Jakarta, innews.co.id – Besarnya suara non-Muslim menjadi sesuatu yang menarik untuk juga mendapat perhatian dari kedua pasang calon pemimpin bangsa.

Untuk memperjelas hal tersebut, Vox Point Indonesia (VPI) mengadakan diskusi dengan tema Pilpres 2019: “Ke Mana Suara Pemilih Non Muslim?” di Sanggar Prativi Building, Jakarta, Kamis (27/9).

Sejumlah narasumber dihadirkan di antaranya: Ir. Fary Djemy Francis Ketua Fraksi Partai Gerindra MPR RI, Itet Tridjajati Sumarijanto Anggota DPR RI Fraksi PDI-P, Pdt. Dr. Albertus Patty Ketua PGI, Pater Dr. Petrus Canisius Aman, OFM., Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Menurut Itet yang duduk di Komisi VIII DPR ini, “Sebagai umat beragama kita tentu punya nurani untuk menentukan pilihan secara objektif. Kita coba melihat rekam jejak yang jelas dan transparan”.

Sementara Fary mengatakan, saat ini ada 110 anggota dewan yang beragama Kristen. “Kita berharap ke depan akan semakin banyak lagi politisi Kristiani yang menjadi anggota DPR RI,” kata Fary.

Sempat dicuatkan juga soal Piagam Batu Tulis yang isinya 2009 PDI-P dan Gerindra mengusung pasangan Megawati-Prabowo dan selanjutnya 2014 gantian kedua partai itu mengusung Prabowo sebagai calon presiden. “Tapi ternyata hal itu diingkari oleh PDI-P yang memilih Joko Widodo sebagai calon presiden,” jelasnya.

Mengenai kedekatan Gerindra dengan PKS, Fary menjelaskan, PKS sejauh ini setia bersama Gerindra.

Bicara soal Pilpres 2019, Fary mengatakan, “Gerindra tetap partai nasionalis yang tentunya juga punya beban untuk memperjuangkan umat non-Muslim”. Dalam hal ini, Prabowo juga sangat concern terhadap komunitas non-Muslim.

“Sebagai anak-anak Tuhan kita harus ada di mana-mana. Kita bisa menjadi ragi, tapi memiliki peran yang besar,” ujar Fary.

Akan tetapi, masih kata Fary, perlu juga dibangun sinergitas antara lembaga-lembaga keagamaan dengan para anggota dewan yang Kristiani.

Sementara Pdt Albertus Patty menambahkan, keberadaan wakil rakyat yang kristiani punya tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan, baik di level bawah maupun atas. (RN)