Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku, kritik tajam Gubernur DKI

Jakarta, innews.co.id – Keriangan menyambut pergantian tahun yang harusnya menjadi milik warga Jakarta dan sekitarnya, mendadak sirna. Hujan yang mengguyur tiada henti mengakibatkan banjir besar di sejumlah titik dan melahirkan nestapa warga.

Bukan hanya rumahnya dikepung air, ribuan orang harus mengungsi, dan tidak sedikit harus merenggang nyawa lantaran bencana ini.

Urusan banjir telah menjadi masalah klasik di Jakarta. Namun, banjir yang mendera di pembuka tahun dinilai sebagai bentuk kelalaian Gubernur DKI Anies Baswedan.

Sejumlah kealpaan gubernur yang terindikasi sebagai bentuk kesengajaan, menurut Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) organisasi relawan Jokowi antara lain: Melalaikan tugas memberi perlindungan kepada masyarakat dari dampak bencana sesuai dengan UU No. 24 Tahun 2007. Selain itu, sesuai UU No. 23 Tahun 2017 yang mengamanatkan Pemda untuk mengurus pekerjaan umum dan penataan ruang, juga dinilai diabaikan.

Slogan naturalisasi sungai yang didengung-dengungkan Anies dinilai tidak jelas. Sebab faktanya, penduduk sekitar bantaran sungai yang merupakan tempat yang rentan tidak dipindahkan sebagai antisipasi bencana, melainkan justru membiarkan dengan mengatasnamakan “keberpihakan”

Yang terparah, kata Putri, adalah terjadi pengurangan anggaran banjir. “Mengurangi dana penanggulangan banjir dan mengalihkan kepada yang bukan prioritas, itu suatu kebodohan. Sebagai perbandingan pengeluaran untuk pembenahan trotoar bisa sampai triliunan rupiah, sementara anggaran penanggulangan banjir hanya 800 milyar. Itupun dikurangi 500 milyar untuk proyek yang sama sekali tidak penting,” jelas Putri kepada innews, di Jakarta, Sabtu (18/1/2020).

Menurut Putri, adalah perbuatan melanggar hukum apabila seorang pemimpin tidak dapat melindungi masyarakatnya secara layak. “Baru dua tahun lebih memimpin, Jakarta nampak sudah porak poranda. Jangan biarkan Jakarta hancur di sisa kepemimpinan Anies,” tukasnya.

Walaupun musibah datangnya bisa bukan karena rekayasa manusia, melainkan kehendak Tuhan, tapi sangat tidak pantas bila manusia justru menyalahkan Tuhan. Apalagi bencana yang datang lantaran kealpaan manusia. “Itu hanya dilakukan oleh manusia yang tidak memiliki ahklak,” pungkas Putri. (RN)