Jakarta, innews.co.id – Sosoknya begitu sederhana, namun aura kecerdasan terpancar di wajahnya. Ia baru-baru ini dipilih sebagai kandidat Australia Award, sebuah program beasiswa jangka pendek yang melibatkan 27 pemimpin senior perempuan lintas agama dan berbagai organisasi.

Lany Guito, SE., adalah perempuan yang mewakili Khonghucu untuk tampil di ajang bergengsi tersebut yang akan diadakan September 2018 nanti. 

Saat ini, Lany duduk sebagai Ketua Bidang Pendidikan Anak dan Remaja di Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).

Ditemui di sela-sela acara ‘Pendidikan Perempuan Khonghucu’ di TMII, Jakarta, Sabtu (18/8), Lany banyak menjelaskan mengenai eksistensi seorang perempuan dalam perannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. 

Dikatakannya, ada 4 kebajikan wanita, yakni perilaku bajik (Fu De), kata-kata yang sopan (Fu Yan), tangkas dalam setiap pekerjaan (Fu Gong), dan berpenampilan sederhana (Fu Rong).

Juga disampaikan ada 3 kepatuhan kaum perempuan (San Con), yakni sebelum menikah patuh pada ayah (Wei Jia Cong Fu), setelah menikah patuh pada suami (Ji Jia Cong Fu), dan bila suami meninggal patuh pada anak lelaki tertua (Fu Si Cong Zi). 

Lany juga mengenalkan Konsep Sinergi Tiga Lingkungan yang akan disampaikannya sebagai bentuk bahan kajian kepada profesor dan tim penilai dari Australia Award.

Proyek studi yang diambil Lany berjudul ‘Pendidikan Generasi Junzi Dalam Sinergi Tiga Lingkungan Menuju Masyarakat Sejahtera dan Damai’ itu telah disetujui oleh Prof Shahram dan Ms. Anniemarie Ferguson sebagai dosen pembimbing dari Deakin University Melbourne.

Konsep tersebut adalah bagaimana membangun sinergi antara rumah, tempat ibadah (litang, miao, dan kelenteng), dan sekolah. 

Menurut Lany, ketiga lingkungan tersebut sangat mempengaruhi pemikiran, pengetahuan, perilaku, dan prestasi seorang anak. 

Dijelaskan pula, Australia Award adalah sebuah proyek beasiswa jangka pendek dan panjang. Untuk jangka pendek berlangsung pada 7-23 September, di mana para pemimpin wanita lintas agama dan organisasi dengan tujuan membangun kebersamaan.

“Mereka mengundang kami ke Australia untuk melihat bagaimana Australia yang merupakan daerah migran yang memiliki banyak etnis yang berbeda-beda, namun mampu dikelola dengan baik,” jelas Lany.

Setiap peserta yang ikut diminta membuat proyek studi untuk nanti dipresentasikan dan dikaji oleh para profesor di Australia.

“Kita bisa belajar bagaimana mengelola perbedaan dengan baik. Dan, ini akan sangat berguna bagi segenap umat Khonghucu untuk melangkah ke depan. 

Lebih jauh Lany mengatakan, ada 2 SD dalam membangun Khonghucu ke depan, yakni sumber daya dan sistem serta data dan dana. “Ini adalah 4 faktor yang wajib diperhatikan oleh pengurus dan umat Khonghucu untuk pembenahan organisasi,” tutur Lany.

Tidak itu saja, Lany juga berharap pemerintah bisa lebih mendukung Khonghucu dalam implementasi program-program Khonghucu.

“Peran pemerintah tentu sangat besar untuk kemajuan Khonghucu dalam segala aspeknya, khususnya pendidikan. Sejak 2010, pemerintah telah mengikutsertakan Khonghucu dalam penulisan buku teks pelajaran SD hingga SMA. Tahun ini, 100 guru mendapat kesempatan sebagai Guru Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Non-PNS,” tandas Lany. (RN)