DR. John N. Palinggi, MM., MBA., pengamat sosial kemasyarakatan nasional saat dimintai komentar di ruang kerjanya di Jakarta, Kamis (13/2/2020)

Jakarta, innews.co.id – Wacana pemulangan sejumlah eks anggota ISIS begitu heboh akhir-akhir ini. Para elit angkat bicara. Padahal, masalah rakyat yang terdampak tanah longsor dan banjir masih mengemuka, butuh perhatian dan solusi. Belum lagi masih banyak anak-anak yang kehilangan orangtua dan hidup di jalan. Ibarat gajah di pelupuk mata tak tampak, sementara semut di seberang lautan kelihatan.

Hal ini disampaikan DR. John N. Palinggi, MM., MBA., pengamat sosial kemasyarakatan nasional saat dimintai komentar soal wacana pemulangan eks anggota ISIS yang heboh menghiasi banyak pemberitaan.

“Kalau benar ada 600 orang, seperti yang diwacanakan, siapa-siapa namanya? Darimana data 600 itu? Kita belum tahu jelas mengenai hal itu. Jangan seperti orang dungu, mengomentari sesuatu yang belum tahu pasti,” kritik tajam John Palinggi saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Nasib anak-anak jalanan yang harus mendapat perhatian besar

Menurutnya, tidak perlu membicarakan hal-hal yang belum jelas. “Kita itu senangnya membuat ‘rusuh’ dalam masyarakat dan menciptakan instabilitas melalui misleading information. Apanya yang pro kontra, datanya pun tidak jelas,” serunya.

Ditambahkannya, kenapa kita tidak bicara soal masih banyaknya rakyat yang terdampak banjir atau terkena tanah longsor. Juga bagaimana soal virus korona yang mengancam perekonomian, termasuk dunia pariwisata, dan hal-hal lainnya. “Saya rasa itu yang lebih bermanfaat dibicarakan daripada pemulangan eks anggota ISIS,” tandas Sekjend BISMA–wadah kerukunan antar-umat beragama ini.

Lebih jauh John mengatakan, kita tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan ISIS di Suriah. Tapi, terlalu pagi membicarakan hal ini karena tidak ada data sedikitpun yang bisa kita dapatkan mengenai 600 orang itu. “Sangat tidak tepat bila sesuatu yang masih sumir ini sudah diwacanakan ke publik yang membuat masyarakat jadi gundah gulana. Apakah negara kita harus selalu hidup dalam informasi yang menakutkan seperti itu?” kata John.

Bahkan John memastikan, pemulangan eks ISIS belum dibicarakan kalangan Istana. Tidak ada sedikit pun. Jangan seolah-olah dikatakan Menteri Agama mau memulangkan. “Kenapa seperti ada elit yang kebakaran jenggot di luar sana, bicara soal hak asasi manusia lah. Sebaiknya elit itu bicara HAM untuk orang-orang yang terendam dan rumahnya porak-poranda diterjang longsor. Belum lagi nasib anak-anak yatim piatu, yang hidup di jalan lantaran tidak ada lagi orangtuanya. Urus saja dulu masalah-masalah anak bangsa yang ada di depan mata. Itu juga termasuk HAM bukan?” seru John.

Rakyat korban tanah longsor di Sukabumi, Jawa Barat

Diingatkan pula untuk tidak memanfaatkan situasi dan wacana itu untuk menyerang atau mendeskreditkan pemerintah. John menambahkan ada 5 perang yang dikenal di dunia ini yakni, perang psikologi, perang dagang, perang mata uang, perang biologi, baru perang nuklir. “Sekarang kita banyak berperang psikologi dengan sesama anak bangsa. Masak harus demikian?” lanjut John.

Karena itu, John meminta semua pihak (khususnya para elit) untuk memikirkan berbagai persoalan yang terjadi di tengah bangsa ini. “Jangan muncul di televisi, berbicara begitu hebat, padahal sebenarnya kelihatan dangkal berpikirnya karena berangkat dari ketiadaan data,” sindir John lugas.

Presiden Joko Widodo sendiri sudah menyatakan tidak. Artinya, hal itu memang belum dibicarakan tuntas. “Kita percayakan hal itu kepada pemerintah untuk mengatasinya. Dalam berbicara, kita harus punya validasi data yang tinggi dan akurat. Tidak asal bicara,” cetus John.

John menantang, “Kalau ada yang punya data lengkap 600 anggota Eks ISIS asal Indonesia, saya siap dipertemukan”.

Demikian juga John berharap media-media di Indonesia bisa lebih bijak lagi dalam menaikkan isu-isu. “Harus ada filterisasi terhadap pemberitaan. Jangan sampai berita-berita yang naik hanya membuat heboh, tapi kurang mencerdaskan masyarakat,” pinta John.

Dia juga mengajak semua pihak menjaga kerukunan sebagai modal dasar pembangunan. Kalau terus menerus tidak rukun, bangsa ini akan semakin melarat, dan pada akhirnya terjadi disintegrasi wilayah. “Kebanyakan orang di bangsa ini sukanya mengurusi masalah di negara lain, sementara tidak tulus mengurus masalah dalam negerinya. Itulah orang-orang yang memproduksi akar kepahitan dan orang itu tidak akan bahagia,” pungkas John. (RN)