Pdt Mulyadi Sulaeman, M.Th

Jakarta, innews.co.id – Doa diyakini bukan hanya bentuk komunikasi manusia dengan Tuhan, namun juga memiliki kekuatan besar untuk memulihkan suatu bangsa. Karena itu, adalah tepat, ditengah kondisi bangsa yang tengah bergulat menghadapi wabah korona, masyarakatnya berdoa demi pemulihan bangsa.

Seperti yang diinisiasi Jaringan Doa Nasional (JDN) yang mengadakan Momentum Doa 2020 di GSPDI House of Filadelfia Bellezza, Jakarta, Jumat (20/3/2020) malam. Tampak hadir sejumlah tokoh gerejawi dan umat Kristen dari berbagai denominasi gereja. Meski ada larangan melakukan kegiatan keramaian, namun Momentum Doa 2020 tetap diadakan sebagai upaya memulihkan bangsa ini.

Dalam rilis yang diterima innews, dikatakan, situasi kritis yang dialami bangsa ini tidak cukup hanya dihadapi dengan upaya di lapangan saja, kekuatan doa menjadi salah satu upaya untuk memerangi wabah ini.

Menurut Pdt Mulyadi Sulaeman, pelaksanaan Momentum Doa 2020 sudah direncanakan jauh-jauh hari. “Kami sudah menggagas acara ini sejak Januari lalu. Ketika itu Lembaga Aras Gereja Nasional, Pengarah Jaringan Doa Nasional, dan para Fasilitator Nasional JDN bersepakat mengadakan Seruan Doa Nasional secara bersama dan menyerukan Pewartaan Kabar Baik dimana generasi muda akan menjadi bagian yang penting dalam gerakan ini,” terang Mulyadi, Jumat (20/3/2020).

Acara doa yang diadakan antara lain, Seruan Doa Nasional 40 Hari (1 Maret–09 April 2020) dan Momentum Doa 2020, dimana setiap tanggal 20 di tahun 2020 ini dilakukan doa khusus bagi bangsa dari Maret–Oktober 2020. “Ini menjadi tanda pengingat bersama bahwa pada tanggal yang sama kita berdoa secara khusus untuk Indonesia,” jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, saat ini kondisi bangsa tengah berjuang mengadapi Covid-19 yang telah menjadi pandemi global. “Doa seperti ini dirasa sangat perlu dan sifatnya mendesak untuk dilakukan karena kita tahu hanya Tuhan yang dapat menolong,” imbuh Mulyadi.

Dikatakannya, Covid-19 merupakan ancaman bagi seluruh dunia. Kepanikan dan kecemasan sedang menimpa banyak orang. Khusus di Indonesia, ada berbagai persoalan lain yang juga harus mendapat perhatian, seperti terorisme, ancaman terhadap upaya-upaya untuk mengubah ideologi bangsa, adanya gerakan intoleransi, LGBT yang semakin marak, dan secara khusus pada tahun ini, tepatnya 23 September2020“ Indonesia akan mengadakan Pilkada di 270 daerah (Gubernur, Bupati, dan Walikota).

Karena itu, Mulyadi menyampaikan tujuan diadakannya doa bersama ini yakni, seruan doa untuk kesatuan gereja, pemulihan dan kebangkitan bangsa. Juga seruan doa untuk kebangkitan generasi muda gereja yang membawa harapan bagi masa depan bangsa. Dan, seruan doa agar kasih Kristus diwujudkan dengan tindakan kasih dan pewartaan kabar baik di dalam masyarakat.

Dia mengatakan, pokok doa dari Gerakan Doa 2020 adalah pemulihan bangsa dari bencana, pilkada serentak 23 September 2020 dan pemulihan keluarga, dan secara khusus agar umat Tuhan terus berdoa pandemi Covid-19 dapat berakhir.

Mulyadi menambahkan, dalam situasi pandemi Covid-19, pemerintah dengan penuh hikmat dapat memberi strategi penanganan yang tepat, rumah sakit memiliki kecukupan peralatan medis, dokter dan para perawat dengan penuh dedikasi, sabar serta dengan kesehatan yang baik dapat menangani para pasien. Demikian juga masyarakat tidak panik, mentaati himbauan pemerintah dan percaya bahwa Tuhan mengasihi dan menjawab doa serta memulihkan Indonesia.

“Harapan kita, Tuhan mencurahkan kasih sayangnya, serta bangsa Indonesia mengalami pertolongan Tuhan, sehingga segala persoalan-persoalan yang terjadi dapat dilewati dan kerinduan untuk melihat Indonesia baru, maju dan berhasil dapat terwujud,” tukasnya.

Secara teknis, Momentum Doa 2020 ini akan melibatkan berbagai wilayah di Indonesia. Untuk gereja-gereja dan komunitas-komunitas Kristen, tata cara pelaksanaannya diatur masing-masing. (RN)