Bandung, innews.co.id – Pelatihan perkoperasian menjadi bagian penting guna mendorong kemajuan koperasi.

Hal ini dikatakan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring pada acara Pelatihan Akuntansi dan Pengawasan Koperasi di Lingkungan Kementerian Koperasi dan UKM, di Lembang, Bandung, Senin (11/2/2019).

“Saya jadi teringat jaman dulu ketika masih ada yang dinamakan Balai Latihan Koperasi atau Balatkop. Aneka bentuk pelatihan selalu kita ikuti,” lanjut Meliadi.

Di acara yang dihadiri Rektor Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) Burhanuddin Abdullah, Direktur Pusat Inkubator Bisnis Ikopin Indra Fahmi, dan Kepala Biro Umum Kemenkop dan UKM Hardiyanto, Meliadi berharap, dengan pelatihan selama lima hari ini, nantinya bakal terbentuk SDM yang berbeda dan lebih terlatih dibanding dengan yang tidak mengikuti pelatihan tersebut.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring membuka Pelatihan Akuntansi dan Pengawasan Koperasi di lingkungan Kementerian Koperasi dan UKM. Bandung, Senin (11/02/2019). Hadir dalam pembukaan tersebut Rektor Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) Burhanuddin Abdullah, Direktur Pusat Inkubator Bisnis Ikopin Indra Fahmi, Kepala Biro Umum Kemenkop dan UKM Hardiyanto.

“Kalau hasilnya sama saja, saya sarankan ke depan pelatihan perkoperasian seperti ini tidak perlu diselenggarakan lagi. Untuk apa? Jadi, saya tegaskan harus ada bedanya antara yang ikut pelatihan ini dengan yang tidak ikut,” tegas Meliadi.

“Ke depan, kita memang dituntut untuk terus berbenah diri selaku Pembina. Karena, di sisi lain, kita juga menuntut koperasi untuk menjadi lebih moderen, lebih terbuka, bisa menjadi besar, dan sebagainya. Itu tuntutan kita,” tukas Meliadi.

Lebih jauh Meliadi mengatakan, “Kita harus paham dan tahu bagaimana bentuk koperasi yang baik itu. Kita harus tahu apa itu koperasi bodong. Kita harus tahu bedanya yang bodong dengan yang tidak bodong itu apa”.

Bagi Meliadi, membentuk Deputi Pengawasan beberapa tahun lalu itu merupakan bentuk terobosan yang bagus. “Karena kita berharap pembangunan kualitas dari koperasi tersebut. Kalau mengutamakan kualitas, maka bentuk pengawasannya harus lebih besar dan banyak. Supaya koperasi bisa berkualitas, tidak seenaknya saja dalam menjalankan usahanya”, kata Meliadi.

Sementara terkait pengawasan, Meliadi berharap jajaran Pembina ini tahu dan paham betul mengenai peraturan perundangan yang berlaku yang harus dijalankan para pelaku koperasi di seluruh Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Ikopin Burhanuddin Abdullah berpendapat, pelatihan seperti ini merupakan pendidikan yang sangat penting. Malah saya berharap ini ada kelanjutannya. Nanti mestinya ada sertifikasi dari para pengawas koperasi supaya bisa jelas. Standar kompetensi juga terukur.

Bagi Burhanuddin, koperasi harus mencoba untuk ikut dalam arus perbaikan teknologi. “Dengan begitu, koperasi akan lebih dimudahkan untuk diperbesar, efisiensi akan meningkat, dan keuntungan juga akan makin baik. Koperasi dengan teknologi, maka semakin besar jangkauan anggotanya. Itu yang penting bagi koperasi,” tukas Burhanuddin. (RN)