Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) kritik tajam kebijakan Gubernur DKI yang memangkas pohon-pohon di Kawasan Monas, Jakarta

Jakarta, innews.co.id – Penebangan 190 pohon di kawasan Monumen Nasional yang dilakukan Gubernur DKI Anies Baswedan menuai kecaman berbagai pihak. Banyak yang bilang, Anies keblinger dan membuat kawasan tersebut menjadi gundul dan gersang.

Berbagai kritik dari warga Jakarta pun dilayangkan. Ide membuat daerah tersebut menjadi ruang terbuka hijau, menurut banyak warga, terbilang aneh. Karena hal tersebut sejatinya tidak harus berada di kawasan Monas.

Ketika coba dikonfirmasi mengenai hal ini. Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) sebuah elemen masyarakat yang mendukung Joko Widodo sebagai Presiden RI pada Pilpres 2019 lalu dengan tegas mengatakan, “Saya prihatin dan nyaris tak percaya ada kebijakan memangkas pohon-pohon di kawasan Monas yang konon kabarnya untuk keperluan membuat sarana E Formula impian Gubernur DKI”.

Kawasan Monas yang mulai gundul

Menelisik sejarahnya, dibangunnya Monas merupakan gagasan Presiden Soekarno yang tidak hanya membuat kawasan tersebut sebagai ‘paru-paru’ Ibu Kota, tapi juga menjadi simbol Kota Jakarta, dengan tugu menjulang dan dipuncaknya dibuat bak api berlapis emas.

Dikisahkan Putri kepada innews, Minggu (19/1/2020), Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono ditunjuk sebagai arsitek untuk mendesign Taman Monas ini yang membawa simbol 17-8-45 kedalam bangunan Tugu Monas. Pembangunannya dimulai pada 17 Agustus 1961.

Tujuan membangun Monas adalah mengenang dan menjadi inspirasi dlm melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada Revolusi 1945. Terus membangkitkan semangat patriotisme dari generasi penerus bangsa. “Tugu tersebut juga dilengkapi museum perjuangan patriot bangsa Indonesia. Semangat perjuangan itulah yang menjadi nafas pembangunan Taman Monas ini,” kisah Putri yang juga aktif di Komunitas Anak Bangsa ini.

“Kalau di Monas banyak pohon, tentu akan membuat daerah itu menjadi teduh. Sekaligus menjadi ruang hijau dan menekan polusi yang mendera Jakarta. Akarnya bisa menyerap air,” terang Putri.

Putri khawatir dengan ditebangnya pohon-pohon di kawasan Monas dapat menguapkan juga spirit nasionalisme–utamanya bagi generasi muda, diganti dengan paham-paham yang lain.

Selain itu, lanjut Putri, kalaupun diganti, nanti dibuat pohon-pohon plastik seperti yang pernah dilakukan sebelumnya diatas trotoar. Anggarannya pun bakal dibuat melambung tinggi. Padahal pohon-pohon disana umurnya sudah puluhan tahun.

Dengan tegas, Putri meminta para pemimpin bangsa dan wakil rakyat untuk menaruh empati dan kepedulian terhadap hal tersebut. “Monas adalah simbol perjuangan bangsa. Akankah kita biarkan anak-anak masa depan kehilangan rasa hormat kepada pahlawannya? Kita tidak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi dan terus menerus berjalan secara liar. Pemimpin bangsa harus memiliki cinta serta patriotisme Indonesia,” serunya lugas.

Dia menilai, Gubernur DKI tidak memiliki hati nurani, idealisme, dan spirit patriotisme. Padahal, sebagai pemimpin hal itu harus dimiliki. Yang sekarang ada hanya pencitraan diri, tanpa memperdulikan peninggalan penting, apalagi perasaan warga yang mencintai Jakarta. “Kita harus memperjuangkan agar Jakarta terhindar dari kehancuran yang lebih hebat lagi,” pungkas Putri. (RN)