Jakarta, innews.co.id – Ibarat sebuah pertarungan tinju, biasanya seorang pelatih akan melemparkan handuk putih ketika melihat petinju asuhannya sudah kepayahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari lawannya. Hal yang sama terjadi dalam sebuah peperangan. Pasukan yang kalah biasanya mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.

Hal serupa nampaknya terjadi dalam sidang gugatan Kongres VII Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) yang kini tengah berproses di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Sidang lanjutan Rabu (20/2/2019) mengagendakan revisi gugatan.

Ketika coba dikonfirmasi, Tagor Simanjuntak Juru Bicara PPAT Peduli Organisasi IPPAT mengatakan, sidang nanti adalah revisi gugatan untuk ‘mengeluarkan’ pihak-pihak yang sudah menyepakati perdamaian dengan penggugat, yaitu Tersangka 1 (T1) Syafran Sofyan, (T2) Fima Agustina, (T3) Agus Sulaiman (T5) Dr. Khant Safikni, (T11) Yeni Ariani, Turut Tergugat 1 (TT1) Hapendi, (TT2) Otty Ubayani, dan (TT3) Firdhonal.

Dijelaskan pula, saat ini, tergugat yang aktif tinggal 3 orang yaitu, (T7) Gatot, (T8) Elis Nurhayati, dan (T10) Julius Purnawan, yang akan lanjut perkaranya.

Sementara ada 3 tergugat lainnya yang tidak aktif dan dianggap sudah melepaskan hak hukumnya atas proses gugatan yang tengah berjalan yakni, (T4) Trisnawaty, (T6) Abdul Muis, dan (T9) Reza Berawi.

“Mereka dianggap telah melepaskan hak hukumnya lantaran tidak pernah muncul di PN,” kata Tagor.

Ditambahkannya, kasus gugatan ini akan tetap berjalan. Mengenai adanya kesepakatan damai antara penggugat dengan sebagian tergugat, menurut Tagor, tentu akan mempengaruhi putusan hakim nantinya.

Diperkirakan bila berjalan mulus, kasus ini baru akan masuk pada putusan sekitar Juni atau Juli tahun ini. (RN)