Otty H.C. Ubayani, secara langsung menghadiri penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada Puan Maharani Ketua DPR RI di Undip, Semarang, Jumat (14/2/2020)

Semarang, innews.co.id – Pidato Ketua DPR Puan Maharani Nakshatra Kusjala Devi bertajuk “Kebudayaan sebagai Landasan Utama Membangun Manusia Indonesia Berpancasila Menuju Masyarakat 5.0” yang disampaikan pada penganugerahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, Jumat (14/2/2020), menuai pujian dari banyak pihak.

Ketua Umum Ikatan Alumni Notariat (Ikanot) Undip Otty H.C. Ubayani, SH., MH., Sp.N., menyebutnya sebagai gambaran Indonesia masa depan. “Kemajuan zaman sejatinya tidak menggerus budaya yang sudah menjadi landasan bangsa sejak dulu,” kata Otty.

Otty Hari Chandra Ubayani Ketua Umum IKANOT UNDIP bersama Dr (HC) Puan Maharani Ketua DPR RI, usai penganugerahan gelar kehormatan doktor honoris causa di Undip, Semarang, Jumat (14/2/2020)

Untuk itu, lanjutnya, apa yang disampaikan Puan sangat pas dan relevan dengan bangsa Indonesia di masa depan. “Rasanya mbak Puan telah memberikan pemikiran strategis mengenai Indonesia kedepan. Harusnya ini menjadi perhatian dan pergumulan kita bersama,” kata Otty.

Dalam pidatonya, Puan berfokus pada pemikiran menjadikan kebudayaan sebagai landasan utama kebijakan publik untuk membangun manusia Indonesia yang memiliki kepribadian Pancasila.

“Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sesungguhnya tidak kalah lengkap dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin dikembangkan dalam Masyarakat 5.0 di negara-negara maju,” kata Puan.

Menurutnya, hal yang paling mendasar yaitu bagaimana masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila mampu memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan rakyat.

Otty H.C. Ubayani (kedua dari kanan) puji pidato Puan Maharani

Puan menilai, merealisasikan idealisme ke dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan. Hal ini tentu saja tidak lepas dari pemfungsian kebudayaan nasional sesuai dengan pemikiran ahli kebudayaan bahwa kebudayaan memiliki arti penting dalam pembangunan manusia.

“Kebudayaan mampu membentuk karakter manusia lebih memanusiakan manusia. Kebudayaan memiliki kemampuan untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik dan berperikemanusiaan. Kebudayaan dapat membentuk identitas suatu masyarakat, dan mampu mempererat solidaritas sosial,” lanjut Puan.

Sesungguhnya, pengarusutamaan kebudayaan nasional untuk pembangunan manusia telah dilakukan sejak awal kemerdekaan hingga zaman Bung Karno dan hingga masa Orde Baru. “Namun demikian tekanan-tekanan kapitalisme telah menggeser arus utama tersebut,” katanya.

Ada 3 poin yang perlu dilakukan, pertama, melakukan reorientasi cara pandang dalam melihat dan memfungsikan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kebudayaan Indonesia harus dipandang, ditempatkan, dan difungsikan sebagai landasan untuk memanusiakan manusia Indonesia.

Otty Ubayani dan Nadrah turut menghadiri langsung penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada Puan Maharani di Undip, Semarang, Jumat (14/2/2020)

Kedua, negara harus diberdayakan untuk mampu menjamin terlaksananya pembangunan manusia Indonesia yang berkebudayaan Indonesia. Bukan manusia Indonesia yang berkebudayaan lain.
Segala upaya harus dilakukan untuk melestarikan dan sekaligus mengembangkan kebudayaan Indonesia sebagai landasan untuk membangun insan Indonesia yang berpancasila.

Ketiga, upaya negara yang harus diberdayakan agar memiliki otoritas guna penerapan kebijakan publik khususnya di bidang kebudayaan yang mampu menyentuh sendi-sendi paling mendasar dalam kehidupan masyarakat baik dalam pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan etika, ekonomi, dan sosial.

“Melalui eksekusi kebijakan publik inilah tataran filosofis-teoretik kebudayaan dapat diwujudkan sebagai landasan utama dalam rangka membangun manusia Indonesia yang berbudaya Indonesia guna mewujudkan masyarakat Indonesia 5.0 sebagaimana yang sudah dirintis di negara-negara maju,” pungkas Puan. (RN)