteng, NTT, Sabtu (7/7).

Suparno mengaku bangga atas prestasi yang telah dicapai oleh beberapa koperasi di NTT. Juga mengapresiasi kepedulian masyarakat NTT terhadap koperasi karena ada puluhan ribu orang yang bergabung dalam sebuah koperasi.

“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Bapak Gubernur Nusa Tenggara Timur, yang telah berkomitmen untuk mendukung pemberdayaan koperasi di NTT ini, sehingga Koperasi menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi di NTT ini,” kata Suparno.

Dia menyebutkan, sedikitnya 6 koperasi di NTT yang masuk dalam jajaran 100 Koperasi Besar di Indonesia, seperti Kopdit Pintu Air, Kopdit Obor Mas, Kopdit Sangosay, Kopdit Swasti Sari, Kopdit Kasih Sejahtera dan Kopdit Ankara.

Optimisme Suparno tersebut terjawab jika mencermati data sosial ekonomi strategis Badan Pusat Statistik Tahun 2018 yang mencatat pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2017 sebesar 5,16 persen atau masih di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,07 persen.

Selain pertumbuhan ekonomi, masalah kesenjangan ekonomi di masyarakat, yang diukur dengan Gini Ratio. Untuk NTT, tercatat sebesar 0,359 atau masih lebih baik dari Gini Ratio Nasional sebesar 0,391. “Angka mendekati 0 berarti tidak ada kesenjangan ekonomi,” tegas Suparno.

Suparno juga bicara soal Reformasi Total Koperasi yang dilakukan melalui 3 pendekatan.

Pertama, Reorientasi Koperasi, yang bermakna bahwa orientasi koperasi sekarang adalah pada kualitas koperasi, bukan lagi kepada kuantitas koperasi, sehingga para pembina koperasi baik di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota mulai saat memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat yang akan mendirikan koperasi serta pembinaan kepada koperasi yang ada, berorientasi kepada bagaimana membangun koperasi yang berkualitas, yaitu yang mencakup kualitas kelembagaan, usaha dan keuangan koperasi, sehingga koperasi menjadi sehat, maju dan berkembang.

Kedua, Rehabilitasi Koperasi, maksudnya adalah bagaimana pendataan koperasi di seluruh Indonesia dibenahi, sehingga database Koperasi Indonesia dapat ditampilkan sebagaimana kondisi riil di lapangan. Salah satu outcome dari Rehabilitasi ini adalah sampai saat ini pendataan Koperasi Aktif sebanyak 152.714 unit dan koperasi yang telah melaksanakan RAT sebanyak 80.008 unit. Bagi koperasi aktif dan koperasi yang baru berdiri kami memberikan NIK (Nomor Induk Koperasi) dan tercatat dalam Online Data System (ODS).

Ketiga, Pengembangan, yaitu bagaimana seluruh kebijakan, program dan kegiatan yang dilaksanakan di setiap level Pemerintahan fokus kepada pengembangan koperasi, sehingga dalam skala usahanya, koperasi juga dapat naik kelas, dari skala usaha mikro menjadi kecil, menjadi menengah dan besar.

“Pencapaian selama 3 (tiga) tahun terakhir Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM tercatat bahwa kontribusi Koperasi terhadap PDB Nasional tahun 2016 mencapai 3,99 persen. Selanjutnya pada tahun 2017, diperkirakan kontribusi anggota koperasi terhadap PDB Nasional sebesar 4,48 persen, atau meningkat 0,49 persen,” tutup Suparno. (RN)