Neddy Rafinaldy Halim – Sekjend DEKOPIN

Jakarta, innews.co.id – Sebagai wadah pemersatu koperasi di Indonesia, Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN), punya tugas yang tidak ringan. Menjaga marwah koperasi di Indonesia menjadi salah satu tugasnya. Lalu bagaimana wajah koperasi di Indonesia sekarang ini, ditengah arus perubahan zaman yang demikian radikal?

Untuk mengetahui lebih jelas, innews mewawancarai eksklusif Neddy Radinaldy Halim Sekretaris Jenderal DEKOPIN di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Menurut Neddy, koperasi yang didalamnya terdapat anggota yang memiliki hak suara yang sama, jelas berbeda dengan badan usaha lainnya. Di dalam koperasi kental sekali warna demokrasinya. Yang kerap menjadi masalah dalam tubuh koperasi adalah pengambilan keputusan yang cenderung lebih lambat. “Tapi itu bukan kelemahan, tapi tantangan sekaligus keunikan dari koperasi,” kata Neddy.

Dikatakannya ada perbedaan mutlak bila melihat wajah koperasi di era Orde Baru dengan Orde Reformasi sekarang ini. Salah satunya, kalau di masa Orba koperasi tampak begitu kuat karena campur tangan pemerintah yang begitu mencengkeram, sementara nilai-nilai demokrasinya sangat kurang. Sedang di masa sekarang, nilai demokrasi diberikan seutuhnya kepada koperasi-koperasi, tidak ada intervensi dari pemerintah.

Tantangan teknologi

Di era serba canggih sekarang ini, menurut Neddy, koperasi harus juga bisa mengikutinya. “Sudah banyak koperasi yang mengadopsi teknologi terkini, bahkan sampai di pedesaan sekalipun,” kata Neddy.

Dirinya berkeyakinan semaju apa pun teknologi, koperasi bisa menyesuaikan diri. “Makin maju teknologi, tapi kalau infrastrukturnya tidak sampai ke pelosok-pelosok, maka akan sia-sia. Jadi, dibutuhkan infrastruktur yang memadai, baru akan mendongkrak perubahan di tubuh koperasi itu sendiri,” imbuhnya.

Karena itu, dirinya bersama pengurus DEKOPIN lainnya selalu mendengungkan slogan ‘Mari Kita Berubah’. Disadari tantangan koperasi semakin besar ke depan, tapi dukungan secara internal koperasi serta pemerintah akan sanggup memberi perubahan sesuai dengan yang diharapkan.

Disinggung soal peran DEKOPIN, Neddy menjelaskan, “Peran DEKOPI adalah memberikan penyuluhan, masukan, dan motivasi kepada insan-insan koperasi agar mengerti peran masing-masing. Selain itu, mengintegrasikan koperasi sehingga lebih berdaya dan berhasil guna”. Tidak hanya dilingkup internal koperasi, tapi juga ke luar, misal, ke pemerintah daerah, baik di provinsi dan kabupaten/kota.

Dia menilai, pemerintah sekarang begitu concern untuk membangun koperasi di Indonesia. “Perhatian pemerintah begitu besar dalam memajukan koperasi di Indonesia, termasuk bagaimana koperasi bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengembangkan bisnis perkoperasian,” urai Neddy.

Ia juga berkeyakinan koperasi di Indonesia bisa menjadi besar. Dicontohkan, di luar negeri, bank-bank terbesar itu sejatinya adalah koperasi. Demikian juga banyak lahir perusahaan besar dari koperasi, seperti Wal Mart.

Kemajuan koperasi juga dipengaruhi oleh sejauhmana perhatian pemerintah lokal dalam memberi dukungan dan kemudahan. “Belum semua pemerintah daerah memberi perhatian intens terhadap pertumbuhan koperasi di daerahnya,” cetus Neddy.

Salurkan KUR

Ditanya soal KUR, dengan penuh semangat Neddy menerangkan, subsidi KUR itu sebetulnya diberikan kepada orang yang diberi kredit. Dia mencontohkan, bunga KUR sekarang 9 persen, kalau di pasaran bunganya 16 persen, maka sisanya disubsidi oleh pemerintah dari APBN.

Sekarang ini hanya bank-bank besar yang menyalurkan KUR, padahal harusnya koperasi yang diberikan wewenang sebagai penyalur. “Ada banyak koperasi simpan pinjam (KSP) yang selama ini berperan sebagai lembaga keuangan pemberi kredit, tentu bisa diberdayakan dengan ikut menyalurkan KUR. Nah, subsidi itu bisa diberikan kepada koperasi tersebut,” tandasnya.

Dengan begitu, maka peran koperasi akan semakin kuat. Soal bunga koperasi yang lebih tinggi dari bank, menurut Neddy, itu bisa diskemakan. Kalau pun ada koperasi yang menyalurkan KUR sekarang, tapi subsidinya tetap masuk ke bank. “Berani tidak pemerintah mempercayakan penyaluran KUR ke koperasi, tapi subsidinya juga masuk ke koperasi tersebut. Padahal, dari sisi pendistribusian KUR lebih mudah koperasi karena sudah memiliki keanggotaan yang jelas dibandingkan perbankan,” tantang Neddy.

Koperasi Copreneur

Di masa sekarang ini, Neddy menilai koperasi harus menjadi copreneur, di mana koperasi tersebut benar-benar menjiwai semangat enterpreneur yang kreatif, mandiri, cerdas, dan sebagainya. Bersamaan dengan itu, koperasi juga menjadi ladang untuk mengembangkan para anggotanya menjadi enterpreneur-enterprenur yang tangguh.

“Kalau semua anggota koperasi punya usaha dan menjadi besar, tentu bisa menjadi tulang punggung perekonomian di wilayahnya,” yakin Neddy seraya mengimbau jangan hanya berpikir cukup menjadi anggota koperasi dan mengharapkan sisa hasil usaha (SHU) di akhir tahun saja.

Harusnya, kata Neddy, ketika seseorang menjadi anggota koperasi, maka selain bisa mengatasi masalah permodalan, tapi bisa benar-benar orang itu tumbuh menjadi enterpreneur. Jika terjadi demikian, maka akan tercipta simbiosis mutualistik antara koperasi dengan anggotanya.

Neddy mengusulkan salah satu visi-misi koperasi sekarang ini harus dimasukkan membangun enterpreneur-enterpreneur yang tangguh dan berhasil. Dengan begitu, maka koperasi pun bisa tumbuh menjadi sehat dan kuat karena ditopang oleh anggota-anggotanya yang berhasil dalam usahanya. (RN)