Jakarta, innews.co.id – Sejumlah orangtua murid yang anaknya bersekolah di SMA Negeri 87 Jakarta mengaku resah lantaran ulah seorang guru yang dengan diduga sengaja mendoktrin murid-muridnya untuk tidak suka kepada Presiden Joko Widodo.

Salah seorang orangtua murid yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Sangat disayangkan, lembaga pendidikan, apalagi guru sebagai tenaga pendidik yang seharusnya bersikap netral malah mencoba mempengaruhi muridnya dengan sengaja melontarkan kata-kata yang terkesan menyalahkan pemerintah”. Guru tersebut adalah Nelty Khairiyah.

Dalam aduan yang menjadi viral tersebut, si pengadu yang mengaku orangtua murid menyebut anaknya dan siswa SMAN 87 lainnya dikumpulkan guru Nelty di masjid dan ditunjukkan video gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Pada kesempatan itu, Nelty menyebut banyak korban yang bergelimpangan akibat gempa merupakan salah Jokowi.

Akan tetapi Nelty membantah hal tersebut. “Tidak begitu. Jadi kalau saya ngajar itu anak-anak kan saya suruh salat dulu. Habis salat nanti baru mereka presentasi, nggak ada yang namanya niat saya sengaja kumpulkan itu. Salah itu. Memang pembelajaran saya anak-anak lebih fokus pada pengamalan sehari-hari, jadi itu ya saya suruh mereka salat dulu. Nanti insyaallah saya sambil masukin nilai mereka mempersiapkan untuk presentasinya. Nggak ada niat untuk ngumpulin,” terang Nelty.

Nelty juga membantah telah menjelek-jelekkan Jokowi. Menurut dia, apa yang dia sampaikan hanya bersifat umum mengenai ajaran Islam.

“Nggak-nggak, saya bukan begitu bilangnya ke anak-anak. Yang saya bilang, nak, ini kalau kita kembali ke ajaran Islam, ini salah satu hal yang harus kita dahulukan untuk menyelesaikannya. Saya bilang gitu. Ada 3 hal yang harus kita selesaikan satu membayar utang, dua penyelenggaraan jenazah yang ketiga mengawinkan apabila anak gadis atau bujang sudah minta kawin. Itu. Saya mengedepankan itu ke anak-anak sebagai salah satu contoh dalam kajian agama islam. Itu. Makanya saya mohon banget diklarifikasi,” tutur Nelty.

Ketika dikonfirmasi, Rabu (10/10) pagi, Kepala Sekolah SMA 87 Patra Patriah mengatakan, Nelty sudah meminta maaf. Meski begitu, guru tersebut belum diberi sanksi dan masih mengajar. 

Kalaupun ada sanksi, menurut Patra adalah kewenangan Disdik DKI. Sekolah, menurut Patra, tidak memiliki kewenangan memberikan sanksi. “Kalau pembinaan, saya sudah (lakukan). Dia berjanji tidak akan mengulang lagi dan telah meminta maaf. Bahkan telah menandatangani surat,” ujar Patra.

Ditanya lebih jauh, Patra mengaku tidak tahu karena tidak ikuti semuanya. Saat dapat info, saya cari kebenaran. “Dan orang mengakui. Kalau ada kasus itu, ya memang ada, dia minta maaf. Kalau nggak kan pasti komplain. Saya bilang, ‘Ibu bisa kena indisiplin sebagai pegawai negeri karena tindakan ini’. Tapi bukan saya yang lakukan. Nanti diproses oleh Dinas,” sambungnya menyitir ucapannya kepada Nelty.

Dari berbagai informasi yang dihimpun, Nelty siang ini dipanggil Disdik DKI Jakarta berkaitan dengan kasusnya itu.

Sementara itu, pihak Bawaslu pun tengah mendalami kasus ini dengan langsung mendatangi sekolah tersebut.

Di sisi lain, berbagai pihak meminta agar proses ini dituntaskan dan bila benar Nelty melakukan ujaran doktrin anti-Jokowi harus dikenai sanksi tegas. Sebab, tidak boleh lembaga pendidikan menjadi tempat menyebar kebencian.

Apalagi bila dikaitkan dengan iklim politik yang sedang memanas. Beda pilihan sah-sah saja, tapi bukan berarti dibawa sampai ke sekolah. (RN)