Otty Ubayani tampil bersama para notaris di acara Seminar dan Diskusi Interaktif bertajuk Pembuatan Akta Perjanjian Kredit Ditinjau Dari Jenis-jenis Fasilitas Kredit Berikut Problematikanya Seputar Pemberian Jaminan Kredit Dalam Praktik Perbankan di Era 4.0, yang diadakan di Abimantrana Ballroom The Wujil Resort & Conventions, Unggaran, Semarang, Selasa (19/11/2019)

Semarang, innews.co.id – Tidak semua pengusaha paham seluk-beluk mengenai perjanjian kredit. Disinilah para notaris bisa memainkan peran, tidak hanya sebatas pejabat umum, tapi juga sebagai konsultan.

Penegasan ini disampaikan Otty Hari Chandra Ubayani, SH., Sp.N., MH., Ketua Umum Yayasan Komunitas Cendekiawan Hukum Indonesia (YKCHI), dalam Seminar dan Diskusi Interaktif bertajuk Pembuatan Akta Perjanjian Kredit Ditinjau Dari Jenis-jenis Fasilitas Kredit Berikut Problematikanya Seputar Pemberian Jaminan Kredit Dalam Praktik Perbankan di Era 4.0, yang diadakan di Abimantrana Ballroom The Wujil Resort & Conventions, Unggaran, Semarang, Selasa (19/11/2019).

Otty H.C. Ubayani memberikan pemaparan terkait perjanjian kredit di acara Seminar dan Diskusi Interaktif bertajuk Pembuatan Akta Perjanjian Kredit Ditinjau Dari Jenis-jenis Fasilitas Kredit Berikut Problematikanya Seputar Pemberian Jaminan Kredit Dalam Praktik Perbankan di Era 4.0, yang diadakan di Abimantrana Ballroom The Wujil Resort & Conventions, Unggaran, Semarang, Selasa (19/11/2019)

Otty menjelaskan, kredit yang diberikan oleh Kreditur, mengharuskan Kreditur merasa aman, yaitu dengan memberikan jaminan. Salah satu objek jaminan yang saat ini berlaku adalah jaminan fidusia, dimana objek tersebut adalah benda bergerak.

Bagi Kreditur, kata Otty, dengan jaminan fidusia, tidak menutup kemungkinan akan muncul permasalahan-permasalahan hukum karena objek fidusianya tetap berada dalam tangan debitur, dalam hal ini adalah persediaan barang dagangan (inventory).

Otty H.C. Ubayani bersama Firdhonal sebagai narasumber

Untuk itu, lanjutnya, pelaku usaha yang memberikan layanan pinjam-meminjam harus mengetahui secara jelas mengenai peraturan perundang-undangan yang baru dan perlu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pinjaman kredit kepada calon Debitur.

Kepada para pelaku usaha Otty mengingatkan, untuk jeli mengenai aset-aset atau harta yang dijaminkan oleh calon Debitur. Selain itu, pelaku usaha perlu mengetahui bagaimana menyelesaikan kredit bermasalah, cara penyelesaian sengketa perjanjian kredit melalui kepailitan, eksekusi jaminan, maupun restrukturisasi kredit.

Pemberian plakat kepada Otty sebagai narasumber

“Dalam implementasinya, Hukum Jaminan sendiri memiliki banyak aspek penting yang patut dipelajari dan diperhatikan secara seksama, terutama dalam aspek teknis. Belum lagi kita membahas klausul penting di dalam suatu Perjanjian Kredit yang mana membutuhkan pengetahuan lebih agar terhindar dari permasalahan,” urai Otty.

Berbagi ilmu, pengabdian tulus Otty Ubayani

Otty menambahkan, peran notaris sebagai Pejabat Umum yang membuat akta-akta otentik sangat dibutuhkan dalam kegiatan usaha perbankan, salah satunya adalah dalam pembuatan akta perjanjian kredit perbankan yang melibatkan nasabah dan bank, guna menjamin kebenaran dari isi yang dituangkan dalam perjanjian kredit perbankan tersebut, supaya secara publik kebenarannya tidak diragukan lagi.

Otty Ubayani bagikan ilmu paripurnakan pengabdian

Ditegaskannya, peran notaris tak hanya sebatas pejabat umum pembuat akta otentik, tapi notaris juga berperan memberi penyuluhan mengenai hukum yang berhubungan dengan perjanjian kredit tersebut, notaris juga berperan dalam penyusunan isi dari akta perjanjian kredit tersebut dengan memberikan masukan- masukan guna kepentingan para pihak.

Otty Ubayani (ketiga dari kiri) bersama para notaris di Semarang

Hambatan-hambatan yang ditemui notaris, menurut Otty, dalam pembuatan akta perjanjian kredit adalah mengenai adanya permasalahan keseimbangan kedudukan para pihak, terbatasnya waktu dan keabsahan jaminan yang diajukan debitur kepada kreditur.

Otty Ubayani bersama para notaris di Jawa Tengah

Dalam acara tersebut, Otty kelihatan buka-bukaan mengenai berbagai persoalan dan solusinya. “Saya tidak mau setengah-setengah dalam mentransformasi ilmu agar pengetahuan yang diperoleh bisa paripurna,” pungkas Otty. (RN)