Jakarta, innews.co.id – Membungkam Kongres Luar Biasa (KLB) Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT), sama artinya dengan ‘membunuh’ aspirasi dari para PPAT. Padahal, sejatinya sebagai pimpinan harus mendengar aspirasi dari para anggotanya.

“KLB hanya ingin mengukuhkan perjalanan IPPAT agar on the track dan sesuai AD/ART. Jadi, tidak perlu sampai paranoid menyikapinya,” ujar Otty Hari Chandra Ubayani, SH., Sp.N., MH., salah seorang PPAT senior yang juga ikut maju sebagai Caketum pada Kongres VII IPPAT di Makassar, Juni 2018, kepada innews, Minggu (21/7/2019) sore.

Dikatakannya, pada KLB nanti akan dipilih caketum dari 2 calon dengan perolehan suara terbanyak, dalam hal ini Julius Purnawan dan Hapendi Harahap. Selain itu, akan dilantik Majelis Kehormatan Pusat (MKP) yang memang belum dilantik pada Kongres VII di Makassar.

Otty Ubayani, KLB punya nilai strategis

“Jadi, kan jelas bahwa sesudah KLB ini, maka IPPAT akan berjalan on the track. Kalau benar, kenapa harus takut? Mestinya hadir pada KLB dan buktikan bahwa dirinya layak menang dengan suara terbanyak,” urai Otty bersemangat.

KLB, lanjut Otty, justru akan melegitimatekan kepemimpinannya dan bahkan kepengurusan yang sudah dibentuk. “Juga sekaligus pembuktian apakah benar suara yang ia peroleh pada Kongres VII di Makassar murni atau tidak. Kalau tidak hadir, jangan salahkan kalau orang berpikir di Makassar ada kemungkinan ada ‘permainan’ surat suara,” timpal Otty.

Jadi, KLB punya nilai positif. “Kalau saya jadi Bang JP, pasti saya ikut untuk membuktikan bahwa kemenangan saya sebelumnya benar-benar murni ada dukungan dari PPAT. Saya tidak takut karena saya merasa benar. Kalau tidak ikut, malah aneh dan muncul berbagai asumsi,” tandasnya.

Otty Ubayani bersama pada modelnya pada fashion show acara Halal Bihalal Komunitas Cinta Berkain Indonesia di Hotel Ambhara, Jakarta, Minggu (21/7/2019)

Otty mengingatkan jangan membodohi PPAT, apalagi dengan membungkam suara anggota. “Agenda KLB sangat krusial. Jangan dianggap remeh,” tandasnya.

Kalau pihak JP bersikukuh, menurut Otty, bisa jadi muncul dualisme dalam tubuh IPPAT, yakni hasil KLB dan Kongres VII. “Tentu kondisi ini sangat tidak baik. Namun, kalau memang harus demikian, ya apa boleh buat,” kata Otty.

Otty Ubayani bersama rekan-rekan di Komunitas Cinta Berkain Indonesia

Diingatkan untuk tidak bersikap otoriter. Karena orang semakin dibungkam, akan menjerit dan akhirnya menggigit.

Otty mengaku pernah ada pertemuan dengan JP dan ditawarkan jabatan, tapi ditolak mentah-mentah.

“Memang semuanya teman, jadi sebenarnya bisa saja duduk bersama dan mendiskusikan serta mencarikan solusi agar masalah ini bisa selesai dengan baik,” tandasnya. (RN)