Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., tengah memberikan sambutan dalam diskusi bertema “Peran dan Upaya Kowani Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan KIA” yang diadakan oleh Universitas Fort De Kock, Bukittinggi dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM berkaitan dengan Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN), di Hotel Novotel, Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat, 19-20 November 2019

Padang, innews.co.id – Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dalam melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak, harus menggandeng organisasi kewanitaan yang eksis di negeri ini, salah satunya adalah Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).

Hal ini dikatakan DR. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, MPd., Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang menjadi narasumber dalam diskusi bertema “Peran dan Upaya Kowani Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan KIA” yang diadakan oleh Universitas Fort De Kock, Bukittinggi dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FKKMK UGM berkaitan dengan Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN), di Hotel Novotel, Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat, 19-20 November 2019.

Giwo Rubianto menjelaskan Kowani merupakan federasi yang beranggotakan 96 organisasi perempuan dengan 60 juta anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., serukan pemerintah gandeng KOWANI implementasi program ke masyarakat

“Sesuai dengan arahan dari Presiden Jokowi dalam pidatonya 14 Juli 2019, yang salah satunya adalah soal Pembangunan Sumber Daya Manusia dengan menjamin kesehatan ibu hamil, bayi balita anak usia sekolah, penurunan stunting, kematian ibu dan bayi, peningkatan kualitas pendidikan, vokasi (penguasaan keahlian terapan tertentu), membangun lembaga manajemen talenta Indonesia dan dukungan bagi diaspora bertalenta tinggi.

Selain itu, dalam Visi Indonesia 2019-2024, salah satu dari 5 tahapan besar yang menjadi prioritas adalah “Jangan sampai ada stunting, Kematian Ibu atau Kematian Bayi yang Meningkat”.

Kowani sudah sejak lama concern terhadap persoalan ini. Bagi Kowani, perempuan sehat, maka Indonesia juga sehat. Salah satu dari 19 Program di Kowani yang terkait dengan peningkatan mutu pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak diantaranya ada pada Bidang Sosial, Kesehatan dan Kesejahteraan keluarga.

Di bidang sosial diupayakan membina kader-kader pekerja sosial dari organisasi anggota dan dari lingkungan masyarakat. Sedang di Bidang Kesehatan, mengupayakan terwujudnya peningkatan kesehatan masyarakat dengan PHBS dan program-program lainnya, dan meningkatkan kesehatan secara berkelanjutan sejak janin, balita, anak, remaja hingga lansia.

Sementara di Bidang Kesejahteraan Keluarga yakni, meningkatkan tercapainya kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan anggota keluarga, terutama perempuan dan meningkatkan ketahanan keluarga menuju kesejahteraan keluarga.

Lebih jauh Giwo menguraikan bahwa Indonesia memiliki peluang mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030, dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sangat besar, diperkirakan mencapai 70 persen dibandingkan jumlah penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) yang hanya sebesar 30 persen.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., tampil sebagai narasumber pada Forum Nasional

“Bonus demografi dapat mendatangkan keuntungan dan kemajuan bila kita mempersiapkannya dengan baik. Namun di sisi lain dapat menimbulkan masalah,” kata Giwo.

Untuk menyambut bonus demografi tersebut, lanjut Giwo, perlu persiapan. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah kesehatan yang dapat diinisiasi dari peningkatan kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan.

Kesetaraan gender

Lebih meluas bicara soal kesetaraan gender, Giwo menjelaskan, Indonesia masuk dalam peringkat 10 besar dalam kesetaraan gender di Asia.

“Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan perlu melibatkan organisasi masyarakat sipil khususnya organisasi-organisasi perempuan di akar rumput untuk menyuarakan isu-isu gender dan melibatkan perempuan di akar rumput dalam seluruh proses pembangunan,” kata Giwo.

Dikatakannya, Kowani dengan anggotanya melalui organisasi perempuan di tingkat daerah seperti BKOW dan GOW, telah menyuarakan hal tersebut, khususnya hal yang berkaitan dengan isu kesehatan bagi Ibu dan anak.

“Kowani dapat menjadi garda terdepan menjadi agen perubahan, yang berperan penting untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. Kowani telah mengupayakan penyelesaian tantangan sosial terkait kesetaraan gender dengan cara advokasi, sosialisasi, peningkatan kapasitas, pelibatan remaja dan kemitraan,” papar Giwo. (RN)