Friedrich Silaban Arsitek Masjid Istiqlal Jakarta bersama Presiden Soekarno

Jakarta, innews.co.id – Monumen arsitek Masjid Istiqlal Jakarta Friedrich Silaban bakal dibangun di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Ini sebagai bentuk penghargaan terhadap spirit nasionalisme yang begitu kental dalam partisipasi membangun harmonisasi lintas agama di Indonesia.

Hal ini dikatakan Sahat Silaban, SE., MM., mantan Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu.

Friedrich Silaban tengah mengerjakan desain gambar

Dijelaskannya, Friederich adalah seorang Kristiani, juga anak pendeta. Namun, jiwa kebangsaannya yang tinggi, maka kepercayaan yang diberikan Presiden Soekarno kala itu tidak ia sia-siakan. Ia pun mendesain Masjid Istiqlal dengan sangat baik, seperti yang bisa dilihat sekarang ini.

Di masa itu, lanjut Sahat, kebhinnekaan begitu indah. Bisa seorang anak pendeta memenangkan tender menggambar bangunan masjid termegah se-Asia Pasifik tersebut.

Pada 2018, Sahat secara khusus mengusulkan dibuatkan Monumen Friedrich Silaban, dan disetujui oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Ketika itu, Menteri PUPR meminta Sahat mengurus rekomendasi dari pengelola Masjid Istiqlal. Ini lantaran Friedrich belum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Saya mintakan ke pengelola masjid dan langsung diberikan,” kenang Sahat.

Sahat Silaban, SE., MM., mantan Anggota DPR RI yang memperjuangkan pembangunan Monumen Friedrich Silaban di Humbang Hasundutan

Langkah selanjutnya mencari desainer model monumen dengan cara dilombakan dengan ada dewan juri sebagai penilai. Ada 74 orang yang ikut, namun hanya 47 yang memenuhi syarat. “Dari 47 desain, sudah dipilih 6 desain terbaik yang akan dikaji lagi untuk dipilih 1 desain yang akan dipakai nantinya,” terang Sahat.

Monumem ini, kata Sahat, bukan sekadar bentuk penghargaan kepada Friedrich, tapi juga pemersatu bangsa. Anggaran yang akan digunakan diambil dari APBN.

Dibangunnya monumen ini, kata Sahat, juga menjadi salah satu cara menarik wisatawan, lokal maupun internasional. (RN)