Jakarta, innews.co.id – Implementasi hukum di Indonesia masih semrawut. Bayangkan negara sebesar Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, namun penerapan hukumnya masih amburadul, apa jadinya?

Untuk itu dibutuhkan keikutsertaan para cendikiawan dalam memberi masukan, mendiskusikan, serta mensosialisasikan hukum kepada masyarakat luas. Dengan begitu, ada sinergitas dalam penerapan hukum dan tentunya diharapkan bisa melahirkan keseimbangan.

Para pengurus bersama pendiri Yayasan KCHI tampak penuh semangat di acara launching Yayasan KCHI di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta, Sabtu (10/8/2019)

Rasa keprihatinan ini mendorong lahirnya Yayasan Komunitas Cendekiawan Hukum Indonesia atau disingkat KCHI, yang pengukuhannya dilakukan di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta, Sabtu (10/8/2019) sore.

Tampak para pengurus dengan baju bernuansa merah putih tampil penuh semangat mengikrarkan komitmen untuk mendukung aplikasi hukum yang tuntas kepada masyarakat. Wadah ini merupakan gabungan dari para notaris/PPAT, advokat, akademisi, serta bidang-bidang hukum lainnya.

Prof Dr. Arif Hidayat Ketua IKA FHUNDIP, saat memberikan wejangan di acara Pengukuhan Pengurus Yayasan KCHI di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta, Sabtu (10/8/2019)

Dalam sambutannya, Prof Dr. Arif Hidayat Ketua IKA FH-UNDIP yang berkenan hadir menyambut baik lahirnya yayasan ini sebagai bentuk perjuangan agar hukum bisa tersosialisasikan dengan baik. Utamanya adalah agar masyarakat mengerti bahwa Pancasila adalah dasar hukum di Indonesia.

“Sebagai ideologi bangsa, Pancasila harus menjiwai seluruh sendi kehidupan, termasuk dunia hukum. Dengan Pancasila, maka Indonesia bisa memgakomodir semua perbedaan yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Rr. Eva Damayanti, SH., Sp.N., M.Kn., MM., Ketua Yayasan KCHI menjelaskan, yayasan ini didirikan oleh orang-orang dengan latar belakang profesi hukum yang berbeda, mulai dari advokat, notaris/PPAT, akademisi, hakim, dan sebagainya.

Dr. Rr. Eva Damayanti, SH., Sp.N., M.Kn., MM., Ketua Yayasan KCHI (kedua dari kanan), pastikan langkah KCHI ke depan

Salah satu upaya yang akan dilakukan antara lain, memfasilitasi dan mengakomodir para intelektual–khususnya di dunia hukum–dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan menunjang program kemudahan pemerintah dalam kaitan easy doing business.

Adapun visi yang diemban adalah turut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan negara lewat sumbangsih pemikiran dan aksi nyata. Sementara misinya menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan/negara, lembaga masyarakat, mengadakan seminar, dialog interaktif, pengkajian, penyuluhan kepada masyarakat.

“Diharapkan dengan kehadiran yayasan ini mampu memberikan kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan bagi masyarakat,” imbuh Eva.

Pengukuhan Pengurus Yayasan KCHI ditandai pelepasan burung merpati sebagai penanda bahwa yayasan ini juga akan terbang menjangkau masyarakat luas

Pada bagian lain, Dr. Ali Abdullah Moda, SH., MH., MM., M.Kn., salah satu Ketua yang juga seorang advokat ini mengatakan, sebagai praktisi hukum kita punya tanggung jawab untuk turut serta mengambil bagian pada perbaikan hukum di Indonesia lewat banyak cara.

Ali Abdullah sendiri berharap semakin banyak advokat yang bisa bergabung dalam yayasan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perbaikan hukum di Indonesia.

Pendiri sekaligus Pembina Yayasan KCHI Otty Hari Chandra Ubayani Panoedjoe, SH., Sp.N., MH., peduli penerapan hukum yang benar di Indonesia

Sementara itu, Pendiri sekaligus Pembina KCHI Otty Hari Chandra Ubayani Panoedjoe, SH., Sp.N., MH., mengatakan, pembentukan wadah ini merupakan hasil perenungan bersama mengenai wajah hukum di Indonesia saat ini. “Faktanya, masih banyak hal yang perlu dibenahi, baik dari sisi produk hukum maupun penerapannya. Disinilah peran penting dari para cendikiawan hukum di Indonesia,” ujar Otty.

Diterangkan, salah satu upaya yang akan dilakukan adalah mengkaji produk-produk hukum. Belum lagi, dalam implementasi yang dirasa masih kurang.

Otty Ubayani dan Eva bersama Maryono dan istri

“Komunitas ini memiliki peran besar karena di dalamnya terdapat berbagai profesi hukum. Ini tentu akan memperkaya khasanah dan wawasan kita, disamping kita bisa saling bekerjasama dalam memberikan advokasi kepada pihak-pihak yang membutuhkan,” terang Otty.

Dikatakannya, melalui yayasan ini, banyak hal bisa dilakukan, tanpa menimbulkan kesan pencitraan. “Sekarang ini kan banyak heboh, sedikit-sedikit dibilang pencitraan. Padahal, mungkin yang dilakukan baik dan penuh ketulusan,” kata Otty.

Pendiri Yayasan KCHI Otty Ubayani bersama jajaran pengurus KCHI

Otty berharap, melalui yayasan ini para pengurus dan semua pihak yang terlibat di dalamnya murni berbuat untuk kepentingan orang banyak, bangsa dan negara. Tidak ada muatan-muatan pribadi di dalamnya. Juga bisa memperjuangkan rekan-rekan yang mungkin tersangkut masalah hukum, tapi enggan melapor ke organisasi lantaran malu atau takut dicibir oleh teman-teman seprofesi.

Saat waktu beranjak malam, tampak hadir Maryono Direktur Utama BTN sekaligus Ketua Umum IKA UNDIP bersama sang istri. Dalam sambutannya, Maryono menyambut baik kehadiran yayasan ini dan berharap dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi perbaikan hukum di Indonesia.

Maryono Ketua Umum IKA UNDIP turut menyumbangkan suara emasnya

Acara hiburan diisi dengan penampilan Tito Sumarsono, Susy Mozza, dan Nia Dianati. Juga ada sajian line dance berkebaya yang begitu memukau. Komunitas line dance berkebaya adalah komunitas yang didalamnya tergabung individu-individu yang cinta etnik, dimana anggotanya berasal dari seluruh warga masyarakat tanpa membedakan profesi. (RN)