Bandung, innews.co.id – Pita Putih Indonesia (PPI) terus merambah ke berbagai daerah di Indonesia dalam rangka membantu pemerintah melakukan penguatan kapasitas katalisator dalam rangka optimalisasi gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) dan pencegahan stunting.

Seperti yang dilakukan hari ini, Senin (29/10) di Hotel Amaroza, Bandung, Jawa Barat. Ketua Umum PPI Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., menghadiri acara tersebut sekaligus memberi arahan kepada para peserta.

Dalam sambutannya, Giwo Rubianto mengatakan, PPI membantu pemerintah dalam upaya meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.

“Sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Germas, kita harapkan lintas sektor bisa membuat kebijakan (regulasi) yang dapat mendukung implementasi Germas. Sehingga Germas tidak hanya menjadi slogan, tapi menjadi aksi bersama,” seru Giwo.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., tengah diwawancarai

Lanjut Giwo.menerangkan derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor yakni, perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan keturunan.

Faktor ‘perilaku’ dan ‘lingkungan’ memegang peran lebih dari 75 persen dari kondisi derajat kesehatan masyarakat.

Saat ini, Kementerian Kesehatan melalui Ditjen Kesehatan Masyarakat mengindentifikasi adanya fenomena pola hidup tidak sehat di kalangan masyarakat.

Berdasarkan data Riskesdas 2007 & Riskesdas 2013, ada sejumlah faktor risiko perilaku kesehatan yang terjadi, yakni penduduk kurang aktivitas fisik (26,1%), perilaku merokok penduduk sejak usia dini (36,3%), penduduk >10 tahun kurang konsumsi buah dan sayur (93,5%), penduduk >10 th minum minuman beralkohol.

Perbaikan lingkungan dan perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat perlu dilakukan secara sistematis dan terencana oleh semua komponen bangsa

Giwo menerangkan, Germas menjadi landasan utama yang untuk mencegah terjadinya stunting.

Data Kementerian Kesehatan RI, 2017, menyebutkan ada 9 juta anak menderita stunting.

“Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita, akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan dari bayi di dalam kandungan sampai usia 2 tahun sehingga perkembangan anak pada usianya lambat,” urai Giwo.

Kondisi kekurangan gizi sudah terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir, dan ini merupakan investasi jangka panjang. Kurang gizi pada masa balita dan tidak adanya pencapaian perbaikan pertumbuhan yang sempurna pada masa berikutnya menjadikan anak stunting.

Tidak hanya gizi, lingkungan juga berpengaruh. Ia mencontohkan, gizi sudah tercukupi, namun air di lingkungan masyarakat tidak sehat, tidak ada air bersih, dan sanitasi tidak layak, mengakibatkan anak jadi sering sakit.

Giwo juga menambahkan bahwa pertemuan ini merupakan kerjasama antara APPI dengan Pusat Promkes Dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI. Melanjutkan Program Yang Telah Kita Kerjakan Gebyar Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Di Provinsi Jawa Barat, 2017 lalu.

APPI atau Aliansi Pita Putih Indonesia adalah organisasi masyarakat yang membantu Pemerintah dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu dan meningkatkan kesehatan bayi.

Ini sejalan dengan visi APPI yakni, terwujudnya keselamatan dan kesehatan ibu hamil melahirkan, nifas, bayi baru lahir dan anak. (RN)