Lamikro bisa didownload di smartphone

Jakarta, innews.co.id – Era pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla telah mencanangkan road map Industri 4.0. Sejauh mana usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia meresponi hal tersebut?

Sejak awal didirikan, banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia menganut sistem manajemen yang terbilang manual dan tradisional. Di era digital sekarang ini, UMKM dituntut mampu menghadapi persaingan, tidak hanya yang bersifat lokal, tapi juga global.

Bila tidak, maka usaha yang dirintis bisa tergilas oleh kemajuan zaman. Oleh karena itu, para pelaku UMKM tidak boleh gagap teknologi alias gaptek, tapi harus mau belajar dan mengikuti perubahan yang ada. Tidak itu saja, para pelaku UMKM juga bisa menjadi agent of change (agen perubahan) di tengah masyarakat.

Pelaku UMKM yang paham digital, tentu bisa mengedukasi masyarakat secara luas untuk ikut serta mengerti akan kemajuan teknologi.

Selain itu, UMKM pun masuk dalam radar Reformasi Total Koperasi yang lantang disuarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM, di mana perubahan mind-set dari kultur tradisional menuju kultur digital menjadi sebuah keniscayaan perubahan ke arah yang lebih baik.

Era digital

Era digital merupakan masa yang tidak ringan bagi para pelaku UMKM, terutama bagi yang ada di pedesaan atau pedalaman. Sebab ini merupakan budaya baru. Namun, cepatnya waktu bergulir menuntut kecepatan para pelaku usaha untuk memahami akan perubahan tersebut.

Untungnya, Kementerian Koperasi dan UKM menangkap sinyal kemajuan teknologi dengan cepat dan tepat. Salah satunya dengan meluncurkan aplikasi Lamikro singkatan dari Laporan Akuntasi Usaha Mikro yang dirilis pada Oktober 2017 lalu.

Ini menjadi penanda bahwa UMKM di Indonesia saat ini pun tengah berpacu dalam kemajuan teknologi yang begitu gencar.

Aplikasi laporan keuangan akuntansi Lamikro didesain khusus untuk memudahkan para pelaku UMKM dalam membuat laporan keuangan. Aplikasi ini bisa diunduh dari playstore atau melalui website www.lamikro.com.

Ada berbagai manfaat dari aplikasi ini yaitu, memonitor aktivitas keuangan UMKM, membuat laporan keuangan lebih cepat dan efisien, menggantikan metode tradisional pencatatan manual, serta prosedur penganggaran yang lebih modern.

Mempermudah

Pengalaman Nala Jati pemilik Kedai 157 yang sejak enam bulan lalu menggunakan aplikasi ini menjadi cermin betapa aplikasi ini sangat cocok diterapkan oleh para pelaku UMKM di Indonesia.

Menurut Nala Jati, Lamikro lebih praktis. Selain itu, bisa digunakan kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan smartphone dengan sistem operasi Android. “Aplikasi ini begitu fleksibel, sehingga dalam membuat laporan keuangan bisa lebih simple,” aku Nala.

Tidak itu saja, aplikasi yang bisa didownload secara gratis ini juga menyajikan serangkaian fitur di antaranya, entri jual, daftar jurnal, laba dan rugi, serta neraca.

“Saya bisa mengecek pengeluaran dan penghasilan. Juga bisa menentukan harga pokok penjualan, pajak yang dikenakan, serta profit yang saya peroleh,” terang Nala.

Beberapa aktivitas keuangan yang dapat dimonitor melalui Lamikro yakni aset, liabititas, penghasilan, beban, dan ekuitas. Kesemuanya adalah penunjang kelancaran sebuah usaha.

Keuntungan lain yang dirasakan Nala adalah laporan keuangan yang lebih trustable (terpercaya). Hal ini tentu saja memudahkan dirinya bilamana mengajukan pinjaman dana dari perbankan (bankable). “Saya semakin merasa percaya diri bila mengajukan pinjaman karena laporan keuangannya begitu rapih dan tepat,” aku Nala.

Selain mempermudah membuat laporan keuangan, Lamikro juga menjamin keamanan data dari penggunanya. Kepala Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM Anang Rachman dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) menegaskan, “Setiap laporan dari pemakai aplikasi Lamikro harus pruden dan penuh kehati-hatian. Karena itu, keamanannya pun harus terjaga dengan baik”.

Untuk itu, lanjut Anang, kode keamanannya dibuat dengan tingkat keamanan yang tinggi sehingga tidak mudah direntas atau dibobol pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Tidak itu saja, Aplikasi LAMIKRO juga sudah memenuhi standar akutansi Entitas Mikro Kecil dan Menengah (EMKM) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akutansi Indonesia (IAI). Hal tersebut diakui oleh Tia Adityasih Ketua DPN IAI. “Aplikasi ini lebih memudahkan pencatatan tiap transaksi yang terjadi,” kata Tia.

Semakin penting

Sejak dirilis hingga kini tercatat sudah lebih dari 4.000 UMKM yang menggunakan aplikasi ini dari sekitar 59,7 juta UMKM menurut data Badan Pusat Statistik pada 2016. Dari jumlah tersebut, mayoritas didominasi oleh pelaku usaha mikro.

Diharapkan ke depan tentu akan semakin banyak lagi UMKM yang menggunakan Lamikro, apalagi pemerintah baru saja merevisi pajak penghasilan (PPh) final bagi UMKM yang beromzet di bawah Rp4,8 miliar, termasuk koperasi menjadi sebesar 0,5 persen atas omzet. Sebelumnya, dikenakan pajak sebesar 1 persen.

Melalui aplikasi Lamikro ini, maka bisa diketahui berapa besaran pajak yang harus dibayarkan. Dengan begitu, selain usaha bisa berjalan dengan baik, pelaporan lancar, pembayaran pajak pun bisa ditunaikan dengan paripurna. Bukankah itu menjadi ciri dari pelaku usaha yang baik?

Ibaratnya Lamikro yang ada sekarang baru versi 1.0. Ke depan tentu akan dikembangkan lagi versi-versi terbaru dengan fitur-fitur yang lebih mumpuni dan menjangkau banyak pelaku UMKM di persada ini.

Harapannya, para pelaku UMKM bisa lebih terbantu dalam membuat laporan keuangan. Dengan laporan keuangan yang baik, tentu bisnis yang dijalankan bisa sehat dan kuat. Bisnis yang sehat dipastikan akan mensejahterakan pelaku usaha serta mereka yang berkecimpung langsung di dalamnya.

Jika pada krisis ekonomi 1998, terbukti UMKM mampu tegar berdiri ditengah runtuhnya berbagai perusahaan kelas raksasa, bila ditunjang penggunaan aplikasi Lamikro dalam pembuatan laporan keuangannya tentu akan semakin kokoh dan memberi bukti bahwa UMKM salah satu kekuatan dan penopang ekonomi terbesar di bangsa ini. (RN)