Bekasi, innews.co.id – Bukannya senang setiap kali ia berkunjung ke pasar-pasar tradisional. Yang ada keprihatinan melihat kondisi pasar serta para pedagang.

Hal itu nampak dari dahinya yang berkenyit ketika ditanya pandangannya tentang kondisi pasar-pasar sesaat ia berkunjung ke Pasar Kranji Baru, Bintara, Bekasi, Jumat (2/11).

Nina Rozalinda, peduli para pedagang pasar

“Pasar itu dibuat untuk tempat berjual-beli dan berinteraksi warga masyarakat. Kenapa kebersihan dan kenyamanannya seperti diabaikan,” ujar Nina Rozalinda Ramschie calon anggota legislatif (DPR RI) dari Partai Gerindra untuk daerah pemilihan Jawa Barat VI yang meliputi Kota Bekasi dan Depok, nomor urut 6 ini.

Ia tampak miris melihat kondisi Pasar Kranji Baru yang becek serta banyak sampah di mana-mana.

Nina yang didampingi sejumlah pengurus Srikandi Untuk Rakyat (SIRA) ini mengaku prihatin dengan kondisi seperti itu.

Nina Rozalinda rajin turun ke masyarakat

Pemandangan berbeda ia sempat temui ketika berkunjung ke Pasar Depok Jaya, Sabtu (27/10) lalu, di mana pasarnya lebih tertata rapih, pun sampah tidak berserakan.

“Kebersihan serta penataan pasar yang baik harus menjadi perhatian. Bukan dibiarkan pasar tradisional itu menjadi kumuh,” serunya.

Tentu, bila dirinya duduk sebagai senator, penataan pasar akan menjadi salah satu program di dapilnya. “Sekalipun pasar tradisional, harusnya bersih dan tertata rapih. Ada bagian sayur sendiri, daging sendiri, jadi di kluster,” urai Nina memberi solusi.

Menurutnya, pasar tradisional tidak boleh kalah bersaing dari pasar modern. Namun, kebersihan dan kenyamanannya harus diperhatikan.

Pada kesempatan kunjungannya, Nina juga mencoba menyerap aspirasi dari para pedagang.

“Hampir seluruh pedagang mengeluhkan soal harga yang terus berfluktuasi. Karena jelas ini juga merugikan pedagang. Mereka merindukan perubahan, di mana kestabilan harga terjamin sehingga mereka bisa berjualan dengan lancar,” ujar Nina.

Nina Rozalinda (kedua dari kiri) bersama rekan-rekan di SIRA

Menurut Nina, semakin ia turun ke masyarakat, suara-suara yang menghendaki perubahan itu kian nyaring terdengar.

“Di satu sisi saya terenyuh setiap kali melihat realita dan mendengar keluhan-keluhan dari masyarakat. Di sisi lain saya menangkap aroma gerakan perubahan kian menguat,” tukas Nina mengakhiri perbincangan. (RN)