Maimuddin (32 tahun) salah satu pelaku UKM produksi makanan ringan khas Makassar dengan label Dua Phinisi memberikan testimoni program Kementerian Koperasi dan UKM yang ia dapatkan yang antara lain program KUR dari bank BNI.

Makassar, innews.co.id – Di Sulawesi Selatan, tercatat ada sekitar 700 ribu UKM yang didominasi usaha mikro dan kecil yang sudah dapat mengakses lembaga pembiayaan dari perbankan, termasuk akses pada Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Salah satunya adalah Askari Azis, pemilik usaha pengolahan ikan di Kota Makassar berlabel Eltisyah. Azis mengaku usahanya semakin besar setelah beberapa kali mendapatkan KUR. mulai dari Rp25 juta, Rp50 juta, Rp75 juta, hingga yang terakhir Rp600 juta dari Bank BRI. “Dana KUR saya manfaatkan untuk pengadaan alat produksi pengolahan ikan, seperti mesin giling daging, mesin pencampur dan pencetak produk ikan olahan,” kata Askari.

Ada juga Masdir, pemilik usaha cetak dan sablon kaos dengan brand Mockerz Clothing. Ia mengaku dirinya pertama kali terjun ke dunia bisnis karena tertarik setelah mengikuti program magang wirausaha yang diadakan Kemenkop dan UKM. “Setelah mengikuti program magang itu, saya memutuskan untuk fokus menjadi wirausaha. Di program magang itu saya diajarkan berbisnis, produksi, kemasan, manajemen keuangan, dan menjaga kualitas produk,” kisah Masdir.

Untuk lebih mengembangkan usahanya, pada 2015 Masdir pun mengajukan KUR dari Bank BRI dan cair sebesar Rp50 juta. Hasilnya, omzet Masdir pun meningkat pesat dari Rp70 juta sebulan menjadi Rp200an juta. “Setiap mendapat tambahan modal, selalu saya fokuskan untuk meningkatkan kapasitas produksi usaha sablon dan cetak kaos. Tentunya, dengan lebih fokus untuk meningkatkan kualitas produk,” jelas Masdir.

Yang lain, Maimuddin (32 tahun), pelaku UKM di bidang produksi makanan ringan khas Makassar dengan label Dua Phinisi. Dia menjalankan usaha makanan ringan oleh-oleh khas Makassar Dua Phinisi ini sejak 2012. “Semakin lama usaha saya semakin besar dan berkembang. Dan untuk lebih mengembangkan usaha ini saya mendapatkan KUR sebesar Rp400 juta dari Bank BNI,” kata Maimuddin.

Pelaku UKM lain, Hendrawan (32 tahun) mendapat KUR sebesar Rp500 juta dari Bank BRI. Dia menjelaskan, usahanya bergerak di bidang pengadaan dan penyalur beras dan telur dengan nama toko Hijrah. Begitu juga dengan Fatmawati (35 tahun), pelaku UKM asal Makassar yang mendapat KUR sebesar Rp200 juta dari Bank Mandiri. “Usaha saya bergerak di sektor industri roti, seperti Roti Kaya, Roti Abon, dan Roti Pisang, yang sudah saya rintis sejak 2012.

Terbesar

Manfaat KUR benar-benar dirasakan pelaku UKM di Sulawesi Selatan. Kepala Dinas Koperasi Sulawesi Selatan H Abdul Malik Faisal menjelaskan bahwa kinerja penyaluran KUR di Sulsel pada 2017 sebesar Rp5,07 triliun atau mencapai 98,8% dari rencana bisnis bank, dengan jumlah debitur 207.861 UMKM. Sulsel juga termasuk salah satu provinsi yang menyalurkan KUR terbesar di Indonesia. “Sementara dari program Pendampingan KUR di Sulsel telah tersalur kurang lebih sebesar Rp22,3 miliar dengan jumlah pendamping sebanyak 22 orang yang mendampingi 1.030 usaha mikro dan kecil,” jelas Faisal.

Untuk 2018, lanjut Abdul Faisal, target KUR di Sulsel sebesar Rp5,3 triliun. Hingga Maret 2018, telah tersalur kurang lebih sebesar Rp1,6 triliun dengan jumlah debitur 69.364 orang dan NPL 0,03%. (RN)