Yogyakarta, innews.co.id – Bagi Mendung Daryoto, usia muda bukan berarti belum pantas masuk kancah perpolitikan. Justru anak muda harus punya tempat di perpolitikan. Karena, berpolitik memberi ruang untuk bisa mewujudkan ide dan gagasan kita.

“Saya yakin bahwa politik bukan tentang membangun dinasti keluarga. Politik harus diisi orang-orang yang memang punya kesadaran berpolitik dan bermasyarakat. Politik bagi saya adalah alat atau upaya untuk mensejahterakan masyarakat. Kuncinya jujur dan baik, tidak perlu janji-janji manis,” ujar pria bernama lengkap Mendung Daryoto, A.Md., calon legislatif DPRD Kota Yogyakarta dari Partai Gerindra untuk daerah pemilihan 4 yang meliputi Gondokusuman dan Danurejan nomor urut 2 ini.

Tak heran, tagline yang ia usung adalah “Ojo Leren dadi Wong Apik” yang berarti jangan berhenti jadi orang baik. “Saya percaya semua orang di dunia ini baik, yang ringan tangan membantu sesama, rukun, gotong royong dan saling menghargai. Jika semangat ini terus menerus dikampanyekan, masyarakat akan sadar bahwa politik juga butuh orang baik, tidak hanya calegnya tapi juga pemilihnya dan hari ini saya semakin yakin bahwa saya dipertemukan dengan orang-orang baik,” ujarnya penuh keyakinan.

Dipilihnya Partai Gerindra sebagai kendaraan politiknya, menurut Mendung, partai ini terbuka dengan gagasan dan ide anak muda.

“Di partai ini ada Sarjana Penggerak Desa, Gerindra Masa Depan, Koperasi Garuda Yaksa Nusantara yang dalam pendidikannya diajarkan nasionalisme kecintaaan terhadap NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Selain itu Partai Gerindra memiliki 6 program transformasi bangsa yang salah satunya meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui pendidikan, kesehatan, sosial, olahraga, dan kebudayaan,” urai Staff Fraksi Partai Gerindra DPRD DIY.

Ada keberpihakan

Bagi Mendung, politik adalah harapan. Artinya, harapan-harapan dari masyakat akan ia perjuangkan. Misalnya soal keberpihakan pada saudara kita penyandang disabilitas, persamaan dalam mendapat kesempatan kerja, misalnya. Juga permasalahan dasar, seperti pendidikan. Terjadi beberapa kasus penahanan ijazah. Soal pelayanan kesehatan. Keberpihakan pada lansia untuk dapat mendapat kehidupan yang baik, tumbuhnya lapangan kerja baru, pemanfaatan kemajuan sosial media untuk berwirausaha, pemanfaatan teknologi “smart app” yang memudahkan masyarakat mendapat informasi dan mengaksesnya.

Dalam kacamatanya, kebijakan yang berjalan di Kota Yogyakarta sekarang ini sudah berjalan dengan baik. “Kedepan akan kami tingkatkan agar supaya kesejahteraan masyarakat tepat sasaran dan merata. Sehingga warga merasakan betul manfaat dari pelaksanaan fungsi DPRD,” jelas pria kelahiran Yogyakarta, 7 April 1986 ini.

Soal turun ke masyarakat, nampaknya bukan hal asing bagi Mendung. Selama 3 tahun mendampingi kinerja anggota DPRD DIY, hampir setiap malam dirinya menghampiri masyarakat.

“Kami terus turun ke masyarakat, berinteraksi, menjaring aspirasi. Sehingga bertemu dengan masyarakat, bertukar pikiran, mendengar adalah hal yang sudah biasa bagi kami dan itu begitu menyenangkan. Jika saya terpilih, saya punya program sebagai komitmen kami untuk terus berinteraksi dengan masyarakat, ‘Nguwongke uwong’, yaitu memanusiakan manusia. Beranjangsana, mendengar keluh kesah, berkegiatan bersama akan terus kami kerjakan,” papar Mendung yang juga alumnus Diploma III Bidang Komunikasi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Harapan Mendung, sumber daya manusia (SDM), terutama anak muda semakin terampil, terdidik, memiliki daya saing ditengah arus persaingan global.

Mendung adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya pegawai PJKA (PT KAI) dan ibunya seorang pedagang. Sang ayah telah menghadap Sang Khalik ketika Mendung masih duduk di bangku taman kanank-kanak.

“Ibu saya adalah guru bagi saya. Ibu saya selalu mengajarkan, jangan berhenti jadi orang baik, kapan pun dimana pun dengan siapa pun,” tuturnya Mwndung yang juga aktifis di Karang Taruna, Tunas Indonesia Raya, dan Majelis Kansas ini. (RN)