Jakarta, innews.co.id – Keputusannya maju sebagai calon legislatif DPR RI pada Pemilu Legislatif, 17 April 2019 ini dinilai tepat. Bukan saja, masyarakat di daerah pemilihannya Banten III membutuhkan sosoknya, tapi juga Indonesia secara umum butuh insan-insan yang profesional seperti Dra. Meidya Amora I. S.IP., M.Si.

Wanita cantik yang juga seorang pengusaha ini memulai langkah perjuangannya di Banten III yang meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan ini. “Saya ingin mengaplikasikan background politik yang pernah saya pelajari,” kata Mona–sapaan akrab Meidya Amora saat ditemui di bilangan Senayan, Jakarta, Senin (4/2/2019).

Meidya Amora (kedua dari kiri) siap perjuangkan aspirasi masyarakat

Mona yang sejak dulu telah akrab dengan dunia organisasi ini melihat potensi kaum perempuan sangat besar untuk memberi perubahan bagi bangsa ini. “Perempuan ini sekarang punya positioning yang sama dengan pria,” jelas Mona yang duduk sebagai Wakil Ketua Komite BUMN Kadin Indonesia ini.

Salah satu yang akan ia upayakan adalah pemberdayaan ekonomi kaum perempuan. Ini juga menjadi program Presiden Jokowi. “Saya mau jadi jembatan untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan kaum perempuan. Saya siap menjadi fasilitator,” tandas Komisaris sejumlah perusahaan multinasional ini.

Mona mengaku kaget saat turun ke masyarakat. Ternyata, harusnya banyak kesempatan yang dimiliki masyarakat, tapi faktanya justru tidak diberikan. Seperti kehidupan nelayan di pesisir Banten, di mana untuk BPJS Kesehatan saja masih dimintai uang. Ironis sekali! Faktanya, masih banyak ketidakadilan di masyarakat. Ini bukan karena kebijakan, tapi oknum-oknum yang ‘bermain’.

Meidya Amora (kedua dari kanan), duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan masyarakat

“Saya lihat akses kesehatan dan pendidikan di masyarakat masih sangat kurang. Kalau saya menjadi anggota dewan, saya akan suarakan kepada pemerintah daerah setempat untuk mau mengalokasikan APBD untuk kesehatan dan pendidikan masyarakat,” urainya.

Hal lain yang juga akan ia perjuangkan adalah membuat badan hukum bagi paguyuban masyarakat, yayasan, atau kelompok perempuan sehingga memudahkan untuk mendapat akses permodalan. “Kalau ada struktur yang jelas, maka memudahkan untuk mendapat akses,” tandasnya.

Meidya Amora dekat dengan para tokoh agama

Bagi Mona, para perempuan harus mendorong kebijakan-kebijakan yang pro kaumnya. Sebab, siapa lagi yang akan memperjuangkannya.

Perjuangkan masyarakat

Mona yang juga dipercaya di DPP PDI Perjuangan Bidang Politik Hukum dan Pertahanan ini menjelaskan, permasalahan masyakarat di Kabupaten Tangerang cukup kompleks.

Meidya Amora, siap berjuang

Karena itu, dirinya kian merasa terpanggil untuk membantu masyarakat sehingga dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.

Istri tercinta Edwin Joenoes dan ibu dari Kania Darama Joenoes, Pradhana Harsaputera Sidharta, dan Yudadarma Joenoes kelahiran Jakarta, 28 Mei 1960 ini lanjut mengatakan, dirinya juga memberi perhatian bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah serta koperasi. Termasuk di dalamnya secara aktif memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan.

Meidya Amora bersama Anton Chaliyan mantan Kapolda Jawa Barat, mendukung Paslon 01

Bagi Mona yang pada Pileg nanti menjadi caleg dari PDI Perjuangan bernomor urut 6 ini, seorang wakil rakyat harus memiliki emotional touch dengan masyarakat. Tanpa itu, menjadi anggota dewan hanya untuk memperkaya diri sendiri saja.

Secara aktif Mona turun ke masyarakat, menyapa, dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka. “Semua saya catat dan sebagai bahan saya nanti bila dipercaya sebagai senator di Senayan,” ujarnya.

Meidya Amora, menjaga komitmen kepada masyarakat

Besar harapan Mona, masyarakat–khususnya di Banten III bisa jeli melihat caleg mana yang benar-benar punya hati untuk memperjuangkan masa depan masyarakatnya. “Jangan hanya karena dikasih uang, lantas masyarakat harus mengorbankan masa depan dirinya dan keluarga. Karena dijamin, caleg yang suka bagi-bagi uang tidak akan sepenuh hati memperjuangkan nasib masyarakat. Itu karena, suara rakyat sudah ia beli,” tukasnya. (RN)